AGERATUM sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik

AGERATUM

sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik

Bila kita perhatikan dengan teliti tanaman Ageratum seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 – 922), 2004; penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi.

Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani.

Apabila diperhatikan dengan teliti lebih dari 30% tanaman Ageratum menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus (Gambar 1). Sejak kapan Ageratum terserang virus, tak ada catatan sejarah yang pasti. Namun gejala virus tersebut dalam berbagai tulisan telah ditemukan sejak lama dan diduga sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas, cabai, tomat, jarak pagar, dan lain-lain. Pada tahun 1995, Tan dkk berhasil mengidentifikasi virus dari Ageratum di Singapura sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviridae, dan dinamakan Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516).

Meluasnya serangan geminivirus khususnya dari spesies Begomovirus pada beberapa tanaman yang dibudidayakan juga memerlukan perhatian untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk Ageratum yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa spesies Begomovirus telah teridentifikasi dari Ageratum di Cina (Ageratum yellow vein China virus-[Hn2]; AYVCNV-[Hn2], AJ495813), Taiwan Ageratum yellow vein Taiwan virus; AYVTWV, AF30786), dan Sri Lanka Ageratum yellow vein Sri Lanka virus; AYVSLV, AF314144).

Di Indonesia keberadaan virus pada Ageratum sudah diketahui sejak lama, namun keberadaan tentang jenis virus tersebut masih kurang diperhatikan. Hasil identifikasi Gemini virus pada Ageratum asal Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Malang telah terdaftar di Gene Bank (http://www.ddbj.nig.ac.jp/Wel come-e.html)(AgPur-2, AB189851; AgBadI-1, AB189852; AgMal-4, AB18953; AgMag-2, AB189854; AgBadII-2, AB189913).

Penelitian geminivirus pada tanaman tomat asal Indonesia yang dilakukan oleh peneliti dari universitas Tohoku Jepang yang dipimpin oleh Prof. Ikegami Masato ternyata spesies geminivirus yang sama pada Ageratum ditemukan juga pada tanaman tomat (Journal of Phytopathology 2005, 153 : 562 – 566. Lebih lanjut Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang berasal dari tanaman cabai juga ditemukan pada tanaman Ageratum (Plant Disease. Volume 91 No. 9. 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman Ageratum yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan geminivirus.

Melihat manfaatnya yang begitu banyak akan tanaman Ageratum tidak ada salahnya jika tanaman ini dilestarikan agar tak punah bahkan mungkin membudidayakannya. Namun apabila tanaman ini menunjukkan gejala daun lurik menguning kemungkinan akan menjadi sumber virus yang akan menyerang tanaman yang diusahakan.

(Sumber; Sukamto , Warta Puslitbangbun Vol.13 No.3,Desember 2007).

Ada 3 resep yang sudah disajikan yaitu Gus Bensol 11, Alur G 12 dan Hervit Top 13. Nama-nama itu dibuat oleh penulis agar mudah diingat, karena susunan hurufnya adalah singkatan dari unsur – unsur bahan pembuatan racun rumput hasil rekayasa petaninya. Gus Bensol 11, disebut demikian karena bahan untuk meramu racun rumput ini terdiridari : G (garam, U (Urea), S (Sabun Colek), Ben (Bensin) dan Sol (Solar). Kemudian angka 11, artinya semua bahan dengan
perbandingan 1 (Kg) : 1 (Kg) : 1 (Wadah) : 1 (Liter) : 1 (Liter).
Racun rumput yang bersifat kontak ini dibuat petani jika sudah kepepet karena tidak punya uang cukup untuk membeli herbisida atau pada saat stok herbisida kosong tetapi rumput sudah tiba saatnya harus dibasmi. Penulis mendapatkan resep ini dari Pak Mo di Jalan Sungai Lemo Sedadap Nunukan Selatan. Alur G 12, terbuat dari Al (Air Laut) 12 liter, Ur (Urea) 2 kg dan
G (salah satu nama Herbisida kontak) sebanyak 1 liter. Semua bahan dicampur dan kemudian dimasak hingga mendidih. Resep ini sebenarnya untuk menghemat herbisida yang harganya sangat mahal, untuk diperbanyak dari liter menjadi 12 liter agar biaya dalam pembasmian rumput ini menjadi murah bagi petaninya. Sebenarnya resep ini diperoleh dan dipraktekkan oleh PakMustafa, petani Jagung di Sei Jepun Nunukan Selatan, pada saat bekerja di kebun Kelapa Sawit di Lahat Dato Sabah Malaysia. Sepulangnya dari ‘makan gaji’ di Malaysia Pak Mustafa selalu mempraktekkannya untuk lahan Jagungnya di Sei Jepun seluas sekitar 4 hektar. Hervit Top 13, berbahan Her (herbisida) 1 liter, Vit (Vitsin) 250 gram atau satu kantong dan Top (Toak Pahit) sebanyak 3 liter. Semua bahan dicampur dan bisa digunakan langsungsebagaimana biasanya. Resep ini dicatat dari temuan Pak Asri Aziz seorang PPL Sebatik Barat dari beberapa petani binaannya yang sudah terbiasa digunakan petani. Menurut petani sebenarnya dulu resepnya hanya menggunakan Vitsin dan Toak Pahit saja, namun kemudian petani ingin lebih menguatkan efeknya dengan menambahkan herbisida. Pada saat penulis mengikuti Pekan Daerah KTNA di KotaTenggarong, sempat bertemu beberapa petani dari Bengalon Kutai Timur Kalimantan Timur, yaitu Pak Saifuddin, Pak Gioto dan Pak Ismail. Dari Bengalon Kutai Timur ini sudah biasa menggunakan resep untuk memperbanyak racun rumput, khususnya yang bersifat sistemik (yaitu R..). Resep dari Bengalon ini berbahan Ragi, Urea, Air Hujan dan Herbisida dengan
perbandingan Ragi Tape (1 kantong), Urea (1 kg), Herbisida (R) 1 liter dan Air Hujan sampai dengan 5 liter. Semua bahan dicampur dan diaduk sampai
merata kemudian diperam dalam wadah yang kedap sinar dan disimpan selama 1 minggu. Racun rumput ini agar mudah mengingat bahan pembuatnya maka disebut sebagai Heragur AH5, maksudnya Her (herbisida), Rag (Ragi Tape), Ur (Urea) dan AH (Air Hujan) serta 5 maksudnya menjadi 5 liter. Hikmah berkumpul dengan petani peserta Peda dan Rembug KTNA yang lain lagi adalah pengalaman petani dari Sebatik, yaitu Pak H. Alimuddin Ketua Kelompok Tani Sinar 2000. Adaresep racun rumput yang berbahan Air Fermentasi Kakao atau sering disebut Air Kakao, Sabun Colek, Urea dan Herbisida kontak (seperti G..). Cara dan resepnya yaitu, memasak air biasa yang dicampur sabun colek (setengah kg) sambil terus diaduk sampai rata atau larut dan mendidih. Setelah itu dicampurkan bahan-bahan lain seperi Urea ( 1 kg), Herbisida (5 liter) dan Air Kakao (15 liter) dan diaduk hingga merata. Penggunaan racun rumput oplosan ini adalah sebanyak 200 ml untuk satu tangki Sprayer 16 literan. Biasa digunakan sebagai racun rumput kontak untuk sawah. Kelemahan racun rumput ini adalah jika digunakan dengan Sprayer berbahan logam akan mudah korosi atau berkarat. Agar memudahkan mengingat maka penulis member nama resep ini dengan Arkosur H 515, maksudnya Arko (Air Kakao), S (Sabun Colek), Ur (Urea), H (Herbisida) dan 515 (5 liter herbisida dibandingkan 15
liter air kakao).Resep-resep ini adalah karya dari petani yang cukup kreatif untuk mengatasi keterbatasannya tetapi terus berusaha tani dengan biaya yang lebih hemat . Ini adalah bukti dari kearifan local para petani menghadapi keadaan semakin mahal dan langkanya racun rumput di pasaran. Harapannya agar resep-resep ini dapat menjadi referensi bagi petani yang lain. Meskipun ini
bukan anjuran teknologi yang paten dan diakui oleh Pemerintah, tetapi silakan saja dicoba untuk kalangan petani sendiri dan kalau perlu dikembangkan dengan resep- resep yang lainnya.

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on April 25, 2013, in PESTISIDA NABATI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: