Category Archives: Agen Hayati


BEBERAPA FAKTA HASIL PENELITIAN TENTANG BACILLUS sp

YANG TERKAIT DALAM BIDANG PERTANIAN

 

 Penggunaan agens hayati dalam budidaya pertanian layak untuk dikembangkan secara masif mengingat fungsinya yang mengikuti keseimbangan ekosistem. Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas (Hasanuddin, 2003)

Bacillus sp. merupakan salah satu kelompok bakteri gram positif yang sering digunakan sebagai pengendali hayati penyakit akar. Anggota genus ini memiliki kelebihan, karena bakteri membentuk spora yang mudah disimpan, mempunyai daya tahan hidup lama, dan relatif mudah diinokulasi ke dalam tanah.

Bacillus sp. telah terbukti memiliki potensi sebagai agens pengendali hayati yang baik, misalnya terhadap bakteri patogen seperti R. solanacearum (Soesanto, 2008).

Bacillus sp. dapat menghasilkan fitohormon yang berpotensi untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan. Fitohormon yang dihasilkan bakteri tanah ini dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung fitohormon dari bakteri menghambat aktivitas patogen pada tanaman, sedangkan pengaruh secara langsung adalah meningkatkan petumbuhan tanaman dan dapat bertindak sebagai fasilitator dalam penyerapan beberapa unsur hara dari lingkungan (Greenlite, 2009).

Beberapa spesies Bacillus sp. yang menghasilkan antibiotik dapat digunakan sebagai agens hayati. Jenis antibiotik yang dihasilkan tersebut antara lain berupa iturin, surfactin, fengicin, polymyxin, difficidin, subtilin, dan mycobacilin (Todar, 2005).

Fungsi Bacillus spp. (seperti Bacillus subtillis) antara lain dapat mengendalikan penyakit layu bakteri pada kentang dan meningkatkan hasil umbi kentang sampai 160%. Bacillus spp. dapat mengendalikan penyakit lincat pada tembakau dan penyakit layu bakteri pada biji tomat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman tembakau.

Baker et al dalam Hasanuddin (2003) menyatakan manakala filtrasi steril dari kultur Bacillus subtilis diaplikasikan tiga kali seminggu mengendalikan penyakit karat pada tanaman kacang dilapangan nyata lebih baik dari fungisida mancozeb dengan aplikasi satu kali seminggu.

Semoga bermanfaat.

 

Advertisements

CORYNE BACTERIUM


CORYNE BACTERIUM

 

Serangan penyakit kresek, hawar daun bakteri (BLB) pada tanaman padi telah meresahkan para petani kita. Sepertinya sekarang ini kresek telah menjadi penyakit utama pada tanaman padi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan kresek tidak main-main, bisa mencapai 75 %.

Belum pahamnya petani tentang penyakit kresek ini menjadi kendala untuk mengendalikannya. Berbagai cara pengendalian secara kimia dilakukan petani namun banyak yang belum mendapatkan hasil yang maksimal. Padahal ada cara organik yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kresek ini (keefektifannya bisa mencapai 80%).

Salah satu pengendali kresek yang telah teruji dalam berbagi demplot kita di daerah Banyumas adalah dengan menggunakan agensi hayati Coryne bacterium sp. Selain harganya sangat murah Coryne bacterium sp juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Coryne bacterium sp. yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis dapat mengendalikan beberapa jenis penyakit tanaman. Yang paling utama Coryne bacterium sp. dapat mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae.

Adapun penyakit tanaman lain yang dapat dikendalikan oleh agens antagonis Coryne bacterium sp adalah:

–       Penyakit bercak daun pada jagung

–       Penyakit bengkak akar pada kubis

–       Penyakit bakteri layu pisang

Bakteri ini berbentuk batang, jenis gram positif. Koloninya berwarna putih kotor, dan di bawah lampu ultra violet tidak bereaksi. Kemampuan bakteri ini dalam menekan penyakit Kresek (BLB) mencapai 80 persen.

 

Sasaran bakteri Coryne bacterium sp.

Bakteri ini efektif untuk mengendalikan penyakit Kresek (BLB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv oryzae, Hawar Daun Jingga (BRS) yang disebabkan oleh Pseudomonas sp pada tanaman padi, bercak daun Helminthosporium sp dan Cercospora sp pada tanaman jagung, penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae) pada tanaman kubis, serta penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tanaman pisang.

 

Indikasi:

–       Penyakit kresek oleh xanthomonas campestris pv oryzae

–       Hawar daun jingga oleh pseudomonas sp pada tanaman padi

–       Bercak daun helminthosporium sp dan cercospora sp pada tanaman jagung

–       Penyakit akar gada (plasmodiophora brassicae) pada tanaman kubis

–       Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Pada Tanaman Pisang.

 

PEMBIAKAN CORYNE BACTERIUM. Sp

Bahan dan alat:

–       3 buah toples yang ada tutupnya

–       2 meter selang akuarium

–       Galon air mineral

–       Air bersih secukupnya

–       Ekstrak kentang

–       Glasswoll

–       PK (obat kulit)

–       Air pump (untuk akuarium)

–       Isolat bakteri Corine (coryne bacterium)

 

Cara membuat:

–       Pasang alat-alat secara berurutan dan hubungkan dengan selang mulai dari air pump, toples, toples, galon air mineral dan toples. Cara pemasangan selang yang benar adalah selang harus menempel rapat di toples maupun galon. Jangan sampai ada lobang udara. Selang masuk udara harus menyentuh dasar toples sedangkan selang buangan udara hanya sedikit saja masuk kedalam toples. Selang jangan sampai terhimpit dan rapat ataupun tersumbat. Agar sambungan selang dengan toples rapat gunakan lem bakar yang diteteskan pada sambungan tersebut.

–       Isi toples pertama dengan larutan pk kira-kira 3/4 tinggi toples ( 1 ujung sendok teh pk larutkan dalam satu liter air)

–       Isi toples kedua dengan glasswoll

–       Isi galon air mineral dengan ekstrak kentang dan isolat bakteri korine (coryne bacterium)

–       Isi toples terakhir dengan air bersih

–       Tutup rapat toples-toples tersebut hingga tidak tembus udara jika perlu rapatkan dengan lakban ataupun isolasi.

–       Hubungkan air pump dengan stop kontak

–       Biarkan beberapa saat sampai ujung selang pada toples yang berisi air bersih keluar gelembungnya. Jika ujung selang tersebut belum bergelembung udara berarti masih ada sambungan yang bocor.

–       Perbaiki lagi sambungan (instalasi) sampai benar-benar rapat (kunci utama keberhasilan pembuatan bakteri korine (coryne bacterium) ini ada pada cara instalasi.

–       Jika sudah benar sambungan biarkan proses pembiakan terjadi selama 20 hari.

Cara aplikasi:

–       Coryne bacterium mencegah bukan mengobati oleh karena itu aplikasikanya selagi tanaman belum terserang.

–       Konsentari 100-200 ml/ tangki semprot 14-17 liter (0,5-1 gelas aqua/ tangki semprot)

–       Jangan dicampur dengan pestisida kimia. Karena bakteri corine mahluk hidup jadi akan mati jika dicampur pestisida kimia

–       Aplikasikan pada pagi hari sebelum jam 9. Bisa juga disemprotkan pada sore hari setelah jam 4. Tapi perlu diingat jangan mengaplikasikan bakteri corine ketika hari akan hujan

–       Semprotkan secara merata pada seluruh bagian tanaman padi.

–       Aplikasi ketika tanaman padi berumur 15 hst, 30 hst, 45 hst dan 60 hst.

Untuk data dalam bentuk Ms. WOrs, silahkan download di sini.

BEUVERIA BASSIANA


BEUVERIA BASSIANA

 

Cara sederhana mengembangkan insektisida biologi jamur Beauveria Bassiana

Bahan dan alat

Cara membuat

Indikasi

Cara aplikasi

Bahan:–  Isolat jamur Beauveria bassiana

Alat:

–  Ember atau baskom kecil

–  Baskom peniris

–  Plastik 1/4 kg dengan ketebalan 0,4 sepuluh buah

–  Lilin lima buah

–  Steples

–  Kawat atau sendok kecil spatula

–  Panci Dandang

–  Alkohol 75 %

–  Air bersih

–  Beras giling atau jagung giling 1 kg

–  Cuci bersih beras dan rendam selama 24 jam-  Tiriskan sampai kering

–  Masukkkan beras kedalam plastik @ 100 gr

–  Lipat ujung plastik

–  Masak beras dengan cara di kukus selama kurang lebih 1,5 – 2 jam

–  Setelah dingin angkat beras tersebut dari panci dandang

–  Nyalakan lilin 5 buah dan letakkan membentuk setengah lingkaran dimeja

–  Masukkan kawat atau sendok spatula kedalam alkohol dan bakar  di salah satu lilin tersebut

–  Setelah kawat agak dingin ambil sebagian isolat dalam tabung reaksi dan masukkan kedalam beras

–  Lipat beberapa kali ujung plastik dan steples

–  Letakkan dalam suhu kamar sampai 7-14 hari

–  Jika sudah tumbuh miselium berwarna putih secara penuh berarti insektisida biologi Beauveria bassiana siap digunakan.

–  Berbagai jenis wereng-  Walang, walang sangit

–  Ulat

–  Lembing

–  Sundep / beluk

–  Ambil salah satu beras dalam plastik yang telah ditumbuhi meselium Beauveria basiana-  Cuci dengan air 1 liter dengan cara diremas-remas sampai bersih

–  Saring dengan kain, ambil air cuciannya.

–  Campurkan air tersebut dengan air 14 – 17 liter dan masukkan kedalam tangki sprayer.

–  Semprotkan ke tanaman dengan frekuensi 1 minggu sekali. Jika serangan berat bisa seminggu 2 kali.

–  Jangan lupa nyemprotnya sore hari ya karena kalau siang hari jamur Beauveria basiana akan mati kepanasan

Untuk data dalam bentuk Ms. Word, silahkan download disini.

TRICHOGRAMMA


TRICHOGRAMMA

 

Indikasi:

–       Penggerek Batang

 

Bahan dan alat:

Parasitoid telur penggerek batang padi (Trichogramma sp) dapat dibiakkan secara masal dengan menggunakan serangga inang alternatif telur ngengat beras Corcyra cephalonica. Langkah-langkah dalam pembiakan massal dan pelepasan musuh alami ini adalah:

–       Menyiapkan media biakan serangga inang alternatif

–       Pengumpulan kelompok telur serangga inang alternatif

–       Pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi terparasit

–       Pembuatan pias parasitoid

–       Pembiakan massal Trichogramma sp

–       Pelepasan parasitoid di lapangan

 

Cara membuat:

  • Pembiakan Corcyra Cephalonica (corcyra):

–       Buat box rearing dengan ukuran 80 cm X 40 cm X 10 cm

–       Oven/ sangrai campuran pakan yang terdiri dari pakan ayam, dedak dan jagung giling dengan perbandingan 1:1:2

–       Masukkan pakan kedalam box rearing dengan ketebalan 3 cm

–       Masukkan ngengat Corcyra Cephalonica kurang lebih sejumlah 200 ekor dan biarkan sampai ngengat muncul selama 6 minggu

–       Ngengat yang muncul dikumpulkan dengan menggunakan corong lampu kemudian dimasukkan kedalam tabung peneluran yang terbuat dari kertas karton atau paralon. Bagian atas dan bawah peneluran ditutup dengan menggunakan kain kassa

–       Tabung peneluran diletakkan dengan posisi tegak pada nampan/ baki yang telah diberi alas kertas

–       Waktu peneluran ngengat Corcyra Cephalonica selama 1 hari

–       Telur-telur Corcyra Cephalonica yang menempel pada kain kassa disikat dengan kuas lalu diletakkan pada baki/ nampan

–       Telur tersebut dibersihkan dari kotoran dengan menggunakan saringan teh

–       Telur Corcyra Cephalonica yang telah bersih sebagian digunakan untuk pembiakan parasitoid Trichogramma sp dan sebagian digunakan untuk pembiakan lebih lanjut untuk perbanyakan Corcyra Cephalonica

  • Pembiakan Parasitoid Telur Trichogramma sp :

–       Siapkan pias dari kertas karton manila dengan ukuran 1,5 cm X 10 cm

–       Kertas dilapisi lem kertas, lalu taburkan kurang lebih 2000 telur Corcyra Cephalonica pada pias yang dilapisi lem kertas. Kemudian kering anginkan kira-kira 5 menit

–       Pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica distrerilkan dengan menggunakan lampu ultra violet 15 watt selama 30 menit

–       Masukkan kedalam satu tabung (corong lampu) 1 pias stater parasitoid Trichogramma sp dan 5 pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang telah disterilkan

–       Setelah 4 – 6 hari proses parasitisme sudah ada penampakan telur yang terparasit berwarna kehitam-hitaman

–       Pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang telah terparasit Trichogramma sp siap digunakan langsung dilapangan atau disimpan dalam lemari pendingin (kulkas) selama 3 – 4 hari

–       Apabila pias yang berisi telur Corcyra Cephalonica yang terparasit Trichogramma sp belum digunakan bisa disimpan dalam lemari pendingin selama 3 bulan

 

Cara aplikasi:

 

TRICHODERMA. Sp


TRICHODERMA. Sp

SEBAGAI PUPUK BIOLOGIS DAN BIOFUNGISIDA

Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll.

Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe :

  1. Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen
  2. Beberapa anggota trichoderma sp menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya
  3. Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah

Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi banyak dilakukan oleh kalangan peneliti maupun produsen pupuk, tetapi masih terlalu merepotkan untuk diadopsi oleh petani. Sebagai petani, untuk lebih efisiennya dapat memproduksi pupuk biologis yang siap aplikasi saja, sehingga hanya perlu membeli dan memperbanyak sendiri biakan murninya dan diinokulasikan pada media aplikatif. Atau jika menginginkan kepraktisan dapat membeli pupuk yang siap tebar untuk setiap kali aplikasi.

Dari beberapa literatur yang pernah saya baca dengan penambahan pupuk biologis Trichoderma sp akan meningkatkan efisiensi pemupupukan. Pada tanah yang tandus pemberian pupuk organik Trichoderma sp dan pupuk kimia secara bersamaan akan memberikan hasil yang maksimal daripada pemberian pupuk organik atau pupuk kimia secara terpisah walaupun dengan jumlah yang banyak. Dengan pemberian pupuk organik akan menghemat penggunaan pupuk kimia. Biasanya penyakit layu dan busuk pangkal batang pada tanaman disebabkan oleh jamur fusarium sangat sulit dikendalikan dengan fungisida kimia. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita mencoba mengaplikasikan pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp pada tanaman kita untuk mencegah penyakit akar dan busuk pangkal batang yang dapat menyebabkan layu tanaman.

 

Perbanyakan Jamur Trichoderma, sp. Skala Petani

Potensi jamur Trichoderma,sp. sebagai agensia pengendali hayati sudah tidak terbantahkan. Beberapa penyakit tanaman sudah dapat dikendalikan dengan  aplikasi  jamur  Trichoderma,sp.  Diantaranya  adalah  busuk  pangkal batang pada tanaman panili yang disebabkan oleh jamur Fusarium, sp., Jamur Akar  Putih  (JAP)  yang  menyerang  tanaman  lada  dan  karet  dan  beberapa penyakit terbawa tanah (soil borne) lainnya.

Potensi  jamur  Trichoderma  sebagai  jamur  antagonis  yang  bersifat preventif  terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian organisme pengganggu  tumbuhan   (OPT).   Disamping  karakternya  sebagai   antagonis diketahui pula  bahwa Trichoderma,sp.  Juga  berfungsi sebagai    dekomposer dalam pembuatan pupuk organik.  Aplikasi jamur Trichoderma  pada pembibitan tanaman  guna  mengantisipasi  serangan  OPT  sedini  mungkin  membuktikan bahwa  tingkat  kesadaran  petani  akan  arti  penting   perlindungan  preventif perlahan telah tumbuh.

Penggunaan jamur Trichoderma secara luas dalam usaha pengendalian OPT perlu disebarluaskan lebih lanjut agar petani-petani Indonesia dapat memproduksi jamur  Trichoderma  secara  mandiri.  Diharapkan  setelah mengetahui langkah-langkah  perbanyakan massal jamur Trichoderma, petani dapat mempraktekkan dan mengaplikasikannya.

 

 

Indikasi:

–       Layu Fussarium

 

Langkah-langkah perbanyakan massal jamur Trichoderma

Alat:

1.  Dandang sabluk

2.  Kompor Gas / Kompor minyak

3.  Bak plastik

4.  Plastik meteran (dijual dalam bentuk lembaran)

5.  Entong kayu.

Bahan:

1.  Sekam

2.  Bekatul (dedak)

3.  Air

4.  Alkohol 96 %.

5.  Isolat (bibit) jamur Trichoderma.

Cara membuat:

  1. Campurkan media (sekam  dan bekatul)  dengan perbandingan 1:3  dalam bak plastik.
  2. Berikan air kedalam media tersebut kemudian aduk sampai rata.
  3. Tambahkan air sampai kelembaban media mencapai 70 %     (dapat di cek dengan meremas media tersebut, tidak ada air yang menetes namun media menggumpal)
  4. Masukkan media kedalam kantong plastik.
  5. Siapkan dandang sabluk untuk menyeteril media.
  6. Isi dandang sabluk dengan air sebanyak 1/3 volume dandang.
  7. Masukkan media kedalam dandang sabluk
  8. Sterilkan media dengan menggunakan dandang sabluk selama 1 (satu) jam setelah air mendidih. Sterilisasi diulang 2 (dua) kali, setelah media dingin sterilkan kembali media selama 1 jam. Sterilisasi bertingkat ini  bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang masih dapat bertahan pada proses sterilisasi pertama.
  9. Tiriskan  media  di  dalam  ruangan  yang  lantainya  telah  beralas  plastik.

Sebelum digunakan semprot alas plastik menggunakan Alkohol 96%.

  1. Ratakan permukaan media dengan ketebalan 1-5 cm.
  2. Semprot   media   dengan   suspensi   jamur   Trichoderma   (isolat   jamur Trichoderma yang telah dilarutkan kedalam air, 1 (satu)  isolat  dilarutkan dengan 500 ml air)).
  3. Tutup  dengan  plastik  lalu  inkubasikan  selama  7  (tujuh)  hari.  Ruangan inkubasi diusahakan minim cahaya, dengan suhu ruangan  berkisar 25-27 derajat celcius.
  4. Amati pertumbuhan jamur Trichoderma, jamur sudah dapat dipanen setelah seluruh permukaan media telah ditumbuhi jamur Trichoderma, (koloni jamur berwarna hijau).

 

Cara aplikasi

–       Untuk aplikasi Trichoderma sp pada pesemaian dilakukan dengan cara mencampur Jamur Trichoderma : Tanah : pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2 : 1

–       Aplikasi pada pertanaman dilapangan dilakukan dengan cara bersamaan dengan pupuk dasar atau dicampur dengan pupuk kandang dengan dosis 10 – 20 gr jamur Trichoderma sp per lubang atau 140 kg per hektar.

–       Cara aplikasi pada tanaman tahunan (jeruk, mangga, durian, alpukat dll) dilakukan dengan cara mencampur Trichoderma sp dengan pupuk kandang lalu ditaburkan pada lubang disekitar perakaran dengan dosis 1 – 4 kg per tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Alur Produksi Jamur Trichoderma Skala Petani

 

Sekam + Bekatul

Berikan air

Aduk rata

Tambahkan air sampai kelembaban 70 %

Semprot dengan suspensi jamur Trichoderma

Tiriskan media

Sterilisasi

Inkubasikan

Panen dan siap diaplikasikan

Kunci keberhasilan perbanyakan massal jamur Trichoderma adalah:

  1. Aseptisitas proses produksi, artinya petani selaku pembuat harus mengetahui titik-titik kritis dimana proses produksi harus dilakukan secara aseptis (higienis). Penyiapan dan proses sterilisasi media merupakan titik kritis pertama yang harus diperhatikan.
  2. Kualitas isolat jamur Trichoderma, isolat jamur Trichoderma yang diperbanyak secara massal harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya jumlah dan viabilitas spora tinggi, umur biakan tidak lebih dari (tiga)  bulan dan isolat dalam keadaan segar (baru  dipindahkan  ke media yang baru).  Isolat dapat diperoleh di Laboratorium Agens  Hayati BBP2TP Surabaya.
  3. Inkubasi. Ruangan inkubasi harus mendukung pertumbuhan jamur Trichoderma. Intensitas cahaya, suhu dan kelembaban ruangan harus diatur sedemikian rupa agar pertumbuhan jamur berjalan optimal.

Demikian proses perbanyakan massal jamur Trichoderma skala petani disampaikan, semoga petani Indonesia mau dan mampu memproduksi jamur Trichoderma secara mandiri. Dengan berkembangnya penggunaan jamur Trichoderma sebagai Agensia Pengendali Hayati oleh para petani diharapkan pemakaian fungisida kimia yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman dapat ditekan dan dapat menurun tiap tahunnya. (CAN)

 

untuk data dalam bentuk Ms. Word,silahkan download disini.

 

05. PERBEDAAN EM4, MOL DAN PGPR


PERBEDAAN EM4, MOL DAN PGPR

Sekilas antara Em4, MOL dan PGPR memang nampak hampir sama baik bentuk maupun cara pembuatannya, namun sebenarnya ada beberapa perbedaan yang mendasar antara Em4, Mol dan PGPR

Berikut perbedaan EM-4, MOL dan PGPR

VARIABEL

EM4

MOL

PGPR

Bahan dasar pembuatan Buah-buahan Buah-buahan, kotoran hewan yang masih segar, sampah dapur, bonggol pisang, nasi, trasi dll Akar bambu, ataupun akar tanaman yang lain yang tahan terhadap penyakit akar.
Manfaat Mempercepat pembuatan kompos, menambah microorganisme tanah, menambah kesuburan tanah, bisa digunakan sebagai pupuk daun. Mempercepat pembuatan kompos, menambah microorganisme tanah, menambah kesuburan tanah, bisa digunakan sebagai pupuk daun Mencegah penyakit akar tanaman, menyuburkan akar  tanaman, menambah mikroorganisme yang membantu tanaman, memproduksi hormon bagi tanaman
Kandungan dan jenis mikroorganisme –    Bakteri fotosintetik

–    Actinomicetes

–    Bakteri asam laktat

–    Ragi dan jamur fermentasi

–    Asam amino dan unsur mikro

Tergantung bahan pembuatnya dan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tetapi pada prinsipnya kandungannya hampir sama dengan Em4 Pseudomonas Putida, P. Fluorescens, Serratia Liquefaciens, P. Putida Biovar b, dan Arthrobacter Citreus (bakteri bermanfaat yang tumbuh disekitar akar)
Arti Effective microorganisme (microorganisme yang bermanfaat bagi tanaman) Micro organisme lokal (mikroorganisme yang bersumber dari bahan tertentu yang bermanfaat bagi pertumbuahan tanaman. Sebagai contoh mikroorganisme dari rumen sapi, rumen kambing, bonggol pisang, nasi, buah-buahan dll) Plant growth promoting rhizobacteria (mikroorganisme yang berada disekitar perakaran tanaman)
Apliksi pada tanaman Pada daun dan akar tanaman Pada daun dan akar tanaman Hanya pada akar tanaman

 

Untuk data dalam bentuk Ms. Word,silahkan download disini .

MIKORIZA


MIKORIZA

Berasal dari kata Mycos yang berarti jamur dan Ryzos yang berarti akar

 

Mokoriza adalah jamur yang bersimbiosis secara mutualisme dengan akar tanaman. Penyebaran sangat merata mulai dari daerah pantai sampai pegunungan, namun berkembang cukup baik di daerah pantai. Seiring dengan semakin luasnya lahan kritis keberadaan Mikoriza juga semakin menurun sehingga perlu usaha2 pengembangan untuk mempertahankan agar lahan kritis tidak semakin meluas.

Klasifikasi Mikoriza

Secara umum mikoriza ada 2 kelompok, yaitu :

  1. Endomikoriza/Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA)

Ciri – ciri: Adanya struktur berupa vesikel dan arbuskul.

–       Vesikel merupakan penggelembungan hifa MVA yang berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan.

–       Arbuskul merupakan sistem percabangan hifa yang kompleks, bentuknya seperti akar yang halus dan berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara jamur dan tanaman.

MVA jenis ini tergolong dalam genus Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora.

  1. Ektomikoriza

Ciri – ciri: Adanya struktur berupa mantel hifa (Hartig net) yang berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi. MVA jenis ini tergolong dalam kelas Basidiomycetes atau Ascomycetes.

Manfaat / fungsi mikoriza bagi tanaman:

  1. Meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Bahkan ada peneliti yang mengatakan jika pada akar tanaman tahunan tertentu diberi mikoriza dapat tumbuh lebih besar 6-15 kali pada umur 2 tahun. Demikian juga tanaman yang lain juga akan tumbuh lebih subur jika diberikan mikoriza seperti jagung, kedelai, padi, cabai, tomat, terong dll.

  1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit akar, penyakit tanah dan serangan nematoda. Dengan pemberian mikoriza biasanya tanaman akan lebih tahan terhadap serangan Fusarium sp, Phytopthora sp, Pytium sp penyebab rebah kecambah pada pembenihan.
  2. Meningkatkan penyerapan unsur hara terutama P, Ca, N, Cu, Mn, K, dan Mg. Simbiosis mutualisme terseebut dilakukan dengan cara tanaman memberikan sisa karbohidrat dan gula yang tidak terpakai kepada mikoriza dan ditukar dengan unsur-unsur P, Ca, N, Cu, Mn, K dan Mg oleh mikoriza.
  3. Mikoriza menghasilkan ZPT di perakaran tanaman sehingga tanaman bisa tumbuh lebih subur.
  4. Mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur hara oleh akar karena dibantu oleh miselium mikoriza eksternal dengan memperluas permukaan penyerapan akar. Miselium mikoriza mampu masuk dalam pori tanah yang tidak dapat ditembus oleh akar tanaman.
  5. Mengurangi stres tanaman dalam kondisi kekurangan air, karena akar tanaman dibantu mikoriza dalam penyerapan air sehingga akar memiliki jangkauan lebih panjang. Menurut informasi jangkauan miselium mikoriza bisa mencapai 10-15 m sehingga sangat bagus digunakan untuk budidaya tanaman perkebunan seperti jabon, jati, akasia dll
  6. Mikoriza dapat meningkatkan aerasi dalam tanah karena kemampuan mikoriza dalam memperbaiki agregat tanah.
  7. Memacu perkembangan mikroba saprofitik nonpatogenik disekitar perakaran sehingga tanaman lebih sehat dan lebih subur.
  8. Memacu perkembangan mikroba saprofitik nonpatogenik disekitar perakaran sehingga tanaman lebih sehat dan lebih subur.
         
Tanaman pinus yang terkontaminasi Mikoriza Tanaman pinus yang tidak terkontaminasi Mikoriza Akar tanaman yang diselimuti mikoriza yang diperbesar Jati bermikoriza umur 6 bulan = 3 m Jati tanpa mikoriza umur 6 bulan = 1 m

 

   

Struktur mikoriza dalam akar

Hifa mikoriza berkembang menghubungkan akar dengan tanah

 

CARA PEMBIAKAN MIKORIZA

  1. A.       PEMBIAKAN DI POLYBAG/POT:

Bahan

–       Media pembiakan         :  Zeolit/pasir, tanah, arang sekam

–       Tanaman Inang             :  Benih Sorghum/jagung

–       Starter mikoriza            :  akar yang bermikoriza atau media yang mengandung spora MVA, dapat diperoleh di beberapa tempat antara lain:

ü  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Serpong

ü  Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta

ü  Institut Pertanian Bogor

ü  Hasil pembiakan sendiri

–                                                                                        Peralatan

Dandang sabluk, cetok, gunting, hand sprayer, kompor, bak plastik, ember plastik,.

Gambar 1: Sebagian bahan dan alat yang digunakan

Tahap perbanyakan

  1. Sterilisasi media pembiakan dengan dipanaskan menggunakan dandang sabluk selama 1 – 2 jam à masukkan media ke dalam pot/polibag sampai ¾ penuh
Gambar 2. Sterilisasi media tanam Gambar 3. Masukkan media kedalam polibag Gambar 4.Media perbanyakan siap digunakan
  1. Penanaman Inang

Cara menanam benih Inang pada media pembiakan adalah sebagai berikut:

  1. Buat lubang tanam pada media pembiakan dengan kedalaman ± 2-3 cm.
  2. Letakkan starter Mikoriza sebanyak 0,5-1 gram (minimal mengandung 10-20 spora) pada lubang tanam tersebut.
  3. Tanam inang yang telah berkecambah dengan posisi tunas menghadap ke atas lalu tutup dengan media pembiakan.
Gambar 5. Benih tanaman inang yang digunakan Gambar 6. Stater mikoriza dimasukkan kedalam media perbanyakan
  1. Incubasi dan Pemeliharaan (sampai umur ±2 bulan)
    1. Tanaman inang diletakkan pada tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari
    2. Penyiraman

Tidak perlu dilakukan secara teratur cukup dg menjaga kelembaban media tanam

  1. Pemupukan

Dilakukan secukupnya dengan pupuk cair yang rendah P

  1. Jika terserang hama dan penyakit à dicabut dan diganti dengan benih yang baru.
Gambar 7. Tanaman inang diletakkan di tempat yang cukup sinar matahari Gambar 8. Pemupukan
  1. Stressing (setelah umur ≥ 2 bulan)

Adalah usaha untuk menghambat pertumbuhan tanaman inang untuk  memacu MVA membentuk struktur tahan berupa spora.

Usaha-usaha stressing yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Penghentian penyiraman

Menghentikan penyiraman pada bulan ke3, dalam kondisi seperti ini akar tanaman inang akan berusaha keras untuk mendapatkan air. Pada saat inilah simbiosis antara MVA dan akar tanaman inang berjalan optimal. Hifa-hifa MVA akan tumbuh memanjang untuk membantu akar tanaman inang mencari sumber air.

  1. Pemaparan sinar matahari

Dalam kondisi tanpa penyiraman dikombinasikan dengan melakukan pemaparan di bawah sinar matahari akan semakin menekan kondisi fisik tanaman inang.

  1. Topping

Dilakukan dengan hanya menyisakan batang bawah ± ¾ nya saja. Dalam kondisi ini perlahan-lahan tanaman inang akan mati. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan tersebut MVA akan membentuk struktur tahan berupa spora untuk mempertahankan hidupnya.

  1. Pemanenan
    1. Setelah tanaman inang mati (umur ± 3 bulan) à bongkar tanaman inang à campur dan aduk media inang à  potong2 akarnya ± 0,5 cm à campur dengan zeolite à siap diaplikasikan.
    2. Bila tidak langsung digunakan kemas dalam kantong plastik dan disimpan dalam lemari es.
    3. Mikoriza hasil perbanyakan dikatakan berkualitas jika dalam uji laboratorium mengandung ±10-20 spora/gr media.  Mikoriza dapat bertahan sampai 1 tahun, semakin lama akan terjadi penurunan kualitas.  Oleh karena itu sebaiknya segera diaplikasikan.
Gambar 9. Pembongkaran tanaman inang Gambar 10. Pemotongan akar tanaman inang yang telah terinfeksi mikoriza Gambar 11. Pencampuran potongan akar tanaman inang dengan zeolith
Gambar 12. Pengemasan mikoriza dalam media zeolith Gambar 13. Mikoriza siap digunakan
  1. Aplikasi di Lapang
    1. Saat pembibitan

Penggunaan MVA lebih efektif diaplikasikan pada saat pembibitan karena MVA akan segera menginfeksi jaringan akar yang relatif masih muda. Dengan demikian bibit yang akan dipindahkan ke lahan perakarannya telah terlindungi oleh MVA.

  1. Pada saat bibit dipindah ke lahan.

Caranya yaitu dengan membuat lubang tanam kemudian mengambil tanahnya dan mencampurnya dengan mikoriza. Dosis yang disarankan minimal 15 – 20 gram/bibit. Aplikasi sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari (pukul 16.00 – 17.00 WIB).

  1. B.        PEMBIAKAN DI BEDENGAN:
    1. Persiapan Lahan

–       Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur.

–       Buat media bedeng ukuran 25m x 2m untuk menghasilkan 4 ton tanah bermikoriza

  1. Sterilisasi lahan

–       Pada bedengan di atas disebarkan dazomet granular 50-60gr/m2 à diaduk merata lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.

–       Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan, selain untuk meratakan hasil juga untuk menguapkan sisa fumigasi.

–       Lima hari kemudian bedengan tersebut dapat digunakan.

  1. Inokulasi

–       Membuat lobang untuk tanaman inang (jagung, sorgum atau  pueraria).

–       Pada tiap lubang diberi starter mikoriza ½ – 1 gram

–       Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan  pra inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan.

  1. Multiplikasi

–       Perawatan tanaman inang perlu dilakukan selama di media bedeng pembiakan.

–       Setelah tanaman inang berbunga sebaiknya digunting u/ merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza.

  1. Panen Inokulum

–       Setelah tanaman inang mengering, tanah media bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum.

–       Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan sebatas lapisan yang telah dilakukan sebelumnya (20-25 cm).

  1. Pemakaian hasil

–       Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 gr/tanaman.

–       Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan.

 

 

 

 

Tabel perbandingan perlakuan dengan mikoriza dan tanpa mikoriza:

NO

WAKTU

MIKORIZA

KONTROL

Tinggi (cm)

Σ daun

Tinggi (cm)

Σ daun

1

21-Nov-10

7

7

5.7

6

2

22-Nov-10

8.5

8

7.4

9

3

23-Nov-10

10

9

9.8

9

4

24-Nov-10

13.5

9

12.9

9

5

25-Nov-10

19.5

12

17

12

6

26-Nov-10

20.5

12

18.4

12

7

27-Nov-10

22.2

12

19.2

12

8

29-Nov-10

22.4

13

20

12

9

30-Nov-10

23.2

11

21

11

10

3-Dec-10

27.5

10

23.5

10

11

4-Dec-10

28.9

9

25

10

12

5-Dec-10

29.1

9

25.2

10

13

6-Dec-10

30

11

26

10

14

7-Dec-10

30.9

11

27

10

Anda bisa memperoleh Mikoriza dan jenis-jenis produk Pertanian Organik lainnya melalui herdinbisnis.com

 

Cara Order:

SMS Nama, Alamat, Jenis dan Jumlah Produk kirim ke 081249412121

 

Anda mungkin juga meminati:

–       Tahukah Anda tentang Mikoriza ?

–       Bermanfaat lho untuk Tanah …

–       Manfaat Mikoriza bagi Tanaman

–       SEDIA MIKORIZA, Pupuk Hayati Perangsang Pertumbuhan Akar

–       Budidaya Jagung Organik versi Herdinbisnis Di Wilayah BPP Demung, Cara Tanam Jejer Legowo

LinkWithin

http://www.herdinbisnis.com

Pelatihan Pembuatan dan Perbanyakan Mikoriza di UGM

6 Juli 2012

Manfaat mikoriza bagi tanaman :

  1. Memperbaiki penyerapan air dan hara.

–       Peningkatan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro : N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Mn dan Zn.

–       Sinergis dengan mikroorganisme lain. Keberadaan mikoriza juga bersifat sinergis dengan mikroba potensial lainnya seperti bakteri penambat N dan bakteri pelarut fosfat. Akar tanaman yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan tidak tersedia untuk tanaman.

–       Jangkauan penyerapan akar tanaman yang diberi mikoriza menjadi 200 – 300 kali lebih luas dibandingkan tanaman tanpa diberi mikoriza.

  1. Memperbaiki pertumbuhan akar.
  2. Memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman.

–       Penyerapan air dan hara lebih baik.

–       Mikoriza memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh. Mikoriza dapat memberikan hormon seperti auksin, sitokinin, giberellin, juga vitamin kepada inagnya.

  1. Mengurangi guncangan (shock) saat pemindahan bibit.
  2. Mengurangi cekaman (stess) karena kekeringan.

–       Stress unsur hara

–       Stress kandungan garam

–       Stress nutrisi

–       Stress logam berat

  1. Tahan terhadap serangan patogen.

–       Berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya infeksi patogen akar.

–       Mikoriza dapat melepaskan antibiotik yang dapat menghambat perkembangan patogen.

  1. Lebih banyak bunga dan buah yang dihasilkan tanaman.
    Sebaiknya jika kita ingin hasil yang baik dari pemakaian pupuk hayati maka kita kombinasikan dengan Mikoriza. Mikoriza memiliki resistensi yang besar terhadap hama yang memakan daun/serangga, serta pathogen. Mikoriza tidak dapat tumbuh pada tempat yang tergenang dalam waktu lama sehingga drainase harus baik. Aplikasi Mikoriza tidak boleh bersamaan dengan mikroba anti fungi (misal : Trichoderma harzianum), serta tidak menggunakan pupuk anorganik yang berlebihan terutama Phospat dan tidak menggunakan fungisida yang berlebihan.

 

BAB I

PENDAHULUAN

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun
penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu
Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba.
Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N.
Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat
atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman.
Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas.
Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil
akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik
misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya
bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N
non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba
pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki
kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi
tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut
P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi
tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain:
Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba
yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi
dalam melarutkan K.

Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah:

Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza.
Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh
tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap
kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan
Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat
merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan
diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar.
Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain:
Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.

Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri.

Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur
(mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara
jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula
sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara
tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis
dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini
memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang
merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza
berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan
meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009)

Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan
berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah
juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah
kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama
unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk
hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik
cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini.
infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang
lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya
(karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997).

Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan
mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil
fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes,
famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora,
Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek
akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores
(Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat
bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan
pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan
produktivitas tanaman.

Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat
dikelompokkan ke dalam tiga tipe :
1. Ektomikoriza
2. Ektendomikoriza
3. Endomikoriza

Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar,
bercabang, rambut-rambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi
sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke
dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks
membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq.

Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas.

Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak
membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu
sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut
Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut
arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004).

Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul
Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon
rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family)
pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa
dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper
(jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenis-jenis Fagaceae), pinus,
beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum.

 

BAB II

ALAT DAN BAHAN

ALAT DAN BAHAN:

  1. Tabung ukur
  2. Neraca
  3. Magnenic stiner
  4. Ph stik
  5. Sendok zat
  6. Erlenmeyer
  7. Gelas kimia
  8. Botol semprot aquadest
  9. Plastik
  10. Tamtor
  11. Cetok
  12. Autoclave
  13. Tanah
  14. Pasir
  15. Ayakan tanah
  16. Kertas saring
  17. Baki
  18. Gelas aqua
  19. Polybag
  20. Ohouse

 

BAB III

CARA KERJA

PERSIAPAN

  1. Campurkan tanah dengan pasir dengan perbandingan 1 : 1.  Lalu masukkan dalam kantong plastik tahan panas.  Kemudian lakukan sterilisasi dengan autoclave dengan suhu 1200 dan tekanan 15lbs selama 1 jam.  Sterilisasi di ulang 3x berturut-turut dengan selang waktu 1 hari.

Cara menggunakan autoclave:

  • Periksa air autoclave kira – kira mencukupi penyeterilan
  • Masukkan kantong-kantong plastik tadi ke auto clave maksimal 20 bungkus
  • Tutuplah katup gas dan hidupkan atau nyalakan autoclave atau saklar yang paling bawah
  • Nyalakan kedua saklar
  • Putar pengaturan suhu 60 (timer)
  • Putar pengaturan Mpa maksimal
  • Tunggu sampai tekanan 0,15 kemudian matikan satu saklar ( P. S )
  • Putar pengaturan Mpa ( lampu kuning hidup dan tunggu sampai lampu merah hidup) alarm hidup.
  • Matikan P.S (power switch) autoclave
  1. Sediakan biji jagung masing-masing anak 5 biji dan direndam menggunakan HgCl2 0,1 % selama 10 menit.  Lalu bilas dengan air steril selama 3x dan masukkan pada cawan petri steril atau botol steril yang telah dilapisi kertas saring atau kapas basah.

Membuat larutan Jhonson

a.       Penimbangan unsure makro elemen dan pelarutan zat

         Cara menggunakan Ohouse

  Nyalakan timbangan ohouse, dimana sebelumnya telah disambungkan kealiran listrik

  Siapkan bahan yag ditimbang bawa keruangan penimbangan

  Nol kan angka yang tertera pada timbangan ( thare)

  Timbangan siap digunakan

         Pelarutan zat dengan menggunakan magnetic strirrer

Setelah zat ditimbang sesuai takaran kemudian masukkan dalam gelas campur dengan aquadest ± 45 ml.  Masukkan magnet kedalam gelas taruh dimesin penghangat (magnetic striker). Hidupkan tombol penghangat, dan hidupkan tombol pengaduk tunggu sampai lariutan benar –benar homogen, kemudian masukkan kedalam plastic.

Pemberian label pada plasti untuk membedakan jenis larutan yaitu: Nama zat, Dosis takaran (gram), tanggal pembuatan, dosis pengambilan (ml)

Unsur makro elemen Senyawa Konsentrsi larutan stok (gr/lt) Pembuatan larutan Volume larutan stok perliter Larutan final (ml)
N : K KNO3 101/20= 5,05 50 ml 6 ml
Ca3PO4 236/20= 11,8 400 ml 32 ml
P NH4H2PO4 115/20= 5,75 50 ml 2 ml

Cara membuat larutan jhonson

–          Larutkan Johnson tanpa fosfor ( NH4H2PO4 )

–          Membuat larutan fosfor ( P )

Cara : larutkan 2 ml NH4H2PO4 dalam 1 liter aquadest

–          Membuat larutan Johnson B

Cara: mencampurkan 300 ml larutan Johnson tanpa fosfor dengan 200 ml larutan fosfor dan 700 ml aquadest.

–          Membuat larutan Johnson C

Cara: mencampurkan 80 ml larutan Johnson tanpa fosfor ditambah dengan 200 ml larutan fosfor dan 300 ml aquadest.

B.   Perbanyakan Mikoriza pada akar tanaman Tebu

Untuk perbanyakannya dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:

1.      Pengambilan tanah yang terdapat miselium mikoriza didalam tanah disekitar perakaran tebu secukupnya.

2.      Keringkan tanah tersebut sampai benar – benar kering dengan sinar matahari.

3.      Cara penanaman mikoriza sebagai berikut:

  10 gram dari tanah yang mengandung mikoriza dibenamkan pada campuran tanah dan pasir yang sudah disterilkan dengan kedalaman sekitar 5 cm.

  Biji jagung uang sudah dikecambahkan ditanam di atas inokulum sedalam 3 cm.

  Tanaman jagung ini dipelihara dengan larutan Johnson sejak 2 mingggu setelah tanam hingga berumur 8 minggu.  Di samping itu tanaman disiram dengan aquadest 2x sehari.

Cara pemberian larutan Johnson pada jagung

  2 minggu setelah penanaman diberi 10 ml larutan Johnson tanpa P.

  2 minggu berikutnya diberi 20 ml larutan Johnson B

  2 minggu berikutnya diberi 40 ml larutan Johnson B

  2 minggu berikutnya diberi 60 ml larutan Johnson C

  Tanaman jagung dibiarkan selama 1 minggu tanpa penambahan air maupun larutan Johnson

  Bagian tanam yang ada di atas permukaan media dipotong dan bagian perakaran dibongkar untuk melihat pertumbuhan mikoriza

  Jumlah spora mikoriza dapat dihitung dengan cara mengambil 1 gram media yang sudah dibongkar kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah diberi air ±9 ml air.  Dikocok hingga homogen, campuran kemudian di buang ke dalam cawan petri, dilihat di bawah mikroskop stereo.

BAB IV

APLIKASI MIKORIZA

Cara penggunaanya bisa melalui badan buah cendawan dibelah dan dicampur air, sehingga sporanya terhambur dalam air.

Suspensi spora ini disiramkan pada akar tanaman. Selanjutnya, dengan masukan sedikit hara, spora berkecambah dan berkembang biak diarea peerakaran  tanaman. Hifa- hifa lalu membantu penyerapan hara dan seterusnya. Namun, kelebihan penggunaan pupuk jangan terlalu banyak. Kelebihan pupuk malah akan mengakibatkan tidak terbentuknya mikoriza. Hara fosfor yang berlebihan justru membentuk struktur vegetatif.

BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Praktikum perbanyakan mikoriza dilakukan pada tanggal 8 mei 2010 sampai tanggal 15 juli 2010, laporan praktikum ini dapat disimpulkan keadaan tanaman sampai perkembangan mikoriza. Laporan keadaan medium tanaman untk perbanyakan mikoriza yaitu :

a.       Tanaman tumbuh sampai panjang batang 60 – 70 cm dan dalam keadaan berbunga.

b.      Perkembangan misellium mikoriza merata keseluruh bagian aqua/media tanam dalam pollibag

c.       Hasil dari perbanyakan mikoriza :

EFEKTIVE MIKRO ORGANISME (EM-4)


SELAMAT DATANG DI TEHNOLOGI EM-4

 

Kandungan mikroorganisme utama dalam Em-4 yaitu:

  1. 1.        Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp.)

Bakteri ini mandiri dan swasembada, membentuk senyawa bermanfaat (antara lain, asam amino, asam nukleik, zat bioaktif dan gula yang semuanya berfungsi mempercepat pertumbuhan) dari sekresi akar tumbuhan, bahan organik dan gas-gas berbahaya dengan sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. Hasil metabolisme ini dapat langsung diserap tanaman dan berfungsi sebagai substrat bagi mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terus bertambah

  1. 2.        Bakteri asam laktat ( Lactobacillus spp. )

Dapat mengakibatkan kemandulan ( sterilizer) mikroorganisme yang merugikan, oleh karena itu bakteri ini dapat menekan pertumbuhan; meningkatkan percepatan perombakan bahan organik; menghancurkan bahan organik seperti lignin dan selulosa serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan senyawa beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik Bakteri ini dapat menekan pertumbuhan fusarium, yaitu mikroorganime merugikan yang menimbukan penyakit pada lahan/ tanaman yang terus menerus ditanami.

  1. 3.        Ragi / Yeast (Saccharomyces spp)

Melalui proses fermentasi, ragi menghasilkan senyawa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik atau bahan organik dan akar-akar tanaman. Ragi juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim untuk meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi Ragi adalah substrat yang baik bakteri asam laktat dan Actinomycetes

  1. 4.        Actinomycetes
    Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri. Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah.
  2. 5.        Jamur Fermentasi (Aspergillus dan Penicilium)

Jamur fermentasi  menguraikan bahan secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester dan zat anti mikroba. Pertumbuhan jamur ini membantu menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga dan ulat-ulat merugikan dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya. Tiap species mikroorganisme mempunyai fungsi masing-masing tetapi yang terpenting adalah bakteri fotosintetik yang menjadi pelaksana kegiatan EM terpenting. Bakteri ini disamping mendukung kegiatan mikroorganisme lainnya, ia juga memanfaatkan zat-zat yang dihasilkan mikroorganisme lain.

Cara perbanyakan Em-4

BAHAN

 

CARA MEMBUAT

– Em4 botol kuning : 1 liter

– Katul                   : ≥ 3 Kg

– Molase                : 250 cc

– Terasi                 : ¼ Kg

– Air                      : 5 Liter

à

Masak air sampai mendidih à masukkan terasi, bekatul dan molase à aduk sampai rata à setelah dingin masukkan Em4 à aduk à simpan anaerob  3-4 hari à siap digunakan.

Untuk membuat lagi cukup menggunakan EM yang sudah kita buat sendiri

 

 

 

 

 

 

 

Aplikasi Em-4

  1. 1.        Bidang Pertanian
    1. a.    Membuat bokashi

Bahan

–       Em 4                    : 1 liter

–       Molase                 : 1 liter

–       Bahan organic*    : 1 ton

–       Air                       : secukupnya

*Segala macam kotoran ternak, jerami, katul, sekam, serbuk gergaji, ampas kelapa, ampas tahu, kulit kacang, kulit kedelai, segala macam rerumputan, segala macam dedaunan, dan lain-lain yang ada disekitar kita. (prinsip semakin beraneka ragam semakin baik)

Cara membuat

1)        Aerob

Em4 dan Molase dicampur dengan perbandingan 1 : 1 simpam selama 3 – 24 jam à siramkan kebahan organik secara merata dan tambahkan air sampai kebasahan 30% à ditumpuk dengan ketebalan ± 30 – 50 cm à ditutup à kontrol suhu jika lebih dari 50oC à diaduk2 sampai suhu stabil ± 30 oC à bokashi sudah siap untuk digunakan.

Jika tidak langsung digunakan à disimpan anaerob sampai 4 bulan

Bokashi dikatakan jadi jika:

–       Muncul hifa putih halus seperti kapas (tergantung bahan organic dan mikroorganisme tambahan lainnya) biasanya pada hari ke 5-10

–       Muncul aroma segar dan manis

2)        Anaerob

Sampai dengan cara mencampur sama, bedanya bahan yg sudah disiram Em4 à disimpan anaerob. Masa fermentasi terjadi 3-4 hari

  1. b.   Perawatan

Tujuan: Untuk mempertahankan jumlah mikro organisme dalam keadaan optimal

Caranya:

Buat campuran Em4 : Molase 0,5 – 1 % à siramkan pada tanah/tanaman 1 minggu sekali

Catatan:

–       Bokashi adalah pupuk organik yang bekerja lambat tidak seperti pupuk kimia responnya spontan

–       Pada tahap awal pemakaian pemberian pupuk kimia tetap diberikan seperti biasanya kecuali N dikurangi ±25 %

–       Jika pemakaian sudah > dari 5 kali seluruh pupuk kimia bisa dikurangi secara bertahap sambil diamati kondisi tanaman

  1. 2.        Bidang Peternakan
    1. Sebagai air minum ternak larutkan 1 cc EM-4/liter air (0,1%)
    2. Sebagai pakan ternak larutkan 1 cc EM-4/liter air (0,1%) kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak.
    3. Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molase ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 (1%) kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air.

 

 

 

  1. 3.        Bidang Perikanan
    1. Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu.
    2. Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar.
    3. Interval 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak

     

untuk datadalam bentuk Ms. Word,silahkan download disini

PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacteria)


PGPR

(Plant Growth Promoting Rizobacteria)

Adalah sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidupnya secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman keberadaan mikroorganisme ini akan sangat menguntungkan. Bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya

 

Manfaat:

–       Mampu memacu pertumbuhan dan fisiologi akar.

–       Mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga.

–       Meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti phospat, belerang, besi dan tembaga.

–       Memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan menguntungkan serta mengontrol hama dan penyakit tumbuhan

 

Bahan, cara membuat dan cara aplikasi:

  1. Akar bambu      : 1 ons
  2. Gula pasir         : 4 ons
  3. Trasi                : 2 ons
  4. Dedak halus     : 1 kg
  5. Air                    : 10 lt
  6. Penyedap rasa  : secukupnya

à

Rendam akar bambu dalam air matang dingin 2-4 hariRebus bahan 2 s/d 6 selama 20 menit setelah mendidih à setelah dingin masukkan akar bambu à simpan anaerob 2 – 3 minggu à  saring à siap digunakan à campurkan 1 ltr/tanki à semprotkan ke lahan yang belum ditanami à ulangi setiap 20 hari sekali

PERLAKUAN BERBAGAI TANAMAN DG PGPR

NO

JENIS TANAMAN

PERLAKUAN BENIH

PERLAKUAN SUSULAN

1

Tanaman yang memiliki umur produktif  ± 30 hari direndam 5 menit 1 minggu setelah tanam2 minggu setelah tanam

2

Tanaman yang memiliki umur produktif  ± 60 hari direndam 5 – 15 menit 3 minggu setelah tanam5 minggu setelah tanam

3

Tanaman yang memiliki umur produktif  ± 3 bulan direndam 15 – 30 menit 3  minggu setelah tana7  atau 9 minggu setelah tanam

4

Tanaman yang memiliki umur produktif  ± 3 – 4 bln direndam 2 – 8 jam 1 minggu sebelum pindah tanam3 atau 5 minggu setelah tanam

5

Tanaman yang memiliki umur produktif 12 bulan direndam 8 – 12 jam Perlakuan dilakukan sebulan sekali sejak ditanam hingga tanaman berumur 1 bulan sebelum panen

6

Tanaman disemaikan dengan umur kurang lebih 3 tahun direndam 12 – 18 jam 1 minggu sebelum pindah tanamPenyiraman 1 bulan sekali setelah pindah tanam.

7

Tanaman tahunan direndam 18 – 24 jam Penyiraman 1 bulan sekali.

Catatan:
Bakteri PGPR adalah bakteri tanah yang masa hidupnya tidak panjang, karena itu perlu mengembalikan populasinya setiap akan menebar benih

MEMBUAT DAN MENGEMBANGKAN PGPR

( Plant Growth Promoting Rhizobacteria )

Salah satu mikroorganisme yang menguntungkan tanaman adalah bakteri yang mengkolonisasi akar atau tanah rizosfer tanaman. Bakteri ini disebut sebagai PGPR. Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) juga menjelaskan bakteri tanah yang mengkolonisasi akar tanaman setelah inokulasi melalui benih, dan bakteri ini dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Akibat proses kolonisasi adalah: mikroba memperbanyak diri di spermosfer karena adanya eksudat benih, mikroba menempel di permukaan akar, dan mikorba mengkolonisasi sistem akar yang sedang tumbuh.

 

Mekanisme PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman

  1. 1.        Menekan penyakit tanaman (bioprotektan)

Bakteri ini sanggup membunuh organisme patogen atau penyakit tanaman setelah bakteri tersebut berkembang biak dengan baik. Agen pengendali biologis yang telah banyak diteliti adalah genus Bacillus, Streptomyces, Pseudomonas, Bulkholderia dan Agrobacterium. Mikroba tersebut menekan pertumbuhan penyakit melalui mekanisme:

–       Induksi resistensi sistemik dari tanaman

–       Produksi siderofor yang mengkhelat besi sehingga besi tidak tersedia untuk patogen

–       Sintesis metabolit yang bersifat anti jamur seperti antibiotik, enzim yang mendegradasi dinding sel jamur, atau hidrogen sianida yang menekan pertumbuhan jamur patogen

–       Mampu berkompetisi dengan patogen untuk nutrisi atau tempat di akar

 

  1. 2.        Memperbaiki ketersediaan nutrisi (biofertilizer)

Biofertilizer (pupuk hayati) yang sering digunakan untuk meningkatkan penyerapan tanaman adalah:

–       Azotobacter. Bakteri pemfiksasi nitrogen hidup bebas.

–       Azospirillum. Bakteri pemfiksasi nitrogen yang berasosiasi dengan rumput-rumputan

–       Pseudomonas. Bakteri yang menghasilkan siderofor, melarutkan fosfat

–       Thiobacillus. Bakteri pengoksidasi sulfur untuk meningkatkan serapan S

–       Penicillium dan Aspergillus. Pelarut fosfat

–       Jamur Mikoriza. Meningkatkan penyerapan P

 

  1. 3.        Memproduksi fitohormon (Biostimulan)

Bakteri Azotobacter, Azospirillum, Pseudomonas, dan Bacillus menghasilkan fitohormon atau faktor tumbuh (growth regulator) yang menyebabkan tanaman menghasilkan akar rambut dalam jumlah yang lebih besar sehingga meningkatkan permukaan absortif akar untuk menyerap unsur hara. Fitohormon yang dihasilkan adalah asam indol asetat (Indole acetic acid, IAA), sitokinin, giberelin. Bakteri juga menghasilkan fitohormon etilen yang menghambat pertumbuhan tanaman.

Pembuatan  Biang ( Indukan ) PGPR

Bahan :

  1. Akar jagung, akar kolonjono ( Rumput Gajah ), Akar putrid malu, Akar Teki, Rebung Banbu ( Legi ), Tauge dan akar yang dituju.
  2. Semua bahan dikumpulkan sebanyak 1 kg
  3. Air 3 – 5 liter air matang yang sudah dingin

Cara pembuatan

  1. 1 kg kumpulan akar di cacah/dicincang
  2. Hasil cincangan dicampur dengan air dan dimasukan dalam jerigen
  3. Setiap hari digoyang-goyang, setelah 5 hari sudah jadi biang ( indukan )

 

Perbanyakan PGPR

Bahan

  1. Bekatul halus    : 4 gelas
  2. Terasi                 : 2 ruas ibu jari
  3. Gula pasir          : 2 sdm
  4. Air kapur/injet   : 1 sdt
  5. Air bersih          : 5 liter
  6. Biang moretan   : 0,5 liter

Cara Pengembangan

  1. Semua bahan di campur menjadi 1 dan diaduk hingga campur
  2. Adonan direbus
  3. Didiamkan sampai dingin, kemudian disaring
  4. Hasil saringan kemudian disimpan

 

Penggunaan PGPR

  1. 1 gelas : 1 liter air  untuk perendaman benih selama 6 jam dan untuk penyiraman media tanam atau media semai.
  2. 1 gelas : 14 Liter air untuk aplikasi pada tanaman dengan dikocor atau disemprotkan.

Untuk data dalam bentuk Ms. Word,silahkan download di sini

01. ANEKA MOL (Mikro Organisme Lokal)


MIKRO ORGANISME LOKAL

( M O L )

 

MOL adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumberdaya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung hara mikro, makro dan bakteri yang berpotensi sebagai dekomposer, perangsang tumbuhan, agens pengendali hama / penyakit dan pestisida organic terutama sebagai fungisida. MOL mempunyai fungsi beranekaragam tergantung dari bahannya. Kita harus membuat lebih dari satu macam MOL dan dalam pengaplikasiannya sebaiknya dikombinasikan dengan MOL2 yang lain agar hemat biaya.

Tiga bahan utama dalam pembuatan MOL:

  1. Glukosa.

Bahan ini sebagai sumber energi bagi mikroorganisme yang bersifat spontan (lebih mudah dimakan mereka). Sumber glukosa bisa didapat dari: gula, molases, air kelapa, air nira, tetes dll

   2. Karbohidrat.

Bahan ini dibutuhkan mikroorganisme sebagai sumber energi. Sumber karbohidrat bisa diperoleh dari: air cucian beras, nasi bekas/basi, singkong, kentang, gandum, bekatul dll

   3. Sumber Bakteri (mikroorganisme lokal).

Bahan yang mengandung banyak mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman antara lain:

bonggol pisang, rebung bambu, keong mas, aneka buah-buahan, aneka sayuran , nasi, urine, pucuk daun labu, tapai, singkong, buah maja dll.

Biasaya dalam MOL tidak hanya mengandung 1 jenis mikroorganisme tetapi beberapa mikroorganisme diantaranya: Rhizobium sp, Azospirillium sp, Azotobacter sp, Pseudomonas sp, Bacillus sp dan bakteri pelarut phospat.

Berikut kami sajikan macam2 bahan dasar MOL:

  1. 1.        MOL AKAR BAMBU (PGPR)

Mengandung Rhizobium Bacteria yaitu bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Keberadaan mikroorganisme ini memberi keuntungan yaitu:

–       Mampu memacu pertumbuhan dan fisiologi akar.

–       Mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga.

–       Meningkatkan ketersediaan nutrisi lain seperti phospat, belerang, besi dan tembaga.

–       Memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan menguntungkan serta mengontrol hama dan penyakit tanaman

Bahan, cara membuat dan cara aplikasi:

–  Akar bambu      : 1 ons-  Gula pasir         : 4 ons

–  Trasi                 : 2 ons

–  Dedak halus      : 1 kg

–  Air                    : 10 lt

–  Penyedap rasa  : secukupnya

Rendam akar bambu dalam air matang dingin 2-4 hariRebus bahan 2 s/d 6 selama 20 menit setelah mendidih. Setelah dingin masukkan akar bambu dan simpan anaerob 2 – 3 minggu, saring lalu  siap digunakan, campurkan 1 ltr/tanki, semprotkan ke lahan yang belum ditanami. ulangi setiap 20 hari sekali !

Perlakuan berbagai tanaman dg PGPR:

NO

JENIS TANAMAN

PERLAKUAN BENIH

PERLAKUAN SUSULAN

1

Tanaman yang memiliki umur produktif   ± 30 hari direndam 5 menit –  1 minggu setelah tanam-  2 minggu setelah tanam

2

Tanaman yang memiliki umur  produktif  ± 60 hari direndam 5 – 15 menit –  3 minggu setelah tanam-  5 minggu setelah tanam

3

Tanaman yang memiliki umur  produktif  ± 3 bulan direndam 15 – 30 menit –  3  minggu setelah tanam-  7  atau 9 minggu setelah tanam

4

Tanaman yang memiliki umur  produktif  ± 3 – 4 bln direndam 2 – 8 jam –  1 minggu sebelum pindah tanam-  3 atau 5 minggu setelah tanam

5

Tanaman yang memiliki umur   produktif 12 bulan direndam 8 – 12 jam –  Setiap bulan sampai umur 1 bulan sebelum panen

6

Tanaman disemaikan dg umur    kurang lebih 3 tahun direndam 12 – 18 jam –  1 minggu sebelum pindah tanam-  Selanjutnya 1 bulan sekali

7

Tanaman tahunan direndam 18 – 24 jam –  Penyiraman 1 bulan sekali.

Catatan:
Bakteri PGPR adalah bakteri tanah yang masa hidupnya tidak panjang, karena itu perlu mengembalikan populasinya setiap akan menebar benih

  1. 2.        Daun gamal:

Manfaat dan Kandungan:

–  Pengendali hama ulat-  Pengendali hama penghisap

–  Pengendali tungau (akarisida)

–  Sebagai fungisida-  Sebagai racun serangga karena mengandung  Tanin

–  Sebagai penyubur tanaman karena mengandung N

Bisa dikombinasi dengan pestisida nabati lain seperti daun mindi, tembakau, biji sirsak, akar tuba dll

Bahan dan cara Pembuatan:

–  Daun gamal : 1 kg-  Gula merah : 2 ons

–  Air beras      : 2 liter

campur semua bahan, simpan dalam keadaan  anaerob selama 2 -3 mgg, lalu  saring dan  siap digunakanKonsentrasi: 1 – 4 liter / tanki

 

  1. 3.        Mol Bonggol Pisang

Selain bonggol batangnyapun bisa digunakan untuk MOL, tetapi lebih banyak mengandung unsur P sehingga banyak digunakan sebagai penambah nutrisi tanaman

Manfaat dan kandungan:

–        Mengandung Giberellin dan Sitokinin sebagai zat pengatur tumbuh

–        Mengandung 7 Mikroorganisme yaitu: Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, Mikroba pelarut Phospat dan mikroba Selulotik.sebagai dekomposer bahan organic/kompos

Bahan dan cara membuat:

–  Bonggol pisang    : 1 kg-  Molase                : 200 cc

–  Air cucian beras   : 2 liter

Campur semua, simpan anaerob 2 -3 mgg, siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL       : 1 liter Siramkan pada kompos
Molase   : 1 liter
Air          : 5 liter
  • Untuk pemupukan: 1 liter/tanki à semprot/kocorkan pada tanaman fase vegetative – primordial
  1. 4.        MOL Keong Mas

Manfaat dan kandungan:

–       Mengandung Auksin dan Enzim, Protein, Azotobacter, Azospirillium, Mikroba pelarut Phospat, Staphylococcus, Pseudomonas

–       Untuk hortikultura dapat melebatkan dan memperbesar buahnya.

Bahan dan cara membuat:

–  Keong mas  : 1 kg-  Molase        : 100 cc)

–  Air kelapa    : 1 liter

Campur semua, simpan anaerob 2 -3 mgg, siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL            : 1 literMolase        : 1 liter

Air tawar      : 5 liter

Siramkan pada bahan kompos
  • Untuk pemupukan: 1 liter/tanki à semprot/kocorkan pada tanaman fase vegetative – primordial
  1. 5.        MOL Rebung Bambu

Bambu biasanya tumbuh subur sekalipun didaerah tandus dan mampu tumbuh begitu cepat walaupun tanpa pupuk sama sekali. Dan yang lebih hebat, bambu mampu mengubah tanah tandus menjadi subur. Maka dari itu tanah disekitar perakaran pohon bambu biasa digunakan untuk media pembibitan. Oleh karena itu kita manfaatkan rebung sebagai MOL

Manfaat dan kandungan:

–       Mengandungan C Organik, Giberellin, Azotobacter dan Azospirillium yang tinggi untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara cepat

–       Sangat bagus digunakan untuk pengomposan.

Bahan dan cara membuat:

–  Rebung bambu    : 1 kg-  Air cucian beras   : 3 ltr

–  Buah maja           : 1 buah

–  Molase                : 200 cc

Campur semua, simpan anaerob 2 -3 mgg, lalu siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL              : 1 literMolase           : 1 liter

Air                 : 5 liter

Siramkan ke bahan kompos
  • Untuk pemupukan: 1 liter/tanki semprot/kocorkan pada tanaman fase vegetative – primordial

 

  1. 6.        MOL buah maja/berenuk

Manfaat dan kandungan:

Mengandung ZPT tinggi, glukosa dan toxine serta Nitrogen

Bahan dan cara Pembuatan:

–   Berenuk matang : 1 buah-   Air cucian beras  : 6 liter

–   Kencing hewan   : 4 liter

campur semua anaerob 2 -3 mgg, saring dan siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL       : 1 liter kocorkan pada bahan kompos
Molase    : 1 liter
Air          : 5 liter
  • Untuk pemupukan: 1 liter/tanki à semprot/kocorkan pada tanaman fase vegetative – primordial

 

  1. 7.        MOL Aneka Sayur

Manfaat dan kandungan:

–       Mengandung mikroorganisme pengurai dan penyubur tanaman.

–       Mengandung Sitokinin, karbohidrat, Pseudomonas, Aspergilus dan Lactobacillus

Bahan dan cara membuat :

–  Aneka sayur          : 1 kg-  Garam                   : 5 % dari berat bahan

–  Air cucian beras     : 1 liter

Campur semua bahan à anaerob 15 – 21 hari, saring lalu tambahkan molase 2% dari cairan tersebut

 

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL       : 1 liter kocorkan pada bahan kompos
Molase   : 1 liter
Air          : 5 liter
  • Untuk pemupukan:150 cc/tanki à semprot/kocorkan pada tanaman fase vegetative – primordial
  1. 8.        MOL Aneka Buah

Buah yang digunakan yang tersedia disekitar kita seperti pepaya, mangga, nangka, nanas, pisang & tomat. Kelebihan Mol buah adalah memiliki aroma yang harum seperti aroma buah aslinya

Manfaat dan kandungan:

–       Sebagai perangsang bunga dan buah

–       Meningkatkan kualitas buah seperti daya tahan dan menambah rasa manis buah

–       Sebagai pengurai bahan organik atau pembuat kompos

Bahan dan cara membuat :

–   Aneka buah    : 1 kg-   Molase           : 100 cc

–   Air kelapa       : 1 liter

campur semua  simpan anaerob 2 -3 mgg,  saring dan siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

  • Untuk pembuatan kompos:
MOL       : 1 liter kocorkan pada bahan kompos
Molase   : 1 liter
Air          : 5 liter
  • Untuk pemupukan: 150 cc/tanki, semprot/kocorkan pada tanaman fase primordial – generative

 

 

  1. 9.        MOL Sabut Kelapa

Manfaat dan kandungan:

  • Kaya akan unsur K
  • Bermanfaat sebagai pestisida nabati

Bahan dan cara pembuatan:

–  Sabut Kelapa-  Air bersih

–  Jerami

masukkan sabut kelapa dan jerami ke dalam drum jangan penuh-penuh, masukkan air sampai semua sabut kelapa terendam air à anaerob 2 – 3 mgg à siap digunakan.

Konsentrasi dan cara penggunaan:

Sama seperti MOL-MOL yang lain, siram/semprotkan ketanaman

 

  1. 10.    Zat Pengatur/Perangsang Tumbuh (ZPT)

Terdiri dari lima kelompok dengan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis tanaman, yaitu:

  1. Auxin         : mendukung terjadinya perpanjangan sel pada pucuk
  2. Gibberellin : menstimulasi pembelahan dan perpanjangan sel
  3. Cytokinin   : mendukung terjadinya pembelahan sel
  4. Ethylene     : berperanan dalam proses pematangan buah
  5. Inhibitor     : berperan dalam penghambatan proses biokimia dan proses fisiologis bagi aktivitas keempat ZPT diatas

Bahan dan cara pembuatan:

  1. Untuk Auksin

–  Tauge                  : 1 kg

–  Keong mas          : 1 kg

  1. Untuk Giberelin

–  Jagung                :

–  Rebung                : 2 kg

  1. Untuk Sitokinin

–  Air kelapa            : 1 ltr

–  Bonggol pisang     : 2 kg

  1. Bakteri pengurai       : 200 cc
Hancurkan semua bahan à campur air dengan perbandingannya 1 kg bahan : 1 liter air tambahkan microorganisme pengurai à simpat anaerob ± 2 minggu à setelah itu saring hasilnya dan ZPT organik anda siap digunakan

Konsentrasi dan cara penggunaan:

Cabai : Direndam selama 2 – 3 jam dosis 1 sdk mkn/liter air
Bawang Merah : Sesaat sebelum tanam tanah disiram dengan larutan
Timun : Direndam selama 2 – 3 jam
Tomat : Direndam selama 3 – 4 jam
Kacang panjang : Direndam selama 1 jam
Padi : Direndam selam semalam ( 12 – 24 jam)
Terong : Direndam selama 3 – 4 jam

 Untuk data dalam bentuk Ms. Word, silahkan download di sini

Jangan lupa komennya ya kawan 🙂

 

%d bloggers like this: