MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS

TEHNOLOGI SEDERHANA

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS

 

  Untuk petani yang tinggal di daerah dataran tinggi (pegunungan) khususnya yang membudidayakan kubis siapa yang tidak kenal dengan Dipel, Xentari, Turex atau nama dagang yang lain. Insektisida tersebut sangat ampuh mengendalikan hama ulat kubis baik Crocidolomia binotalis atau Plutella xylostella. Bioinsektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut keampuhannya bisa mengalahkan insektisida kimia berbahan aktif golongan piretroid sintetik, karbamat maupun organophospat. Kali ini akan kami sajikan tips tentang Teknologi Sederhana Mengembangkan Dipel yang berbahan aktif Bacillus Thuringiensis

 

Kenapa harus Dipel ?

Karena Dipel adalah bioinsektisida yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis subsp. kurtaki yang secara alami mampu membunuh ulat serangga pengganggu dan pemakan daun namun aman bagi serangga lain, burung, ikan atau hewan berdarah panas. Karena berbahan aktif mikroorganisme maka bioinsektisida tersebut bisa dikembangkan tanpa mengurangi kekuatan daya kendalinya (efikasinya). Dipel merupakan insektisida biologis yang bekerja sebagai racun lambung, sehingga jika dimakan oleh ulat Bacillus thuringiensis akan bekerja menjadi racun perut si ulat tersebut.

 

Bahan dan alat untuk mengembangkan Bacillus thuringiensis    :

  1. Starter Bacillus thuringiensis   : à menggunakan Bioinsektisida Dipel 10 gram
  2. Limbah cair tahu                      : 10 liter
  3. Onggok tapioka                         : 5 kg
  4. Kapur                                            : 1 sendok makan
  5. Air steril                                      : 1 liter
  6. Ember
  7. Pengaduk

 

Cara Pembuatan :

  1. Campurkan bahan no 2, 3, 4 à rebus hingga mendidih dan diamkan sampai dingin (sebagai media).
  2. Larutkan 10 gram bubuk  Dipel dalam 1 liter air steril (sebagai starter) à campurkan dengan media yang telah dingin tadi à simpan anaerob selama 3 x 24 jam
  3. Rebus semua bahan tersebut dengan panas maksimal 50°C hingga menjadi bubuk.

 

Cara penggunaan biakan Dipel :

  1. Larutkan 1 gram bubuk biakan Dipel / 1 liter air à semprotkan pada sore hari.
  2. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya dicampur dengan perekat.
  3. Menurut informasi biakan Bacillus thuringiensis tersebut kekuatan toksisitasnya bisa 27 kali dibanding Dipel produk komersial.

 

Tidak ada salahnya kalau maspary mengajak rekan-rekan petani untuk mencoba menghemat pengeluaran usaha tani kita dengan mengembangkan Bacillus thuringiensis (Dipel), karena biakan tersebut secara alami mampu mengontrol ulat dan serangga pengganggu, mempunyai daya toksisitas terhadap serangga sasaran lebih tinggi 27 kali dari produk komersial,  bahan baku mudah dan murah, proses pembuatan yang sederhana, ramah lingkungan dan tidak mengandung unsur kimiawi. Cuma sayang dilapangan bioinsektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut belum berkembang didataran rendah. Apa mungkin ada pengaruh suhu terhadap efektifitas BT (Bacillus thuringiensis ) atau mungkin alasan yang lain, kurang tahu juga. Jika ada pembaca yang ada informasi silahkan tulis di kolom komentar.

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on May 13, 2013, in PESTISIDA NABATI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: