Aneka Bahan Pakan Ternak

ANEKA BAHAN PAKAN TERNAK

 

  1. 1.        AMPAS TAHU

Kandungan Protein 23-29 %. Protein ampas tahu lebih tinggi dari pada protein kedelai mentah karena telah dimasak. Ampas tahu dapat disimpan lama bila dikeringkan. Bila basah dibuat Silase tanpa menggunakan stater dan dapat dicampur dengan bahan lain. Disamping memiliki kandungan zat gizi yang baik ampas tahu juga memiliki antinutrisi berupa Asam Fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral terutama  Ca, Zn, Co, Mg, Cu, sehingga penggunaannya pada  unggas perlu hati-hati. Ampas tahu juga mengandung mineral mikro (Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm) maupun makro.

Beberapa penelitian melaporkan sbb:

  • Ampas kedelai yang nilai gizinya sama dengan ampas tahu untuk menggantikan sebagian konsentrat sapi perah komersil hasilnya meningkatkan produksi susu dari 9 menjadi 10,6 l/e/h dan kadar protein susu dari 1,53 menjadi 1,80%
  • Ampas tahu sebagai pengganti bungkil kelapa (32% dalam konsentrat) untuk sapi menghasilkan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan konsentrat yang mengandung bungkil kelapa.
  • Untuk penggemukan sapi juga dilaporkan peneliti di Jepang memperlihatkan pertambahan bobot hidup sapi yang diberi konsentrat komersial (1,13 kg/e/h) tidak berbeda dengan yang diberi ransum komersial yang dicampur dengan ampas tahu sebanyak 20% (1,10 kg/e/h).
  • Penambahan ampas tahu basah 300 g/e/h pada domba yang sudah diberi pakan konsentrat komersil ternyata masih dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup domba.
  • Knipscheer (1983) menyimpulkan bahwa  ampas tahu memberikan keuntungan dalam usaha peternakan kambing atau domba.
  • Senyawa (1991) melaporkan bahwa ampas tahu dicampur dengan jerami padi menghasilkan silase yang baik untuk ternak.
  • Domba yang memperoleh rumput lapangan bila diberi ampas tahu secara ad libitum dapat meningkatkan pertumbuhan.
  • Untuk ayam ras penggunaan ampas tahu kering biasanya tidak lebih dari 5%. Akan tetapi setelah ampas tahu difermentasi dapat digunakan hingga 12% tanpa mengganggu pertumbuhan
  • Delaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum sapi perah.
  • Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan.
  • Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg/ekor/hari,
  • Di Jepang ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70%.
  • Penelitian pada domba oleh Pulungan dkk (1984) ternak diberi rumput berkualitas rendah ampas tahu dapat diberikan secara tak terbatas.

 

Komposisi lengkap nutrisi Ampas Tahu

BK (%)

PK (%)

S K (%)

L K (%)

ND (%)

ADF (%)

Abu (%)

Ca (%)

P (%)

Eb Kkal/kg

13.3

21.0

23.58

10.49

51.93

25.63

2.96

0.53

0.24

4730

 

  1. 2.        BUNGKIL KELAPA

Kandungan  Protein 22%. Faktor-faktor yang mempengaruhi batas penggunaan dalam ransum ayam adalah:

  1. Rendahnya kandungan asam amino terutama Lysin
  2. Serat kasar yang tinggi
  3. Aflatoksin yang cukup tinggi

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bungkil kelapa dalam ransum ayam broiler sebaiknya tidak melebihi 15% Pemanfaatan bungkil kelapa dalam ransum itik sangat jarang dilaporkan, hal ini karena kekhawatiran akan aflatoksinnya yang tinggi sedangkan itik sangat peka terhadap aflatoksin. Dilaporkan bahwa pemberian 10% dalam ransum anak itik menimbulkan kematian. Berbeda dengan yang dilaporkan SINURAT dan SETIADI bahwa pemberian bungkil kelapa hingga 30% tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap anak itik maupun itik petelur. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kualitas bungkil kelapa. MATHIUS melaporkan bahwa pemberian bungkil kelapa 200 g/e/h atau 1% dari bobot hidup dianggap optimal untuk pertumbuhan domba. Sementara itu dalam ransum sapi hingga 32% pertumbuhan cukup baik. Bahkan konsentrat yang terdiri dari 50% bungkil kelapa dapat menghasilkan pertumbuhan sapi PO yang cukup baik (459 g/e/h)

  1. 3.        BUNGKIL KEDELE

Bungkil kedele atau soybean meal (SBM) merupakan sumber protein dalam menyusun ransum ternak. Memang, bukan satu-satunya, karena sumber protein yang lain seperti corn gluten meal (CGM), meat & bone meal (MBM) dan tepung ikan juga dipakai oleh peracik pakan untuk menggenapi kandungan protein dalam pakan ternaknya. Protein bungkil kedelai dapat mencapai 49% jika tanpa adanya penambahan kembali hull ke dalam ampas kedele, Untuk mendapatkan protein 44% maka kira-kira 14,5% hull ditambahkan ke dalam ampas kedelai. Nilai serat kasar meningkat secara langsung dengan adanya perubahan jumlah hull tersebut

Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai :

–   Protein kasar          : 42 – 50 %

–   Energi metabolis    : 2825 – 2890 Kkal/kg

–   Serat kasar             : 6 %

  1. 4.        DEDAK PADI

Kandungan Protein 12,7-13,5%, Lemak 10,6-13,6% dan Serat  8,2-12,2%. Kandungan serat kasar dan minyak yang tinggi menyebabkan mudah terkontaminasi oleh bakteri dan jamur yang menghasilkan enzim lipase dan menjadikan minyak dedak terurai menjadi asam lemak mudah terbang, berbau tengik dan kurang disenangi ternak sehingga penampilan unggas tidak optimal. Untuk menanggulangi diberikan antioksidant dalam bentuk senyawa phenol, quionon, vitamin E, dan asam gallat. Pemberian dedak sebagai suplemen untuk menggantikan 30% (BK) dari rumput pada sapi memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Dilaporkan penggunaan dedak 45% dalam konsentrat domba penggemukan menghasilkan pertumbuhan yang sangat baik. Selanjutnya dilaporkan bahwa penambahan dedak padi yang meningkat dari 100 g/h menjadi 400 g/h dalam ransum domba meningkatkan BB 26,8 g unit (15,5 vs 42,3 g). Penggunaan dedak dalam ransum broiler tidak disarankan melebihi 10% dan ayam petelur 20%. Dilaporkan bahwa pemberian dedak 33%  untuk ayam sudah menyebabkan penurunan produksi telur dari 75% (kadar dedak 12,5%) menjadi 71%. Akan tetapi penggunaan dedak hingga 30% untuk ayam petelur masih digunakan dengan pertimbangan ekonomis. Beberapa peneliti melaporkankan bahwa penggunaan dedak yang tinggi (hingga 50%) untuk ayam petelur dapat digunakan asalkan memperhatikan unsur mineral Zn seperti terlihat pada Tabel.

 

Kandungan nutrisi beberapa bahan pakan (bahan kering)

Jenis bahan pakan

Energi metabolis (kkal/kg)

LK

(%)

SK

(%)

PK

(%)

Metionin (%)

Lisin (%)

Ca

(%)

P

(%)

Dedak padi

2400

12,1

13,0

12,0

0,25

0,45

0,20

1,0

Menir

2660

1,7

0,4

10,2

0,17

0,30

0,09

0,12

Onggok

2360

0,3

21,9

3,6

0,33

0,01

Bungkil inti sawit

2050

2,0

21,7

18,7

0,34

0,61

0,21

0,53

Lumpur sawit

1345

9,5

24,0

11,9

0,21

0,23

0,60

0,44

Tepung  kepala udang

2000

1,4

13,2

30,0

0,57

1,5

7,86

1,15

Tepung daun singkong

1160

3,8

21,2

21,0

0,36

1,33

0,98

0,52

Sumber: SINURAT (unpublish data)

 

Penampilan ayam petelur yang diberi ransum kadar dedak yang tinggi

 

Kontrol

Dedak 25%+ 125 ppm Zn

Dedak 50%+ 125 ppm Zn

Konsumsi ransum (g/e/h)

114,8

111,8

106,5

Produksi telur (% HD)

80,5

77,7

75,5

Berat telur (g/ butir)

57,2

55,4

59,9

Sumber: PILIANG et al. (1988)

 

Penggunaan dedak dalam ransum ayam buras masa pertumbuhan hingga 50% dapat dilakukan asalkan diikuti dengan suplementasi kalsium yang cukup. Sementara itu dilaporkan untuk ayam buras dewasa (petelur) pemberian hingga 60% produksi telur cukup baik. Pada ternak itik lokal penggunaan dedak hingga 60% dalam masa pertumbuhan dan hingga 75% dalam masa petelur masih dapat dilakukan asalkan ransum disusun mencukupi zat gizi yang dibutuhkan

  1. 5.        GAMAL (Gliricidia Sepium)

Kandungan Protein 19-25%, mengandung racun Kumarin yang tinggi, Saponin dan asam Fenolat dalam jumlah kecil. Gamal dapat digunakan sebagai pengganti rumput, pemberian pada sapi maksimal sampai 40%, sedangkan pada domba sampai dengan 75%. Untuk menurunkan kandungan kumarin maka sebelum diberikan pada ternak sebaiknya dilayukan atau dijemur lebih dahulu selama beberapa jam atau semalam

  1. 6.        JERAMI PADI

Kelemahan Jerami Padi

  • Kandungan nutrisi yang rendah, misalnya kandungan protein jerami 3-5 %, sedangkan protein rumput gajah mencapai 12-14%
  • Rendahnya kecernaan yang disebabkan oleh:

–       Terdapat lignin sekitar 6-7%

–       Mengandung silikat 13 %

  • Silikat dan lignin ini bagaikan kaca pelapis, yang melapisi zat-zat yang berguna dan bernilai energi tinggi seperti protein, selulose, hemiselulose
  • Ikatan serat di dalamnya juga sangat kuat
  1. 7.        KALIANDRA (Calliandra Calothyrsus)

Kandungan Protein berkisar 20%, tanin 8-11%, saponin, flavonoid dan glikosida dalam jumlah kecil yang tidak membahayakan ternak. Penggunaan pada sapi maksimal 50% sedangkan untuk domba 30%. Pemberian pada ternak sebaiknya dalam bentuk segar karena proses pengeringan akan berefek negative akibat kadar tanin yang tinggi akan mengikat protein lebih kuat. Kandungan tanin kaliandra tertinggi dibandingkan legum lain seperti lamtoro atau gamal Pengeringan yang kurang berefek negatif yaitu “Silase”. Kandungan tanin ini dapat dikurangi dengan pemberian PEG (Polyethylene Glycol).

 

Ada beberapa cara pemberian PEG:

Biasanya kecernaan dan protein meningkat drastis

Disemprotkan ke daun kaliandra

  • Diinfus langsung ke dalam rumen domba
  • Dicampur langsung dengan pakannya
  • Cara yang lain kaliandra direndam air kapur

 

Pemanfaatan Kaliandra sebagai pakan Ruminansia

  1. Domba dan Kambing Muda

Domba dan kambing yang diberi kaliandra 30% tumbuh lebih baik dibanding hanya diberi rumput, pemberian yang lebih tinggi tidak ada pengaruh lagi. Penambahan urea atau amonium sulfat tidak memberikan pengaruh yang lebih baik tetapi bila ditambah tepung gaplek atau dedak maka terjadi peningkatan PBB sebesar 19% dan bila pemberian ditingkatkan dari 100gr menjadi 200gr /hari diperoleh peningkatan PBB sebesar 39%

  1. Domba induk dan anaknya

Domba bunting dan menyusui yang diberi kaliandra segar kondisi badannya lebih baik, bobot anak domba sapih lebih besar dan menurunkan tingkat kematian anak.

  1. Sapi jantan dan sapi dara muda

Pakan pellet/konsentrat/pakan komplit yang mengandung kaliandra kering ternyata memberikan pengaruh paling jelek dibandingkan dengan yang mengandung gamal atau lamtoro.

  1. Sapi induk dan anaknya

Sistim “Cofeeding” bila digunakan pada sapi bunting tua memberikan hasil yang positif terhadap produksi dan reproduksi, menekan tingkat kematian anak dan interval beranak lebih pendek.

Sistim “Cofeeding” adalah: Cara pemberian pakan campuran antara legum yang mengandung kadar tanin tinggi seperti kaliandra dengan legum yang tidak mengandung tanin seperti gamal agar ikatan tanin-protein dapat pecah sehingga protein dapat langsung dimanfaatkan

  1. Sapi perah

Percobaan dengan memberikan tambahan kaliandra menunjukkan peningkatan produksi susu

 

Nilai nutrisi Kaliandra untuk ruminansia kecil

  1. Percobaan kecernaan

Percobaan akan dilakukan di Fakultas Peternakan Universitas Mataram dengan dua jenis perlakuan daun (kaliandra segar 100 % dan kaliandra:sesbania 1:1)

  1. Percobaan laktasi

Percobaan ini menggunakan 5 kambing Kacang x Ettawah yang mempunyai tingkatan laktase yang sama dan akan dialokasikan pada 5 perlakuan pemberian pakan.

A = Rumput gajah (EG) (Pennisetum purpureum) + 0.5 kg konsentrat (ampas tahu:dedak padi 1 : 1)

B = EG + 0.5 kg campuran konsentrat : daun kaliandra 75 : 25

C = EG + 0.5 kg campuran konsentrat : daun kaliandra 50 : 50

D = EG + 0.5 kg campuran konsentrat : daun kaliandra 25 : 75

E = EG + 0.5 daun kaliandra

Rumput diberikan ad libitum dan air minum bebas 20 g garam setiap hari. Percobaan dilakukan selama 5 periode 17 hari.  Percobaan yang sama akan diulang tetapi dengan penambahan PEG pada daun kaliandra.

 

Kesimpulan

  • Pemanfaatan kaliandra sebagai hijauan pakan ruminansia memperlihatkan pengaruh yang menguntungkan tidak hanya produksi tetapi reproduksi ternak juga meningkat.
  • Baik ruminansia kecil maupun besar tidak ada masalah bila disuplementasi dengan kaliandra segar atau dalam bentuk silase tetapi tidak boleh dalam bentuk kering.
  • Kaliandra dapat diberikan sendiri atau campuran dengan legum lain yang tidak mengandung tanin sebagai suplemen ternak yang diberi rumput.
  • Tambahan sumber energi sangat bermanfaat untuk meningkatkan performans produksi ternak
  1. 8.        KONSENTRAT

Konsentrat bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan menambah energi. Tingginya pemberian pakan berenergi menyebabkan peningkatan konsumsi dan daya cerna dari rumput atau hijauan kualitas rendah. Selain itu penambahan konsentrat tertentu dapat menghasilkan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di rumen, mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih banyak.

Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu:

  1. a.    Konsentrat sebagai sumber energi:

Apabila kandungan protein dibawah 18%, TDN 60% dan serat kasarnya lebih dari 10%.

Contoh: dedak, jagung, empok, polar dll

  1. b.    Konsentrat sebagai sumber protein:

Apabila kandungan protein lebih dari 18%, TDN 60%.

Berdasarkan asalnya konsentrat berasal dari 2 sumber:

  1. a.    Berasal dari hewan :

Mengandung

–       Protein          : > 47%

–       Mineral         : Ca > 1%, P > 1,5%

–       Serat kasar    : < 2,5%.

Contoh:   Tepung ikan, tepung susu, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung cacing

  1. b.    Berasal dari tumbuhan

Mengandung

–       Protein          : < 47%

–       Mineral         : Ca <1%, P <1,5%

–       Serat Kasar   : > 2,5%

Contoh:   Tepung kedelai, tepung biji kapuk, tepung bunga matahari, bungkil wijen, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dll.

Membuat pakan ternak dari limbah pertanian banyak kendala, misalnya kontinuitas dan ketersediaan bahan baku. Seperti di ketahui main ingredients dari pakan ternak khususnya sapi adalah dedak/bekatul, persentasenya bisa lebih dari 50%

 

Kendala tersebut adalah:

  1. a.    Persaingan harga

Sebagian besar heuleur (rice hull; dimana dedak merupakan limbah dari proses dekortikasi beras padi) ternyata telah terikat kontrak dengan bandar atau supplier besar termasuk para koperasi itu sendiri sehingga untuk mendapatkan dedak harus bersaing dengan pemodal yang lebih kuat dan memang bermain di bidang itu

  1. b.    Ketersediaan

Jumlah dedak yang tersedia sangat tergantung pada musim panen padi sehingga pada musim non-panen dedak bisa menjadi barang langka. Harganya juga fluktuatif, berkisar Rp. 450 – 550 pada musim panen, sampai 700 – 900 rupiah / kg pada musim paceklik. Sekarang setelah kenaikan BBM, harga bisa mencapai 1000 – 1100 rupiah di beberapa rice hull.

  1. c.     Kapasitas

Bahan baku konsentrat yang cukup baik setidaknya mengandung 5 – 11 jenis bahan baku. Keanekaragaman bahan ini disamping sebagai pengkayaan unsur dan nutrisi juga sebagai kompensasi apabila harga dan ketersediaan barang fluktuatif. Misalnya disaat dedak paceklik dan mahal, feed company bisa merubah komposisi bahan baku dengan mengurangi penggunaan dedak dan mensubtitusi dengan bahan lain yang berharga lebih murah atau ketersediaannya cukup. Memang hal seperti ini bisa mengakibatkan kualitas pakan yang dihasilkan juga ikut naik turun. Tapi justru disini seni membuat pakan ternak kan?

  1. 9.        KULIT BUAH KAKAO (Shel Fod Husk)

Kandungan Protein 6-8 %, Lemak 3-9% dan Lignin yang sulit dicerna oleh hewan. Penggunaan sebaiknya difermentasi dengan Aspergillus niger selama 3 hari dapat menigkatkan kandungan protein kasar dari 16,5 menjadi 20,3%. Dan menurunkan lignin. Penggunaan 30-40% sedangkan untuk ayam broiler baik yang diproses/ tidak maximal 2,5–5%.

Komposisi nutrien dan TDN limbah buah kakao

Uraian

Pod kakao

Kulit biji

Lumpur coklat

Bahan kering (%)

17,00

68,40

8,70

Komposisi bahan kering (%):
–        Protein kasar

7,17

16,60

20,80

–        Lemak

0,80

8,82

33,00

–        Serat kasar

32,50

25,10

13,40

–        Abu

12,20

6,64

7,78

–        TDN

53,00

72,00

98,00

PROSES PENGOLAHAN DENGAN FERMENTASI

 

KULIT KAKAO

 

DICINCANG

 

DIBASAHI LARUTAN ASPERGILLUS

DITUTUP DENGAN GONI/ PLASTIK

DIFERMENTASI

DIKERINGKAN 2-3 HARI

KULIT KAKAO KERING

DIGILING

TEPUNG KULIT KAKAO

 

PENGGUNAAN

  1. Pada awal pemberian biasanya ternak tidak langsung mau memakannya. Karena itu berikanlah pada saat ternak lapar dan bila perlu ditambah sedikit garam atau gula untuk merangsang nafsu makan.
  2. Tepung limbah hasil fermentasi bisa langsung diberikan kepada ternak atau disimpan.
  3. Untuk ternak ruminansia (sapi, kambing) bisa dijadikan pakan penguat untuk mempercepat pertumbuhan atau meningkatkan produksi susu. Diberikan sebagai pengganti dedak, yakni sebanyak 0,7 – 1,0 % dari berat hidup ternak.
  4. Pada ayam buras petelur pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak hingga 36 % dari total ransum dapat meningkatkan produksi telur.
  5. Pada ternak kambing menunjukkan bahwa ternak nampak sehat warna bulu mengkilat dan pertambahan berat badan ternak dapat mencapai antara 50-150 gram/eko/hari.
  6. Untuk babi dapat juga diberikan sebagai pengganti dedak padi dalam ransum sekitar 35-40 %.
  1. 10.    KULIT KOPI

Percobaan pemanfaatan limbah kopi pada ayam pernah dilakukan Muryanto, Nuschati, Pramono dan Prasetyo (BPTP Jawa Tengah) pada tahun 2004. Limbah kulit kopi mengandung protein kasar 10,4 persen atau hampir sama dengan bekatul. Sedangkan kandungan energi metabolisnya 3.356 kkal/kg.

Hasil penelitian BPTP (2004) menunjukkan, penggunaan limbah kulit kopi sebanyak lima persen dari total ransum ayam hibrida tidak berpengaruh negatif terhadap produktivitas ayam. Artinya, meski tidak terlalu banyak, bisa menekan biaya pengeluaran peternak. Amoniasi Salah satu kendala pemanfaatan kulit kopi sebagai pakan ternak adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi (33,14%), sehingga tingkat kecernaannya sangat rendah. Dengan proses amoniasi, tingkat kecernaan kulit kopi bisa ditingkatkan.

Selain meningkatkan daya cerna juga sekaligus meningkatkan kadar protein, dapat menghilangkan aflatoksin dan pelaksanaannya sangat mudah. Kelemahannya pengolahan ini utamanya untuk pakan ruminansia. Amoniak dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel sehingga membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa dan memudahkan pencernaan oleh selulase mikroorganisme. Amoniak akan terserap dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam amonium asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan.

PEMBUATAN AMONIASI KULIT KOPI

Bahan-bahan yang digunakan untuk proses amoniasi kulit kopi tersebut adalah: kulit kopi, urea, air, sedangkan peralatannya meliputi: timbangan, gelas ukur, kantong plastik (disesuaikan dengan jumlah bahan yang akan diamoniasi). Ilustrasi bahan dan alat dapat dilihat seperti berikut.

 

Bahan –bahan :

  • 20 kg kulit kopi (kering udara)
  • 1 kg urea
  • 14 liter air

Peralatan :

  • Timbangan
  • 1 (satu) lembar plastik (180×200 cm) untuk mencampur
  • 1 (satu) lembar plastik kantong (90x 100 cm) rangkap
  • 1 (satu) ember
  • 1 (satu) alat pengaduk

Proses Pembuatan Amoniasi Kulit Kopi (Skala Laboratrorium):

  1. Kulit kopi di hamparkan pada plastik (180×200 cm).
  2. Buat larutan urea dengan 14 liter air dan 1 kg urea diaduk sampai larut à campurkan larutan urea pada kulit kopi sampai merata   à simpan an aerob
  3. Setelah 4 minggu à dibuka à diangin-anginkan selama 1- 2 hari (sampai bau menyengat amoniak hilang) à gunakan sebagai pakan sapi.

Peningkatan kualitas Kulit Kopi Amoniasi

Kulit kopi yang telah diamonasi mempunyai kandungan protein 17,88%, kecernaan 50% (dari 40%), VFA 143 mM (dari 102 mM) dan NH3 12,04 mM (dari 4,8mM) (Tampoebolon et al., 2004). Struktur dinding sel kulit kopi menjadi lebih amorf dan tidak berdebu sehingga menjadi lebih mudah dihandling. Dalam keadaan tertutup (plastik belum dibuka/ dibongkar), bahan pakan yang diamoniasi dapat tahan lama.

Analisis Biaya

  • Kulit kopi 20 kg @Rp. 200,-                                   = Rp. 4.000,-
  • Urea 1 kg                                                                 = Rp. 1.500,-
  • Plastik, ember dll u/pemakaian > 1x) dan tenaga    = Rp. 3.000,-

Jumlah                                                                           = Rp. 8.500,-

Biaya produksi per kg kulit kopi amoniasi         = Rp. 425,-

  1. 11.    LAMTORO GUNG (Leucaena Leucocepala)

Kandungan Protein 23%, cukup baik untuk pakan ternak tetapi mengandung racun Mimosin tinggi. Untuk mengurangi harus dijemur sehari lebih dahulu. Lamtoro dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian pada sapi perah sampai 50% dapat menyebabkan air susu bau khas walaupun kandungan lemak dan produksinya meningkat.

  1. 12.    LIMBAH TANAMAN PISANG

Produk samping tanaman pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan adalah batang pisang bagian bongkol, tengah dan bagian atas termasuk daunnya. Batang pisang mengandung senyawa sekunder dan mineral makro dan mikro yang cukup penting bagi ternak. Senyawa sekunder seperti tanin dalam jumlah yang tidak berlebihan dipergunakan sebagai bahan protektor protein kasar mudah larut yang terkandung dalam bahan pakan lainnya

Hasil penelitian pemanfaatan batang pisang sebagai pakan imbuhan pada ternak domba yang diberi pakan tambahan bungkil kedelai memberikan dampak yang positif terhadap tingkat kecernaan dan penampilan domba.

Oleh karena itu pemberian batang pisang bersama-sama dengan bahan pakan lainnya (sebagai sumber protein kasar) seperti daun gliricidia dapat membantu berkurangnya perombakan protein kasar daun gliricidia dalam rumen dan lolos masuk ke saluran pencernaan pasca rumen untuk dapat diserap.

Pemberian batang pisang untuk ternak babi telah banyak pula di aplikasikan khususnya di daerah Bali. Boleh jadi penggunaan batang pisang tersebut dilakukan dengan alasan selain sebagai pengenyang juga sebagai sumber mineral. Hal ini terlihat dari penampilan luar ternak babi yang diberi batang pisang cukup baik dan berkilat

  1. 13.    SINGKONG

Kandung protein 21-30% dari bahan kering. Pemberian daun singkong yang dikeringkan (pada suhu 700C selama 45 jam) hingga 30% dalam ransum telah dilaporkan tanpa berpengaruh negatif dalam penggemukan domba. Dilaporkan pula bahwa daun singkong yang sudah dilayukan selama 24 jam dapat diberikan pada domba dan kambing yang digemukan sebanyak 2% dari BB. Juga telah dicoba penggunaan tepung daun singkong di dalam ransum ternak babi dan itik pedaging dengan tidak melebihi 10%. tidak menghasilkan penampilan ternak yang berbeda, akan tetapi pada ayam broiler dapat menghambat pertumbuhan. Maka disarankan agar pemberian pada ayam broiler hanya 5% kecuali jika difermentasi bisa sampai 10%. Faktor penghambat adanya HCN yang merupakan faktor anti nutrisi. Dikatakan kandungan zat racun dikategorikan beracun bila kadar HCN antara 80-100 mg/kg dan tidak beracun jika nilai HCN kurang dari 50 mg/kg.

Kadar HCN dapat ditekan dengan cara sbb:

  1. Pemanasan, seperti di bawah terik matahari.

Ubi kayu yang akan dipanaskan harus dipotong kecil-kecil, supaya proses  pemanasan dan pengeringan lebih sempurna.

  1. Merebus, mengupas, mengiris kecil-kecil, merendam dalam air, menjemur kemudian dimasak.
  2. Pencucian di air mengalir dan pemanasan

Proses dengan pencucian ternyata masih memberikan nilai HCN yang tinggi (89,32 mg/100 g) dan masuk pada kategori yang beracun. Dikatakan tidak beracun jika < 50 mg/100 g

  1. Fermentasi

 

Kandungan Nutrisi Limbah Ubi Kayu

Bahan

Bahan Kering

Protein

TDN

Serat Kasar

Lemak

Ca

P

HCN mg/kg

Daun (%)

22,33

21,45

61,00

25,71

9,72

0,72

0,59

Kulit (%)

17,45

8,11

74,73

15.20

1.29

0.63

0.22

143,3*

Onggok (%)

85.50

10.51

82.76

0.25

1.03

0.47

0.01

Sumber : B. Sudaryanto (1989).

* Hasil Analisa Lab. Kimia Makanan Ternak, Fapet

  1. 14.    TURI (Sesbania Glandiflora)

Kandungan Protein 36%, racun Saponin yang tinggi sehingga membahayakan terutama pada unggas. Energi lebih tinggi dibanding kaliandra, lamtoro dan gamal. Diberikan pada sapi dan domba sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian sampai 2kg pada domba dapat meningkatkan berat badan 300% dibanding yang diberi rumput gajah saja. Sedangkan pada sapi yang dicampur jerami menghasilkan BB sama dengan ransum yang sempurna.

Nutrisi daun turi

Hasil evaluasi secara in vivo dari 10 jenis pakan yang paling sering diberikan pada ternak kambing menunjukkan bahwa turi memberikan suplai nutrien (protein mikroba dan energi metabolis (ME) yang paling tinggi diikuti oleh gamal dan lamtoro

download filenya disini.

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on May 13, 2013, in Ruminansia. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: