Category Archives: PESTISIDA NABATI

BUDIDAYA PISANG


BUDIDAYA PISANG

 

  1. A.      PENDAHULUAN

             Di Indonesia, pisang menduduki tempat pertama diantara jenis buah-buahan lainnya, baik dari sisi sebaran, luas pertanaman, maupun dari sisi produksinya. Namun demikian, secara umum produktivitas pisang yang dikembangkan masyarakat masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 10-15 ton/ha. Padahal, potensi produktivitasnya bisa mencapai 35-40 ton/ha. Kesenjangan produktivitas tersebut terutama disebabkan karena teknik budidaya yang tidak tepat dan tingginya gangguan hama dan penyakit, terutama oleh serangan dua penyakit paling berbahaya dan mematikan, yaitu layu bakteri atau penyakit darah dan penyakit layu fusarium.

Peluang pengembangan agribisnis komoditas pisang masih terbuka luas. Untuk keberhasilan usahatani pisang, selain penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul dan perbaikan varietas harus dilaksanakan. Varietas unggul yang dimaksud adalah varietas yang toleran atau tahan terhadap hama dan penyakit penting pisang, mampu berproduksi tinggi, serta mempunyai kualitas buah yang bagus dan disukai masyarakat luas.

 

  1. B.       SYARAT TUMBUH

             Tanaman pisang dapat tumbuh di daerah tropis, baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian tidak lebih dari 1.600 m di atas permukaan laut (dpl). Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 27°C, dan suhu maksimumnya 38°C, dengan keasaman tanah (pH) 4,5-7,5. Curah hujan yang optimum untuk pertumbuhan tanaman pisang berkisar antara 2000-2500 mm/tahun atau paling baik 100 mm/bulan. Apabila suatu daerah mempunyai bulan kering berturut-turut melebihi 3 bulan, maka tanaman pisang memerlukan tambahan pengairan agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.

 

  1. C.      TEKNOLOGI BUDIDAYA
    1. 1.    Pembibitan

            Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usahatani pisang adalah tersedianya bibit yang berkualitas, yaitu bibit yang bebas hama dan penyakit, serta sehat. Selain itu, jumlahnya harus cukup dan jenis pisangnya sesuai dengan yang diinginkan.

Untuk menyediakan bibit pisang, dapat memanfaatkan rumpun pisang yang sehat. Bibit bisa diperoleh dari tunas, anakan, bonggol, dan bit yang diperbanyak secara tradisional maupun kultur jaringan. Teknologi pembibitan dengan kultur jaringan memerlukan biaya investasi awal yang besar, sehingga pembibitan secara sederhana dipandang masih layak untuk diterapkan.

 

Ada tiga macam cara perbanyakan bibit pisang secara sederhana, yaitu :

  1. a.    Perbanyakan dengan anakan
  • Bibit ini berasal dari pemisahan anakan untuk langsung ditanam di kebun. Bahan yang paling baik digunakan adalah anakan pedang (tinggi 41-100 cm), daunnya berbentuk seperti pedang dengan ujung runcing. Anakan rebung (24-40 cm) kurang baik jika ditanam langsung, karena bonggolnya masih lunak dan belum berdaun, sehingga mudah mengalami kekeringan. Sedangkan anakan dewasa (tinggi > 100 cm) terlalu berat dalam pengangkutan dan kurang tahan terhadap cekaman lingkungan, karena telah memiliki daun sempurna.
  • Bibit anakan setelah dipisahkan harus langsung ditanam. Jika terlambat akan meningkatkan serangan hama penggerek dan kematian di kebun. Apabila pada saat tanam kekurangan air dalam waktu yang cukup lama, bibit akan layu dan mati bagian batangnya, tetapi bonggol yang tertimbun dalam tanah masih mampu untuk tumbuh dan memulai pertumbuhannya kembali, membentuk bonggol baru di atas bonggol yang lama.
  • Untuk menghindari kejadian tersebut, sebelum menanam, anakan dipotong 5 cm di atas leher bonggol dan cara menanamnya ditimbun 5 cm di bawah permukaan tanah.

 

  1. b.   Perbanyakan dari bit anakan/mini bit

Bahan yang digunakan adalah anakan pisang yang berdiameter 7-12 cm atau tingginya 40-150 cm (anakan pedang sampai anakan dewasa).

Cara membuatnya adalah sebagai berikut :

  • Pemisahan anakan dari rumpun dilakukan dengan hati-hati menggunakan linggis, sehingga kondisi bonggol masih utuh.
  • Bonggol dibersihkan dari akar dan tanah yang menempel, kemudian dipotong 1 cm di atas leher bonggol. Titik tumbuh di pusat bonggol dikorek dengan lebar dan dalam ± 3 cm menggunakan pisau yang runcing dan bersih.
  • Rendam dalam air hangat dengan suhu 55°C yang telah dicampur fungisida dengan dosis 2 gr/liter air selama 15 menit, kemudian ditiriskan. Untuk menghindari serangan hama pada saat perendaman, dapat juga disertai pemberian insektisida sesuai dosis yang dianjurkan.
  • Untuk merangsang munculnya tunas, bonggol disemai dalam bedengan, disusun secara berjajar dengan bagian titik tumbuh tetap mengarah ke atas. Masing-masing bonggol diberi jarak 5 cm, kemudian ditimbun dengan campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang setebal ± 5 cm. Penimbunan dilakukan selama 3-5 minggu atau sampai tumbuh tunasnya. Selama penimbunan, perlu dijaga kelembabannya dengan penyiraman setiap hari, terutama bila tidak ada hujan.
  • Bila tunas telah tumbuh dan telah mempunyai 1-2 lembar daun, bonggol diangkat dari timbunan, kemudian dibelah searah membujur dari permukaan atas bonggol sampai dasar sebanyak tunas yang tumbuh. Bila bonggol terlalu besar dapat dikurangi dengan menipiskan potongan di kiri dan kanan tunas.
  • Tunas hasil belahan (bit) disemai di polybag ukuran 20 cm x 30 cm, yang berisi media tanam campuran tanah dan pupuk kandang (1:1), kemudian diletakkan di tempat teduh/naungan.
  • Setelah berumur 1 bulan, bibit dipindahkan ke tempat terbuka, dan siap ditanam di lapang setelah bibit berumur 2 bulan.
  • Perawatan yang utama adalah penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah. Pemupukan dilakukan 2 minggu sekali dengan menggunakan Urea 2 gr/liter air dengan cara dikocor.

 

 

 

 

 

  1. c.    Bonggol dari tanaman yang sudah dipanen
  • Bonggol diangkat dari tanah dengan hati-hati agar mata tunas tidak rusak. Kemudian dibersihkan dari akar dan tanah yang menempel.
  • Bonggol kemudian dipotong dengan ukuran 10 cm x 10 cm menurut jumlah mata tunas. Kemudian direndam dalam air hangat  dengan suhu 55°C yang telah dicampur fungisida dengan dosis 2 gr/liter air selama 15 menit, kemudian ditiriskan.
  • Bit setelah ditiriskan kemudian ditanam di polybag ukuran 20 cm x 30 cm yang berisi media tanah dan pupuk kandang 1:1. Setelah ditanam, benih diletakkan di tempat teduh/naungan selama 1 bulan, dan pada bulan kedua diletakkan di tempat terbuka.
  • Perawatan yang diperlukan adalah penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah. Pemupukan dapat diberikan melalui pengocoran larutan pupuk Urea dengan konsentrasi 2 gr/liter air setiap 2 minggu.
  • Bibit ditanam di kebun pada umur 3-4 bulan setelah semai.

 

  1. d.   Perbanyakan Benih Pisang Dengan Bonggol
  • Pilihlah anakan dengan bonggol berukuran 15 – 20 cm dari tanaman induk yang sehat, berproduksi tinggi dan mutunya bagus.
  • Potong anakan lebih kurang 5 cm di atas bonggol dan buang semua bekas pelepah daun.
  • Buat lubang sedalam 4 cm dan diameter 2cm tepat di bagian tengah bonggol.
  • Tunas-tunas yang tumbuh dari bonggol yang diperlakukan merupakan generasi kedua (G-2S).
  • Tiga bulan setelah tumbuh bonggol (G-3S) tunas sudah berukuran lebih kurang 15 cm dan sudah dapat diperlakukan lagi seperti pada anakan generasi pertama (dipotong batangnya,dibuang tunasnya) untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas yang baru.
  • Prosedur di atas dapat diulangi lagi sampai menghasilkan generasi keempat (G-4 S).
  • Tunas generasi keempat yang berukuran 10 – 15 cm dapat dipindahkan ke pot atau polybag dan lakukan perawatan sebagaimana mestinya.
  • Benih dipupuk dengan NPK  dengan dosis 5 gram per benih setelah benih dipindahkan ke polybag dan berumur 1 bulan.

 

  1. 2.         Persiapan Lahan

            Lahan dibersihkan dari sisa tanaman, kemudian siapkan lubang tanam ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm, sekitar 2 minggu hingga 1 bulan sebelum tanam. Tanah lapisan atas dipisah dengan tanah lapisan bawah. Penutupan lubang tanam dilakukan dengan memasukkan tanah lapisan bawah terlebih dahulu.

 

 

 

 

 

 

  1. 3.         Waktu Tanam

            Menanam pisang sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, agar terhindar dari kekeringan pada awal pertumbuhan dan buah sudah siap dipanen pada saat masuk musim kemarau.

Idealnya, untuk mendapatkan produksi dan kualitas buah yang baik, penanaman pisang dilakukan 2 tahap (setahun 2 kali) dengan selisih penanaman 6 bulan. Penanaman pertama menggunakan jarak tanam yang lebar (misalnya 4 m x 4 m), kemudian penanaman tahap kedua dilakukan diantara jarak tanam yang telah ditanam. Hal ini bertujuan untuk dapat mengatur waktu panen dan pembongkaran tanaman pada tahun ke-5, 9, 13, dan 17 yang memungkinkan masih adanya panen karena penanaman yang tidak serempak.

 

  1. 4.         Penanaman

            Bila hujan telah turun dengan teratur, lakukan penanaman. Sebaiknya penanaman dilakukan pada sore hari agar bibit mendapatkan udara yang sejuk dan tidak langsung mendapatkan cahaya matahari. Lubang tanam yang telah ditimbun, digali seluas gumpalan tanah yang menutup media bibit pisang. Buka polybag bagian bawah, setelah itu bagian samping secara hati-hati. Letakkan bibit pisang secara tegak lurus. Tutup lubang tanam dengan tanah galian dan tekan sedikit disamping tanah bekas polybag, selanjutnya siram bibit secukupnya.

Jarak tanam sesuai dengan jenis pisang. Untuk jenis pisang Bas dan Barangan, jarak tanam yang digunakan adalah 2 m x 2 m. Untuk jenis pisang Ambon, Cavendish, Raja Sereh, dan Raja Nangka jarak tanam yang digunakan adalah 3 m x 3 m. Jenis pisang Kepok dan Tanduk menggunakan jarak tanam 3 m x 3 m atau 3 m x 3,5 m. Pemberian pupuk kandang pada lubang tanam dilakukan 1-2 minggu sebelum tanam.

 

  1. 5.         Pemupukan

            Sebelum penanaman, lubang tanam diberi pupuk kandang sebanyak 10 kg/lubang, dan dibiarkan selama 1-2 minggu.

Pupuk kimia yang diberikan meliputi:

–       Urea      : 350 kg

–       SP36      : 150 kg           per hektar per tahun

–       KCl       : 150 kg

              atau

–       Urea      : 0,233 kg

–       SP36      : 0,10 kg          per hektar per tahun

–       KCl       : 0,10 kg

per tanaman. Untuk tanaman yang baru ditanam, pemupukan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu ¼ bagian saat tanam dan sisanya dibagi 2, yaitu pada umur 3 bulan dan 6 bulan. Pupuk diletakkan pada alur dangkal berjarak 60-70 cm dari tanaman, dan ditutup tanah. Sedangkan untuk tanaman berumur 1 tahun atau lebih, pupuk diberikan 2 kali, yaitu pada awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan.

 

 

 

 

  1. 6.         Pemberian Agensia Hayati Antagonis

            Untuk pencegahan terhadap serangan penyakit layu, terutama yang disebabkan oleh jamur Fusarium, tanaman pisang dapat diberi agensia hayati, seperti Trichoderma sp dan Gliocladium sp. Cara pengembangannya yaitu 250 g agensia hayati (misal : Gliokompos) dicampur dengan 25 kg pupuk kandang mentah, diaduk hingga merata. Dibiarkan selama 10-15 hari di udara terbuka, dan tiap hari diaduk agar udara dapat masuk ke bagian dalam tumpukan pupuk kandang. Untuk pengembangan selanjutnya, campuran yang telah dibuat dapat dicampur lagi dengan pupuk kandang sebanyak 500 kg dan dibiarkan selama 2 minggu hingga 1 bulan di tempat teduh dalam keadaan lembab.

Pemberian di lapangan disesuaikan dengan dosis pupuk kandang, yaitu 10 kg/lubang tanam dicampur dengan tanah bekas galian lubang. Pemberian selanjutnya dilakukan pada saat tanaman berumur 3 dan 6 bulan, dengan cara menaburkannya di sekitar tanaman, dengan dosis 0,5 kg/tanaman.

 

  1. 7.         Pemangkasan

            Pemangkasan daun yang kering bertujuan untuk pencegahan penularan penyakit, mencegah daun-daun yang tua menutupi anakan, dan melindungi buah dari goresan daun. Pada saat pembungaan, setidaknya ada 6-8 daun sehat agar perkembangan buah menjadi maksimal. Setelah pemangkasan bunga jantan, sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan daun lagi. Daun bekas pemangkasan dari tanaman sakit dikumpulkan dan dibakar. Selanjutnya alat pemangkas disterilkan dengan desinfektan, misalnya menggunakan Bayclean atau alkohol.

 

  1. 8.         Penyiangan

            Pengendalian gulma secara mekanis terutama dilakukan pada saat tanaman berumur 1 sampai 5 bulan. Setelah berumur 5 bulan, pengendalian dapat dikurangi karena kanopi tanaman dapat menekan pertumbuhan gulma. Pada saat tersebut, pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida. Penyiangan dilakukan dengan selang waktu 2-3 bulan.

Pada daerah yang pernah terserang penyakit layu, penyiangan dianjurkan menggunakan herbisida dan tidak dianjurkan menggunakan cangkul atau kored, untuk mencegah penularan penyakit karena kontak dengan alat.

 

  1. 9.         Penjarangan Anakan

            Penjarangan anakan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi jumlah anakan, menjaga jarak tanam, dan menjaga agar produksi tidak menurun. Penjarangan anakan dilakukan dengan memelihara 1 tanaman induk (umur 9 bulan), 1 anakan (umur 7 bulan), dan 1 anakan muda (umur 3 bulan), dilakukan rutin setiap 6-8 minggu. Anakan yang dipilih atau disisakan adalah anakan yang terletak pada tempat yang terbuka dan yang terletak diseberangnya.

Setelah 5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru

 

 

 

 

  1. 10.     Perawatan Tandan

            Perawatan tandan dilakukan dengan membersihkan daun di sekitar tandan, terutama daun yang sudah kering. Selain itu, membuang buah pisang yang tidak sempurna, yang biasanya pada 1-2 sisir terakhir, dan diikuti dengan pemotongan bunga jantan, agar buah yang berada di atasnya dapat tumbuh dengan baik. Buah juga perlu dibungkus/dikerodong dengan kantong plastik warna biru ukuran 1 m x 45 cm. Hal ini dilakukan untuk melindungi buah dari kerusakan oleh serangga atau karena gesekan daun. Setelah dibungkus, tandan yang mempunyai masa pembuahan yang sama dapat diberi tanda (misalnya dengan tali rafia warna yang sama). Hal ini untuk menentukan waktu panen yang tepat, sehingga umur dan ukuran buah dapat seragam.

 

  1. D.      HAMA DAN PENYAKIT
    1. 1.    Hama
      1. a.    Ulat daun (Erienota thrax.)

Bagian yang diserang adalah daun.

Gejala:

Daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.

Pengendalian:

Dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.

  1. b.   Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)

Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang.

Gejala:

Lorong-lorong keatas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian:

Sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit

yang telah disucihamakan.

  1. c.    Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).

Bagian yang diserang adalah akar.

Gejala:

Tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak.

Pengendalian:

Gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan

dengan kadar lempung kecil.

  1. d.   Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)

Bagian yang diserang adalah bunga dan buah.

Gejala:

Pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.

Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.

 

 

 

 

 

  1. 2.    Penyakit
    1. a.    Penyakit darah

Penyebab:

Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam.

Gejala:

Jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.

Pengendalian:

Dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

  1. b.   Panama

Penyebab:

Jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.

Gejala:

Daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.

Pengendalian:

Membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

Advertisements

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS


TEHNOLOGI SEDERHANA

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS

 

  Untuk petani yang tinggal di daerah dataran tinggi (pegunungan) khususnya yang membudidayakan kubis siapa yang tidak kenal dengan Dipel, Xentari, Turex atau nama dagang yang lain. Insektisida tersebut sangat ampuh mengendalikan hama ulat kubis baik Crocidolomia binotalis atau Plutella xylostella. Bioinsektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut keampuhannya bisa mengalahkan insektisida kimia berbahan aktif golongan piretroid sintetik, karbamat maupun organophospat. Kali ini akan kami sajikan tips tentang Teknologi Sederhana Mengembangkan Dipel yang berbahan aktif Bacillus Thuringiensis

 

Kenapa harus Dipel ?

Karena Dipel adalah bioinsektisida yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis subsp. kurtaki yang secara alami mampu membunuh ulat serangga pengganggu dan pemakan daun namun aman bagi serangga lain, burung, ikan atau hewan berdarah panas. Karena berbahan aktif mikroorganisme maka bioinsektisida tersebut bisa dikembangkan tanpa mengurangi kekuatan daya kendalinya (efikasinya). Dipel merupakan insektisida biologis yang bekerja sebagai racun lambung, sehingga jika dimakan oleh ulat Bacillus thuringiensis akan bekerja menjadi racun perut si ulat tersebut.

 

Bahan dan alat untuk mengembangkan Bacillus thuringiensis    :

  1. Starter Bacillus thuringiensis   : à menggunakan Bioinsektisida Dipel 10 gram
  2. Limbah cair tahu                      : 10 liter
  3. Onggok tapioka                         : 5 kg
  4. Kapur                                            : 1 sendok makan
  5. Air steril                                      : 1 liter
  6. Ember
  7. Pengaduk

 

Cara Pembuatan :

  1. Campurkan bahan no 2, 3, 4 à rebus hingga mendidih dan diamkan sampai dingin (sebagai media).
  2. Larutkan 10 gram bubuk  Dipel dalam 1 liter air steril (sebagai starter) à campurkan dengan media yang telah dingin tadi à simpan anaerob selama 3 x 24 jam
  3. Rebus semua bahan tersebut dengan panas maksimal 50°C hingga menjadi bubuk.

 

Cara penggunaan biakan Dipel :

  1. Larutkan 1 gram bubuk biakan Dipel / 1 liter air à semprotkan pada sore hari.
  2. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya dicampur dengan perekat.
  3. Menurut informasi biakan Bacillus thuringiensis tersebut kekuatan toksisitasnya bisa 27 kali dibanding Dipel produk komersial.

 

Tidak ada salahnya kalau maspary mengajak rekan-rekan petani untuk mencoba menghemat pengeluaran usaha tani kita dengan mengembangkan Bacillus thuringiensis (Dipel), karena biakan tersebut secara alami mampu mengontrol ulat dan serangga pengganggu, mempunyai daya toksisitas terhadap serangga sasaran lebih tinggi 27 kali dari produk komersial,  bahan baku mudah dan murah, proses pembuatan yang sederhana, ramah lingkungan dan tidak mengandung unsur kimiawi. Cuma sayang dilapangan bioinsektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut belum berkembang didataran rendah. Apa mungkin ada pengaruh suhu terhadap efektifitas BT (Bacillus thuringiensis ) atau mungkin alasan yang lain, kurang tahu juga. Jika ada pembaca yang ada informasi silahkan tulis di kolom komentar.

CARA SEDERHANA MEMBUAT PEREKAT PESTISIDA


MEMBUAT PEREKAT

Salam Pertanian !! Sebelum maspary membahas tentang cara mudah membuat perekat pestisida, sebaiknya rekan-rekan  Gerbang Pertanian mengetahui dulu apa sebenarnya fungsi penambahan perekat pestisida pada larutan pestisida atau pupuk daun yang akan kita aplikasikan ke tanaman. Sebenarnya beberapa waktu lalu hal tersebut telah maspary tulis di blog Gerbang Pertanian, tetapi nggak ada salahnya kalau kita ulas lagi.

Secara umum fungsi dari perekat pestisida adalah untuk membantu menyebarkan, menempelkan dan meratakan larutan pestisida yang kita aplikasi pada tanaman. Tetapi fungsi dari perekat secara lebih rinci atau spesifik dapat dilihat dibawah ini :

Fungsi perekat pestisida yang utama menurut maspary adalah:

  1. Untuk meningkatkan kinerja pestisida ataupun pupuk daun pada tanaman yang memiliki daun berbulu seperti tanaman padi dan jagung. Adanya bulu-bulu yang terdapat pada daun akan menghalangi menempelnya butir-butir larutan pestisida pada permukaan daun. Tentu hal tersebut akan menghambat penyerapan pestisida sistemik dan pupuk daun. Demikian juga dalam aplikasi herbisida, pemberian perekat juga sangat membantu menempelkan herbisida tersebut pada rumput sehingga akan meningkatkan kinerja herbisida tersebut.
  2. Untuk meningkatkan kinerja pestisida ataupun pupuk daun yang kita semprotkan pada tanaman yang memiliki daun berlilin seperti daun talas dan daun pisang. Daun-daun yang memiliki lapisan lilin akan sangat sulit diaplikasi pestisida karena air tidak mau menempel dan larutan langsung menggelinding jatuh. Hal tersebut juga terjadi pada saat kita aplikasi pestisida pada hama yang pada kulitnya dilapisi lilin.
  3. Untuk meningkatkan kinerja pestisida pada hama yang dilapisi lilin dan hama berbulu seperti kutu kebul dan ulat bulu. Secara alamiah memang setiap mahkluk hidup diberi oleh Allah perlindungan diri dari ancaman alam. Lapisan lilin dan bulu pada hama sebenarnya adalah alat perlindungan alami dari serangan musuh. Tapi hal tersebut pula yang kadang kala membuat kita kelabakan karena hama tersebut tidak mempan pestisida. Inilah fungsi yang disebut sebagai penembus oleh para penjual pestisida.
  4. Untuk meningkatkan kinerja pestisida pada hama yang mempunyai pelindung keras seperti kepik dan belalang besar dan golongan lembing. Jika pada penyemprotan kita menggunakan perekat tentu pestisida akan lebih lama menempel pada  daun. Hal ini akan membantu penetrasi pestisida melalui abdomem atau perut serangga yang biasanya lebih lemah daripada punggung. Dengan pestisida menempel pada daun akan lebih meningkatkan efikasi jika diaplikasi bersamaan dengan pestisida racun lambung karena akan mudah termakan bersama daun.
  5. Untuk meningkatkan kinerja pestisida dan pupuk daun ketika hari akan hujan. Pestisida dan pupuk daun yang diaplikasi kemudian selang 1 – 2 jam turun hujan pastinya akan sia-sia karena pestisida dan pupuk daun tersebut akan tercuci oleh air hujan. Dengan perekat pestisida dan pupuk daun tersebut akan cepat terserap oleh daun sehingga walaupun setelah itu hujan akan tetap berfungsi. Dan larutan yang sudah menempel ke daun tentunya akan lebih sulit tercuci oleh air hujan.
  6. Untuk meningkatkan kinerja pestisida dan pupuk daun ketika hari panas. Seringkali kita mengaplikasi pestisida disaat siang hari diatas jam 10 sehingga matahari sudah terik dan angin sudah kencang. Hal tersebut akan mempercepat penguapan larutan pestisida yang kita aplikasi pada tanaman.  Dengan perekat pestisida ketika kita mengaplikasi pupuk daun dan pestisida sistemik akan lebih cepat terserap oleh daun sebelum larutan tersebut kering.
  7. Untuk meningkatkan emulsi (kelarutan/ pencampuran) pada larutan pestisida yang akan kita aplikasikan pada tanaman. Dengan penambahan perekat pada larutan pestisida atau pupuk daun akan membantu meningkatkan homogenitas larutan tersebut, sehingga akan menghambat pengendapan larutan pestisida dalam tangki sprayer atau dalam drum pengoplosan.

Setelah kita ketahui manfaat dari perekat pestisida tersebut tentunya kita sadari betapa pentingnya penambahan perekat pada larutan Insektisida, Fungisida, Bakterisida, Herbisida atau pupuk daun yang akan kita aplikasi. Kendalanya adalah tidak di semua daerah pertanian ada yang jual perekat pestisida selain itu kita juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli perekat tersebut.  Kendala lainnya adalah tidak sedikit para produsen pestisida yang membandrol perekat mereka dengan harga yang tidak murah.

Oleh karena itu maspary di blog Gerbang Pertanian  ini akan membagikan tips sederhana cara mudah membuat perekat pestisida.

Bahan utama pembuatan perekat pestisida :

  1. 1 Kg bahan Aktif (bahan utama) bisa kita beli di toko kimia dengan harga yang murah.
  2. 10 Liter bahan pencampur bisa kita dapatkan dengan mudah dan gatis disekitar rumah kita
  3. 1 Kg bahan penguat bisa kita beli di warung kelontong/ sayuran dengan harga yang sangat murah.

 

Cara Membuat Perekat Pestisida:

  1. Campurkan 1 Kg bahan aktif dengan 10 liter bahan pencampur hingga benar-benar larut. Proses pencampuran ini butuh pengadukan secara kontinyu selama kurang lebih 1 jam. Tanda-tanda pencampuran berhasil adalah sudah tidak ada gumpalan dalam campuran tersebut, semua telah menjadi larutan bening yang agak kental (seperti minyak goreng).
  2. Setelah tercampur merata lalu masukkan 1 Kg bahan penguat  pada larutan tersebut.
  3. Aduk-aduk terus larutan tersebut sampai benar-benar rata. Dalam pencampuran kali ini butuh waktu sekitar 1 jam untuk benar-benar homogen. Jika larutan tersebut sudah tercampur sempurna akan membentuk larutan kental berwarna putih.
  4. Diamkan selama 24 jam (satu hari satu malam) agar perekat tersebut siap digunakan. Setelah didiamkan selama 24 jam larutan kental yang berwarna putih akan berubah menjadi larutan kental yang bening.
  5. Perekat tersebut siap diaplikasi dengan konsentrasi 0,75 ml/ liter – 1,25 ml/ liter. Pengalaman dari maspary dengan konsentrasi tersebut biasanya sudah mampu melekatkan larutan pestisida pada daun talas. Kalau di daun talas sudah bisa menempel berarti pada daun yang lain akan lebih mudah menempelnya.
Daun talas yang disemprot tanpa perekat, airnya menggelinding tidak bisa menempel sama sekali Daun talas yang disemprot memakai perekat, terlihat mengkilap dan basah

Maaf,……  maspary belum sempat menuliskan nama masing-masing bahannya ya ?

Jadi begini,

Maspary saat ini sedang membutuhkan donatur untuk mensuport Gerbang Pertanian, jika anda bersedia menjadi donatur maka kami  akan meng SMS kan nama ketiga bahan perekat pestisida tersebut ke HP anda. Biasanya maspary memberikan segala informasi tentang pertanian secara cuma-cuma alias gratis, bahkan SMS pun kami balas walau terkadang agak lama. Tetapi mohon maaf yang sebesar-besarnya kali ini maspary tidak bisa memberikan nama masing-masing bahan tersebut secara gratis. Jika anda mengetahui bahan-bahan perekat pestisida tersebut, maka anda dengan mudah akan bisa membuat perekat pestisida dengan harga yang sangat murah. Menghemat biaya usaha tani anda selamanya.Bahkan kalau anda mempunyai jiwa bisnis anda juga bisa menjual lagi perekat hasil karya anda tersebut dengan harga murah ke teman-teman petani.

Cara Menjadi Donatur/ Mendapatkan Nama Bahan Perekat Pestisida :

  1. Silahkan transfer pulsa ke HP maspary (0812 2630 297) nggak usah banyak-banyak minimal Rp.20.000 aja, tetapi kalau rekan-rekan merasa ilmu tersebut sangat penting  (mahal harganya) dan sekalian ingin beramal dan memutuskan untuk transfer pulsa Rp50.000 atau  Rp.100.000 maspary mengucapkan banyak terimakasih. Pulsa tersebut akan maspary gunakan untuk membalas ratusan SMS  pertanyaan dari rekan-rekan Gerbang Pertanian dan maspary gunakan untuk koneksi internet dalam mengelola Gerbang Pertanian.
  2. Setelah itu konfirmasi via SMS ke nomor maspary tersebut (0812 2630 297) bahwa anda telah transfer pulsa sejumlah ……… untuk mendapatkan informasi nama bahan-bahan dalam pembuatan perekat pestisida. Contoh : Maspary tolong kasih informasi bahan pembuat perekat pestisida, saya telah transfer pulsa Rp.50.000.
  3. Setelah pulsa masuk dan anda memberi konfirmasi, maka maspary sesegera mungkin akan mengirimkan nama ke 3 bahan perekat pestisida tersebut melalui SMS.

Bagi rekan-rekan Gerbang Pertanian yang merasa malas untuk membuat perekat pestisida tersebut maspary juga menyediakan perekat yang siap pakai dengan harga yang murah  Rp.10.000/ 600 ml.

Jika minat silahkan SMS ke 0812 2630 297, minimal pembelian 4 botol.

Ingin beli curah/ mau dijual lagi juga bisa cuma 10.000/ liter.

Minimal pembelian 25 liter

AGERATUM sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik


AGERATUM

sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik

Bila kita perhatikan dengan teliti tanaman Ageratum seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 – 922), 2004; penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi.

Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani.

Apabila diperhatikan dengan teliti lebih dari 30% tanaman Ageratum menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus (Gambar 1). Sejak kapan Ageratum terserang virus, tak ada catatan sejarah yang pasti. Namun gejala virus tersebut dalam berbagai tulisan telah ditemukan sejak lama dan diduga sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas, cabai, tomat, jarak pagar, dan lain-lain. Pada tahun 1995, Tan dkk berhasil mengidentifikasi virus dari Ageratum di Singapura sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviridae, dan dinamakan Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516).

Meluasnya serangan geminivirus khususnya dari spesies Begomovirus pada beberapa tanaman yang dibudidayakan juga memerlukan perhatian untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk Ageratum yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa spesies Begomovirus telah teridentifikasi dari Ageratum di Cina (Ageratum yellow vein China virus-[Hn2]; AYVCNV-[Hn2], AJ495813), Taiwan Ageratum yellow vein Taiwan virus; AYVTWV, AF30786), dan Sri Lanka Ageratum yellow vein Sri Lanka virus; AYVSLV, AF314144).

Di Indonesia keberadaan virus pada Ageratum sudah diketahui sejak lama, namun keberadaan tentang jenis virus tersebut masih kurang diperhatikan. Hasil identifikasi Gemini virus pada Ageratum asal Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Malang telah terdaftar di Gene Bank (http://www.ddbj.nig.ac.jp/Wel come-e.html)(AgPur-2, AB189851; AgBadI-1, AB189852; AgMal-4, AB18953; AgMag-2, AB189854; AgBadII-2, AB189913).

Penelitian geminivirus pada tanaman tomat asal Indonesia yang dilakukan oleh peneliti dari universitas Tohoku Jepang yang dipimpin oleh Prof. Ikegami Masato ternyata spesies geminivirus yang sama pada Ageratum ditemukan juga pada tanaman tomat (Journal of Phytopathology 2005, 153 : 562 – 566. Lebih lanjut Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang berasal dari tanaman cabai juga ditemukan pada tanaman Ageratum (Plant Disease. Volume 91 No. 9. 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman Ageratum yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan geminivirus.

Melihat manfaatnya yang begitu banyak akan tanaman Ageratum tidak ada salahnya jika tanaman ini dilestarikan agar tak punah bahkan mungkin membudidayakannya. Namun apabila tanaman ini menunjukkan gejala daun lurik menguning kemungkinan akan menjadi sumber virus yang akan menyerang tanaman yang diusahakan.

(Sumber; Sukamto , Warta Puslitbangbun Vol.13 No.3,Desember 2007).

Ada 3 resep yang sudah disajikan yaitu Gus Bensol 11, Alur G 12 dan Hervit Top 13. Nama-nama itu dibuat oleh penulis agar mudah diingat, karena susunan hurufnya adalah singkatan dari unsur – unsur bahan pembuatan racun rumput hasil rekayasa petaninya. Gus Bensol 11, disebut demikian karena bahan untuk meramu racun rumput ini terdiridari : G (garam, U (Urea), S (Sabun Colek), Ben (Bensin) dan Sol (Solar). Kemudian angka 11, artinya semua bahan dengan
perbandingan 1 (Kg) : 1 (Kg) : 1 (Wadah) : 1 (Liter) : 1 (Liter).
Racun rumput yang bersifat kontak ini dibuat petani jika sudah kepepet karena tidak punya uang cukup untuk membeli herbisida atau pada saat stok herbisida kosong tetapi rumput sudah tiba saatnya harus dibasmi. Penulis mendapatkan resep ini dari Pak Mo di Jalan Sungai Lemo Sedadap Nunukan Selatan. Alur G 12, terbuat dari Al (Air Laut) 12 liter, Ur (Urea) 2 kg dan
G (salah satu nama Herbisida kontak) sebanyak 1 liter. Semua bahan dicampur dan kemudian dimasak hingga mendidih. Resep ini sebenarnya untuk menghemat herbisida yang harganya sangat mahal, untuk diperbanyak dari liter menjadi 12 liter agar biaya dalam pembasmian rumput ini menjadi murah bagi petaninya. Sebenarnya resep ini diperoleh dan dipraktekkan oleh PakMustafa, petani Jagung di Sei Jepun Nunukan Selatan, pada saat bekerja di kebun Kelapa Sawit di Lahat Dato Sabah Malaysia. Sepulangnya dari ‘makan gaji’ di Malaysia Pak Mustafa selalu mempraktekkannya untuk lahan Jagungnya di Sei Jepun seluas sekitar 4 hektar. Hervit Top 13, berbahan Her (herbisida) 1 liter, Vit (Vitsin) 250 gram atau satu kantong dan Top (Toak Pahit) sebanyak 3 liter. Semua bahan dicampur dan bisa digunakan langsungsebagaimana biasanya. Resep ini dicatat dari temuan Pak Asri Aziz seorang PPL Sebatik Barat dari beberapa petani binaannya yang sudah terbiasa digunakan petani. Menurut petani sebenarnya dulu resepnya hanya menggunakan Vitsin dan Toak Pahit saja, namun kemudian petani ingin lebih menguatkan efeknya dengan menambahkan herbisida. Pada saat penulis mengikuti Pekan Daerah KTNA di KotaTenggarong, sempat bertemu beberapa petani dari Bengalon Kutai Timur Kalimantan Timur, yaitu Pak Saifuddin, Pak Gioto dan Pak Ismail. Dari Bengalon Kutai Timur ini sudah biasa menggunakan resep untuk memperbanyak racun rumput, khususnya yang bersifat sistemik (yaitu R..). Resep dari Bengalon ini berbahan Ragi, Urea, Air Hujan dan Herbisida dengan
perbandingan Ragi Tape (1 kantong), Urea (1 kg), Herbisida (R) 1 liter dan Air Hujan sampai dengan 5 liter. Semua bahan dicampur dan diaduk sampai
merata kemudian diperam dalam wadah yang kedap sinar dan disimpan selama 1 minggu. Racun rumput ini agar mudah mengingat bahan pembuatnya maka disebut sebagai Heragur AH5, maksudnya Her (herbisida), Rag (Ragi Tape), Ur (Urea) dan AH (Air Hujan) serta 5 maksudnya menjadi 5 liter. Hikmah berkumpul dengan petani peserta Peda dan Rembug KTNA yang lain lagi adalah pengalaman petani dari Sebatik, yaitu Pak H. Alimuddin Ketua Kelompok Tani Sinar 2000. Adaresep racun rumput yang berbahan Air Fermentasi Kakao atau sering disebut Air Kakao, Sabun Colek, Urea dan Herbisida kontak (seperti G..). Cara dan resepnya yaitu, memasak air biasa yang dicampur sabun colek (setengah kg) sambil terus diaduk sampai rata atau larut dan mendidih. Setelah itu dicampurkan bahan-bahan lain seperi Urea ( 1 kg), Herbisida (5 liter) dan Air Kakao (15 liter) dan diaduk hingga merata. Penggunaan racun rumput oplosan ini adalah sebanyak 200 ml untuk satu tangki Sprayer 16 literan. Biasa digunakan sebagai racun rumput kontak untuk sawah. Kelemahan racun rumput ini adalah jika digunakan dengan Sprayer berbahan logam akan mudah korosi atau berkarat. Agar memudahkan mengingat maka penulis member nama resep ini dengan Arkosur H 515, maksudnya Arko (Air Kakao), S (Sabun Colek), Ur (Urea), H (Herbisida) dan 515 (5 liter herbisida dibandingkan 15
liter air kakao).Resep-resep ini adalah karya dari petani yang cukup kreatif untuk mengatasi keterbatasannya tetapi terus berusaha tani dengan biaya yang lebih hemat . Ini adalah bukti dari kearifan local para petani menghadapi keadaan semakin mahal dan langkanya racun rumput di pasaran. Harapannya agar resep-resep ini dapat menjadi referensi bagi petani yang lain. Meskipun ini
bukan anjuran teknologi yang paten dan diakui oleh Pemerintah, tetapi silakan saja dicoba untuk kalangan petani sendiri dan kalau perlu dikembangkan dengan resep- resep yang lainnya.

CARA SEDERHANA MEMBUAT FUNGISIDA ORGANIK


CARA SEDERHANA MEMBUAT FUNGISIDA ORGANIK

 

Fungsida organik ini lebih bersifat mencegah bukan mengobati karena fungisida organik tersebut cenderung bersifat kontak cara kerjanya. Namun dari berbagai pengalaman petani fungisida organik tersebut lumayan ampuh untuk mengendalikan penyakit pada berbagai tanaman seperti padi, cabai, tomat, terong dan sayuran lainnya.

 

Nggak usah panjang lebar langsung saja kita praktek membuatnya:

Alat dan bahan fungisida organik:

  1. Blender bumbu, atau lumpang atau alat penghalus lainnya
  2. Saringan yang lembut
  3. Kunir   : 1 bagian
  4. Jahe     : 1 bagian
  5. Laos    : 1 bagian

 

Cara membuat dan cara aplikasi:

Semua bahan diblender sampai halus à peras dan ambil airnya à siap digunakan 2cc/ltr sore hari (kalau perlu tambahkan detergent satu atau dua sendok)

 

MEMBUAT FUNGISIDA SENDIRI

 

Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) :

  1. Bawang putih
  2. Temu ireng
  3. Temu lawak
  4. Umbi gadung
  5. Kencur
  6. Kalau mau lebih mantap, bisa ditambahkan kunir putih

Cara membuat dan aplikasi :

Semua bahan dicuci à dihaluskan à direndam dalam air 5 liter à simpan anaerob 3-4hari à siap digunakan dg dosis 1 ltr/5 ltr air disemprotkan atau dikocorkan.
Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). Sumber : http: aliefardi.wordpress.com

NB:

Aplikasi dilombok masing2 bahan 1-2 kg.

Kalo untuk jamur banyakin bawang putih, dan kencur.

Kalo untuk bakteri banyakin temu ireng/temu lawak, kunir.

Untuk penyakit bercak putih pada daun cabe, jamur jelaga hitam pada cabe/kacang panjang, antraknose ringan pada cabe atau bahkan layu bakteri pseudomonas sp bisa dicoba. Tapi obat organic sifatnya lebih ke pencegahan sehingga aplikasi sebaiknya rutin.
Semoga sukses mas…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS


TEHNOLOGI SEDERHANA

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS

Untuk petani yang tinggal di daerah dataran tinggi (pegunungan) khususnya yang membudidayakan kubis siapa yang tidak kenal dengan Dipel, Xentari, Turex atau nama dagang yang lain. Insektisida tersebut sangat ampuh mengendalikan hama ulat kubis baik Crocidolomia binotalis atau Plutella xylostella. Bioinsektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut keampuhannya bisa mengalahkan insektisida kimia berbahan aktif golongan piretroid sintetik, karbamat maupun organophospat. Kali ini akan kami sajikan tips tentang Teknologi Sederhana Mengembangkan Dipel yang berbahan aktif Bacillus Thuringiensis

Kenapa harus Dipel ?

Karena Dipel adalah bioinsektisida yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis subsp. kurtaki yang secara alami mampu membunuh ulat serangga pengganggu dan pemakan daun namun aman bagi serangga lain, burung, ikan atau hewan berdarah panas. Karena berbahan aktif mikroorganisme maka bioinsektisida tersebut bisa dikembangkan tanpa mengurangi kekuatan daya kendalinya (efikasinya). Dipel merupakan insektisida biologis yang bekerja sebagai racun lambung, sehingga jika dimakan oleh ulat Bacillus thuringiensis akan bekerja menjadi racun perut si ulat tersebut.

Bahan dan alat untuk mengembangkan Bacillus thuringiensis    :

  1. Starter Bacillus thuringiensis   : à menggunakan Bioinsektisida Dipel 10 gram
  2. Limbah cair tahu                      : 10 liter
  3. Onggok tapioka                       : 5 kg
  4. Kapur                                       : 1 sendok makan
  5. Air steril                                   : 1 liter
  6. Ember
  7. Pengaduk

 

Cara Pembuatan :

  1. Campurkan bahan no 2, 3, 4 à rebus hingga mendidih dan diamkan sampai dingin (sebagai media).
  2. Larutkan 10 gram bubuk  Dipel dalam 1 liter air steril (sebagai starter) à campurkan dengan media yang telah dingin tadi à simpan anaerob selama 3 x 24 jam
  3. Rebus semua bahan tersebut dengan panas maksimal 50°C hingga menjadi bubuk.

 

Cara penggunaan biakan Dipel :

  1. Larutkan 1 gram bubuk biakan Dipel / 1 liter air à semprotkan pada sore hari.
  2. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya dicampur dengan perekat.
  3. Menurut informasi biakan Bacillus thuringiensis tersebut kekuatan toksisitasnya bisa 27 kali dibanding Dipel produk komersial.

Tidak ada salahnya kalau maspary mengajak rekan-rekan petani untuk mencoba menghemat pengeluaran usaha tani kita dengan mengembangkan Bacillus thuringiensis (Dipel), karena biakan tersebut secara alami mampu mengontrol ulat dan serangga pengganggu, mempunyai daya toksisitas terhadap serangga sasaran lebih tinggi 27 kali dari produk komersial,  bahan baku mudah dan murah, proses pembuatan yang sederhana, ramah lingkungan dan tidak mengandung unsur kimiawi. Cuma sayang dilapangan bioinsektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut belum berkembang didataran rendah. Apa mungkin ada pengaruh suhu terhadap efektifitas BT (Bacillus thuringiensis ) atau mungkin alasan yang lain, kurang tahu juga. Jika ada pembaca yang ada informasi silahkan tulis di kolom komentar.

download file-nya di sini


FUNGISIDA dan BAKTERISIDA ORGANIK

By Timbul Sunarno

Beberapa formula pengendalian jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman tersebut adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Pengendalian dengan Tetumbuhan
  2. Cara 1. Dengan empon-empon

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Jahe           : 1 kg

–    Lengkuas   : 1 kg

–    Kunyit       : 1 kg

–    Labu siam : 1 kg

Semua bahan dihaluskan à diperas dan diambil airnya à siap digunakan dengan dosis 20cc/ltr (k/p tambahkan 2 butir telur ayam untuk bahan perekat dan sekaligus protein bagi tanaman)
  1. Cara 2. Bunga kertas atau Bougenville

Bunga kertas atau bougenville dapat juga digunakan sebagai bahan pestisida alami.

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Daun kertas  : 1 kg

–    Susu sapi      : 1 ltr

Masukkan daun bunga kertas kedalam air mendidih selama 24 jam à tambahkan susu sapi rebus à saring à siap dipakai digunakan dg dosis 100 cc/ltr.
  1. Cara 3. Kenikir (marigold)

Kenikir selain daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran, kenikir yang warna bunganya berlainan dapat digunakan sebagai bahan pestisida alami.

Bahan

Cara membuat dan Aplikasi

–    Bunga kenikir 1kg

–    Bisa ditambahkan bahan lain

Masukkan bunga kenikir dalam air mendidih sebanyak 10 ltr selama 24 jam à saring à siap pada  tanaman yang terkena nematoda
  1. Cara 4. Daun Sirih dll

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Daun Sirih  : 6 g’gam

–    Belerang     : ¼ kg

–    Labu Siam  : 2 kg

–    Jinten          : ¼ kg

Semua bahan dihaluskan à simpan 1 minggu à saring à siap digunakan dg dosis 100cc/ltr
  1. Cara 5. Tembakau

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

Daun tembakau 200 kg (sebaiknya limbahnya) Bahan dirajang menjadi serpihan kecil à Benamkan di sekitar perakaran tanaman atau bersama pupuk/ha luasan
  1. Cara 6. Biji Mimba

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Biji mimba    : 20 gr

atau

–    Daun mimba : 50 gr

–    Sabun colek  : 1 gr

–    Air                : 1 liter

Haluskan biji atau daun mimba à campurkan dalam 1 liter air à tambahkan 1 cc deterjen cair/sabun colek à simpan 24 jam à disaring à siap digunakan dg dosis ?
  1. Cara 7. Daun Cengkih

Ramuan untuk mengendalikan jamur Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk batang pada tanaman panili

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

Daun cengkih 50-100 gr Bahan dihaluskan à taburkan/benamkan ke dalam tanah di sekitar perakaran sebanyak 50-100 gr/tanaman
  1. Cara 8

Mengatasi busuk batang dan layu pada tomat

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Daun bambu muda

–    Kunir

–    Bengle

–    Daun bambu dihaluskan à rendam dalam 10 liter air ≥ 6 jam

–    Rendam kunir dalam 2 liter air

–    Rendam bengle dalam 2 liter air

–    Campurkan semua bahan à tambahkan 10-20 lt air à siramkan pada tanaman dan media tanahnya

  1. 2.      Pengendalian dengan Jamur Antagonis  (Jamur Trichoderma)
  2. Pembiakan cara 1.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Bekatul

–    Stater  Trichoderma

–    Alat pengukus

–    Plastik

–    Tampah

Katul diperciki air sampai macak-macak/tidak basah betul/pero à kukus sampai matang à di ler pada tampah yang bersih setinggi 10 cm sampai dingin à Inokulasikan biakan jamur kemudian tutup rapat dengan plastic à simpan pada suhu kamar
  1. Pembiakan cara 2.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Sekam/bekatul

–    Gula

–    Soblok/kukusan

–    Kompor

–    Kantong plastik

Sekam/bekatul dikukus sampai mendidih à angkat dan kering anginkan sampai dingin à masukkan ke dalam plastik dan berikan jamur Tricoderma bersama larutan gula 0,1 % à simpan dalam suhu kamar selama 3 hari à bila muncul spora warna putih berarti pembuatan jadi

Jamur Tricoderma yang sudah tua/jadi berwarna hijau kehitaman

Fungisida dan Bakterisida Organik Sederhana

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Daun rondo noleh, daun mindi, daun suren, daun tikusan, daun klereside, daun batang blekokan, kliko semboja, kliko pule, buah bawangan, daun kinang, jahe, laos, kunir masing-masing 1 kg

–    Air 7 liter

Semua bahan ditumbuk halus à dicampur air à saring à siap digunakan dg dosis 20 cc/ltr

 

Teh Kompos lawan Penyakit tanaman

–          Teh kompos atau air ekstrak kompos ternyata dapat dipakai untuk melindungi tanaman dari penyakit/ patogen daun. Juga sebagai inokulan guna memperbaiki dan meningkatkan mikroflora tanah. Penelitian di mancanegara menunjukkan, ekstrak kompos efektif mengendalikan penyakit tanaman. Antara lain Phytophora infestants di kentang dan tomat,Botrytis cinerea di stroberi, Fusarium oxysporum, plasmopara viticola (embun tepung) di anggur, dan Sphaerotheca fuliginea (embun tepung) di mentimun.

–          Komponen aktif dalam ekstrak kompos yang telah dikenali termasuk bakteri (Bacillus), kapang (Sporobolmyces, dan Cryptococcus), serta jamur. Juga bahan kimia bersifat antagonis seperti phenol dan asam amino. Melalui sterilisasi, dan penyaringan nonaktif, ditunjukkan kemanjuran ekstrak kompos karena peran organisme hidup yang ada dalam larutan itu.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

–    Kompos  : 1 kg

–    Air          : 5 ltr

Bahan dicampur à diaduk merata 2 – 3 minggu à saring à siap digunakan

 

Selamat Mencoba
SALAM PETANI

download file-nya di sini

 

%d bloggers like this: