TEHNOLOGI PENGAWETAN DAN PENINGKATAN MUTU PAKAN TERNAK

PENGAWETAN PAKAN TERNAK

 

Salah satu problem dalam beternak adalah penyediaan pakan. Suatu inovasi untuk memberikan solusi tentang menyediakan pakan yang cukup baik kwalitas maupun kwantitas yaitu melalui tehnik Pengawetan Pakan Ternak”. Perubahan ini tidak mudah tetapi jika kita mau mencoba maka bukan tidak mungkin penyediaan pakan sepanjang tahun dengan teknik yang sederhana dan murah dapat terlaksana tergantung kemampuan dan kemauan peternak

 

Peralatan Pembuatan Pakan Ternak

Macam-macam silo

Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia.

Beberapa silo yang sudah dikenaladalah:

  1. Pit Silo

Silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun didalam tanah.

  1. Trech Silo

Silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.

  1. Fench Silo

Silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.

  1. Tower Silo

Silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup rapat.

  1. Box Silo

Silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.

 

Ada beberapa tehnik pengawetan pakan ternak antara lain:

  1. 1.        Hay

à Tehnik pengawetan cara kering

Adalah pakan ternak hijauan yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air 20-30%.

Tujuan:

  • Untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya sebab tanaman yang seragam akan memiliki daya cerna yang lebih tinggi.
  • Agar tanaman hijauan dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu.

Pada proses pengeringan terjadi perubahan zat-zat seperti vitamin C dan Karoten menjadi terurai namun kandungan vitamin D bertambah. Pengeringan dengan sinar matahari merupakan cara yang paling mudah dan murah. Prinsip yang harus diperhatikan adalah diusahakan bahan cepat kering

Caranya adalah sebagai berikut:

ü Menghamparkan bahan setipis mungkin di lantai dibolak-balik

ü Menjemur diatas para-para, udara dari 2 sisi (atas bawah)

ü Menjemur pada tempat khusus

Beberapa karakteristik dari hay sebagai pakan ternak:

  • Hay pada sapi muda dapat meningkatkan perkembangan fungsi rumen, sedangkan pada sapi dewasa dapat meningkatkan daya serap bahan makanan.
  • Kualitas hay sangat baik dimana palatabilitas ternak meningkat
  • Kualitas hay bermacam-macam tergantung cuaca, pada musim hujan beberapa satuan nutrisi akan berkurang.
  • Hay lebih ringan 4 kali dibandingkan silase dengan kandungan  bahan kering yang sama

Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:

  1. Metode Hamparan

–       Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari.

–       Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering.

–       Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30% (ditandai dengan warna kecoklat-coklatan).

  1. Metode Pod

–       Dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air ±50%).

–       Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

 

  1. 2.        Silase

à Tehnik pengawetan cara basah

Adalah bahan pakan hijauan yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase.

Tujuan:

  • Mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan.

Prinsip utama pembuatan silase:

  • § Menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.
  • § Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi anaerob
  • § Menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35oC menghasilkan kualitas yang sangat baik.

Hal tersebut dapat diketahuisecara organoleptik, yakni:

  • Mempunyai tekstur segar
  • Berwarna kehijau-hijauan
  • Tidak berbau
  • Disukai ternak
  • Tidak berjamur
  • Tidak menggumpal

Beberapa metode dalam pembuatan silase:

  1. Metode Pemotongan

Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm à simpan an aerob

  1. Metode Pencampuran

Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asamformiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir/onggok

Dosis per ton hijauan sebagai berikut:

–       Asam organik  : 4-6kg

–       Molases/tetes  : 40kg

–       Garam             : 30kg

–       Dedak padi     : 40kg

–       Menir              : 35kg

–       Onggok           : 30kg

Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses.

  1. Metode Pelayuan

–       Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering40% – 50%)

–       Lakukan seperti metode pemotongan

 

Jenis, karakteristik dan jumlah bahan pengawet yang harus ditambahkan

Bahan Pengawet

Pengaruh Bahan Pengawet

Dosis Bahan Pengawet

Cara Pemberian Bahan Pengawet

Asam Formiat Menurunkan pH bahan kasar hingga 4, dan kemudian menekan aktivitas mikroorganisme yang akan mencemari dan mencegah pembentukan protein Untuk Rumput: 0.3 %

Untuk Legume: 0.4 – 0.5%

Alat Penambah Otomatis

Attached to harvester (diberikan bersamaan dengan alat pemanen rumput di lapangan

Molases Mendorong fermentasi laktat pada bahan dengan kandungan gula yang larut dalam air rendah 1 – 3 % dari total berat (Dilarutkan dalam air hangat dibungkus sesuai dengan volume molases) Simpan pada drum kaleng dan dicampur pada blower.  Untuk ukuran kecil, pemberian air pada tempat silase diperlukan.  Juga tersedia alat pemberi air yang telah siap
Bakteri Asam Laktat Percepatan fermentasi laktat dengan penambahan bakteri asam laktat jenis homo (Lacto bacillus palntanum).  Terdapat dalam bentuk tepung di pasaran Sekitar 0.05 % dari bahan kasar (resep 1% juga tersedia).  1% molases juga diperlukan untuk ditambahkan pada bahan kasar yang memiliki kandungan gula larut dalam air lebih kecil dari 15% Alat pemberian otomatis juga tersedia alat otomatis, lakukan penyemprotan pada tempat silase dengan dicampur secara manual.
Konsentrat Disesuaikan dengan kandungan air, pangaruh yang sama dengan pemberian gula, juga mendorong proses fermentasi laktat.  Sekam gandum, ampas tebu, serpihan garam, cruze, maize dsb, baisanya dimanfaatkan untuk kegunaan lain Penambahan 10% dari bahan kasar mengakibatkan penurunan kandungan air 6 – 7%

Penambahan kualitas self-supplying yang rendah dari pakan akan meningkatkan palatabilitas dan nilai pakan

Jika dalam jumlah yang banyak, campurkan dengan bahan kasar ketika dilakukan pembongkaran

Cara membuat:

  • Semua bahan dicacah 10 – 50 mm
  • Bahan dengan kandungan  air  ± 60 – 70 %
  • Bila kandungan air tinggi dibantu dengan bahan kimia (asam formiat)
  • Jika bahan tidak cukup kandungan gula maka perlu ditambahkan tetes ± 10%

Kandungan gula pada bahan kering >12% dan pada bahan segar 3%

  • Semua bahan dicampur à simpan anaerob selama 21 hari à silase siap untuk pakan ternak
  • Silase tahan selama 3 – 6 bulan asal jangan sering dibuka (max. 2 kali sehari)

 

Indikator mutu silase

Indikator 

Nilai

Penjelasan

Score

Aroma

25

–    Wangi seperti buah-buahan dan sedikit asam, sangat wangi dan terdorong untuk mencicipinya

25

–    Ingin mencoba mencicipinya tetapi asam, bau wangi

20

–    Bau asam, dan apabila diisap oleh hidung, rasa/wangi baunya semakin kuat atau sama sekali tidak ada bau

10

–    Seperti jamur dan kompos bau yang tidak sedap

0

Rasa

25

–    Apabila dicoba digigit, manis dan terasa asam

25

–    Rasanya sedikit asam.

20

–    Tidak ada rasa.

5

–    Rasa yang tidak sedap, tidak ada dorongan untuk mencobanya.

0

Warna

25

–    Hijau kekuning-kuningan

25

–    Coklat agak kehitam-hitaman

10

–    Hitam, mendekati warna kompos

0

Sentuhan

25

–    Kering, tetapi apabila dipegang terasa lembut dan empuk

–    Bau wangi yang menempel ditangan tidak dicucipun tidak apa-apa

25

–    Kandungan airnya terasa sedikit banyak tetapi tidak terasa basah

–    Bau wangi yang menempel ditangan jika dicuci langsung hilang.

10

–    Kandungan airnya banyak, terasa basah sedikit (becek) bau yang menempel ditangan, harus dicuci dengan sabun supaya baunya hilang.

0

JUMLAH

100

Jumlah nilai =   Nilai wangi + Nilai rasa + Nilai warna + Nilai sentuhan

 

 

  1. 3.        Amoniasi

à Tehnik pengawetan dengan bantuan Urea (NH3) untuk meningkatkan kandungan Protein dan mengurangi kandungan Lignin

  1. Dengan penambahan bahan kimia:

–     Kaustik soda (NaOH)

–       Sodium hidroksida(KOH) atau urea (CO(NH2)

  1. Dengan menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi

Dosis:

–     Urea   : 5 kg/100 kg bahan

–     Air     : 1 liter/kg jerami

Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami)dengan menggunakan Urea sebagai sumber amoniak (NH3) untuk mengolah jerami padi segar menjadi jerami olahan yang disebut Jerami Amoniasi. Dosis amoniak (berat nitrogen yang digunakan dibandingkan dengan berat kering jerami) yang biasa digunakan adalah 3 – 5 % NH3  dari berat kering jerami. Kurang dari 3% tidak ada pengaruhnya terhadap daya cerna maupun peningkatan kandungan protein kasar tetapi hanya berfungsi sebagai pengawet saja. Bila lebih dari 5 % amoniak akan terbuang karena tidak sanggup lagi diserap oleh jerami dan akan lepas ke udara bebas, kerugiannya hanya ekonomis saja. Penggunaan jerami amoniasi dapat mengurangi penggunaan konsentrat yang mahal karena adanya penambahan protein yang diperoleh dari hasil pengolahan dengan amoniak

Ada 2 cara proses Amoniasi

  1. a.    Amoniasi Basah

Teknik yang digunakan dalam proses amoniasi cara basah ialah denga: kantong plastik

Bahan-bahan :

–   Jerami kering udara    : 100 kg

–   Urea                            : ±  5 kg (5% dari jerami)

–   Air                              : sebanding dengan jerami

Cara pembuatan :

Jerami dipotong2 à masukkan ke dalam plastik agak dipadatkan à larutkan urea kedalam air à siramkan ke dalam kantong plastik yang berisi jerami sampai habis à simpan anaerob selama 1 bulan à buang gas à berikan kepada ternak

Cara Penyimpanan

1)   Keluarkan jerami amoniasi lalu diangin-anginkan selama 2-3 hari, jerami yang masih basah langsung berikan kepada ternak dan harus habis dalam jangka waktu 1 mgg karna jerami amoniasi yang lembab akan menyebabkan tumbuhnya jamur kayu atau jamur putih. Jamurnya tidak berbahaya tapi kurang estetik dan bagian permukaan itu agak menurun kualitasnya terutama bila ditumpuk di udara terbuka dan terkena hujan akan terjadi proses pelapukan (dekomposisi)

2)   Untuk disimpan jangka lama maka jerami amoniasi dijemur hingga kadar air mencapai 20 % dan dapat disimpan di bawah atap dan tahan 6 -12 bl tanpa adanya penurunan kualitas. Bila di musim hujan jerami amoniasi tidak perlu dikeluarkan dari silo. Dikeluarkan sedikit demi sedikit seperlunya untuk kebutuhan sehari-hari sampai habis.

 

  1. b.   Amoniasi Kering

Proses amoniasi jerami padi telah disederhanakan yaitu dengan cara urea yang digunakan ditaburkan langsung di atas jerami padi yang akan diamoniasi. Prinsip pembuatannya sama dengan amoniasi cara basah hanya urea tidak dilarutkan dalam air.

Bahan-bahan :

ü Jerami padi kering : 100 kg

ü Urea                       : ±  5 kg (5% dari jerami)

Cara Pembuatan :

Jerami ditimbang à diikat à taburi urea secara merata pada setiap ikatan/bal jerami à kondisikan an aerob selama 1 bulan à buka à hasil yang baik ditandai dengan bau amoniak yang menyengat à setelah bau yang menyegat berkurang pindahkan ke ruang penyimpanan yang beratap dan tidak kena hujan dan udara bebas mengalir

 

Proses amonisi berhasil sempurna bila ditandai tekstur jerami relatif lebih mudah putus, berwarna kuning tua atau coklat dan bau monia. Untuk mengurangi bau amonia, jerami harus diangin2kan selama 1-2 jam sebelum diberikan pada ternak

 

Bentuk penyajian

Dalam penyajian jerami amoniasi ini tidak perlu dicincang, jadi dapat diberikan dalam bentuk utuh karena dari hasil penelitian jumlah yang dikonsumsi oleh ternak baik yang dicincang maupun yang utuh sama saja. Bila tersedia konsentrat maka sebaiknya konsentrat diberikan terlebih dahulu kira-kira 1jam sebelum pemberian jerami, hal ini dimaksud untuk merangsang perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen karena karbohidrat siap pakai dan protein yang tersedia dalam konsentrat cukup sebagai pendorong perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen terutama bakteri selulolitik yang mencerna serat kasar jerami.

 

Air minum

Karena kadar airnya rendah hanya kira-kira 20 –30 persen saja hendaknya sepanjang sore dan malam hari terus tersedia air minum. Jerami padi merupakan pakan hijauan yang sangat miskin mineral, oleh karena itu pada setiap pemberian pakan jerami jangan lupa diberikan mineral secara teratur.

 

Manfaat Amoniasi

  1. Merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh
  2. Warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua
  3. Meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto (GE), tetapi menurunkan kadar bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) dan dinding sel
  4. Meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi
  5. NH3 cairan rumen meningkat
  6. Memberikan balance nitrogen yang positif
  7. Menghambat pertumbuhan jamur
  8. Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami.

 

Hasil Analisa Laboratorium Amoniasi Urea Jerami Padi

 

TANPA AMONIASI

TERAMONIASI

Protein Kasar (%)

3,45

6,66

Lemak (%)

1,20

1,21

Serat Kasar (%)

33,02

35,19

BETN

37,27

31,76

Abu

25,06

25,18

Kandungan Dinding Sel (NDF) (%)

79,80

75,09

Energi Bruto (GE) (Kcal/kg)

3539,48

3927,36

Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)

 

Kecernaan Zat-zat Makanan Jerami Padi

KECERNAAN

TANPA AMONIASI

TERAMONIASI

Bahan Kering (%)

40,65

50,09

Bahan Organik (%)

50,57

60,51

Dnding Sel/NDF (%)

46,51

60,51

Nutrien tercerna total/TDN (%)

38,59

46,37

Energi Tercerna/DE (Kcal/g)

1,45

1,99

Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)

 

 

TANPA AMONIASI

TERAMONIASI

Konsumsi BK (g)/ekor/kg BB Metabolit

63,04

72,00

Balans Nitrogen

-0,0039

0,0026

Konsentrasi NH3 (mg/100 ml)

0,11

5,22

pH cairan rumen

0,18

1,14

Konsentrasi urea darah (mg/100 ml)

0,47

7,31

Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)

 

file dapat di unduh di sini

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on December 19, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: