MIKORIZA

MIKORIZA

Berasal dari kata Mycos yang berarti jamur dan Ryzos yang berarti akar

 

Mokoriza adalah jamur yang bersimbiosis secara mutualisme dengan akar tanaman. Penyebaran sangat merata mulai dari daerah pantai sampai pegunungan, namun berkembang cukup baik di daerah pantai. Seiring dengan semakin luasnya lahan kritis keberadaan Mikoriza juga semakin menurun sehingga perlu usaha2 pengembangan untuk mempertahankan agar lahan kritis tidak semakin meluas.

Klasifikasi Mikoriza

Secara umum mikoriza ada 2 kelompok, yaitu :

  1. Endomikoriza/Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA)

Ciri – ciri: Adanya struktur berupa vesikel dan arbuskul.

–       Vesikel merupakan penggelembungan hifa MVA yang berbentuk bulat dan berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan makanan.

–       Arbuskul merupakan sistem percabangan hifa yang kompleks, bentuknya seperti akar yang halus dan berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara jamur dan tanaman.

MVA jenis ini tergolong dalam genus Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora.

  1. Ektomikoriza

Ciri – ciri: Adanya struktur berupa mantel hifa (Hartig net) yang berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi. MVA jenis ini tergolong dalam kelas Basidiomycetes atau Ascomycetes.

Manfaat / fungsi mikoriza bagi tanaman:

  1. Meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Bahkan ada peneliti yang mengatakan jika pada akar tanaman tahunan tertentu diberi mikoriza dapat tumbuh lebih besar 6-15 kali pada umur 2 tahun. Demikian juga tanaman yang lain juga akan tumbuh lebih subur jika diberikan mikoriza seperti jagung, kedelai, padi, cabai, tomat, terong dll.

  1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit akar, penyakit tanah dan serangan nematoda. Dengan pemberian mikoriza biasanya tanaman akan lebih tahan terhadap serangan Fusarium sp, Phytopthora sp, Pytium sp penyebab rebah kecambah pada pembenihan.
  2. Meningkatkan penyerapan unsur hara terutama P, Ca, N, Cu, Mn, K, dan Mg. Simbiosis mutualisme terseebut dilakukan dengan cara tanaman memberikan sisa karbohidrat dan gula yang tidak terpakai kepada mikoriza dan ditukar dengan unsur-unsur P, Ca, N, Cu, Mn, K dan Mg oleh mikoriza.
  3. Mikoriza menghasilkan ZPT di perakaran tanaman sehingga tanaman bisa tumbuh lebih subur.
  4. Mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur hara oleh akar karena dibantu oleh miselium mikoriza eksternal dengan memperluas permukaan penyerapan akar. Miselium mikoriza mampu masuk dalam pori tanah yang tidak dapat ditembus oleh akar tanaman.
  5. Mengurangi stres tanaman dalam kondisi kekurangan air, karena akar tanaman dibantu mikoriza dalam penyerapan air sehingga akar memiliki jangkauan lebih panjang. Menurut informasi jangkauan miselium mikoriza bisa mencapai 10-15 m sehingga sangat bagus digunakan untuk budidaya tanaman perkebunan seperti jabon, jati, akasia dll
  6. Mikoriza dapat meningkatkan aerasi dalam tanah karena kemampuan mikoriza dalam memperbaiki agregat tanah.
  7. Memacu perkembangan mikroba saprofitik nonpatogenik disekitar perakaran sehingga tanaman lebih sehat dan lebih subur.
  8. Memacu perkembangan mikroba saprofitik nonpatogenik disekitar perakaran sehingga tanaman lebih sehat dan lebih subur.
         
Tanaman pinus yang terkontaminasi Mikoriza Tanaman pinus yang tidak terkontaminasi Mikoriza Akar tanaman yang diselimuti mikoriza yang diperbesar Jati bermikoriza umur 6 bulan = 3 m Jati tanpa mikoriza umur 6 bulan = 1 m

 

   

Struktur mikoriza dalam akar

Hifa mikoriza berkembang menghubungkan akar dengan tanah

 

CARA PEMBIAKAN MIKORIZA

  1. A.       PEMBIAKAN DI POLYBAG/POT:

Bahan

–       Media pembiakan         :  Zeolit/pasir, tanah, arang sekam

–       Tanaman Inang             :  Benih Sorghum/jagung

–       Starter mikoriza            :  akar yang bermikoriza atau media yang mengandung spora MVA, dapat diperoleh di beberapa tempat antara lain:

ü  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Serpong

ü  Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta

ü  Institut Pertanian Bogor

ü  Hasil pembiakan sendiri

–                                                                                        Peralatan

Dandang sabluk, cetok, gunting, hand sprayer, kompor, bak plastik, ember plastik,.

Gambar 1: Sebagian bahan dan alat yang digunakan

Tahap perbanyakan

  1. Sterilisasi media pembiakan dengan dipanaskan menggunakan dandang sabluk selama 1 – 2 jam à masukkan media ke dalam pot/polibag sampai ¾ penuh
Gambar 2. Sterilisasi media tanam Gambar 3. Masukkan media kedalam polibag Gambar 4.Media perbanyakan siap digunakan
  1. Penanaman Inang

Cara menanam benih Inang pada media pembiakan adalah sebagai berikut:

  1. Buat lubang tanam pada media pembiakan dengan kedalaman ± 2-3 cm.
  2. Letakkan starter Mikoriza sebanyak 0,5-1 gram (minimal mengandung 10-20 spora) pada lubang tanam tersebut.
  3. Tanam inang yang telah berkecambah dengan posisi tunas menghadap ke atas lalu tutup dengan media pembiakan.
Gambar 5. Benih tanaman inang yang digunakan Gambar 6. Stater mikoriza dimasukkan kedalam media perbanyakan
  1. Incubasi dan Pemeliharaan (sampai umur ±2 bulan)
    1. Tanaman inang diletakkan pada tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari
    2. Penyiraman

Tidak perlu dilakukan secara teratur cukup dg menjaga kelembaban media tanam

  1. Pemupukan

Dilakukan secukupnya dengan pupuk cair yang rendah P

  1. Jika terserang hama dan penyakit à dicabut dan diganti dengan benih yang baru.
Gambar 7. Tanaman inang diletakkan di tempat yang cukup sinar matahari Gambar 8. Pemupukan
  1. Stressing (setelah umur ≥ 2 bulan)

Adalah usaha untuk menghambat pertumbuhan tanaman inang untuk  memacu MVA membentuk struktur tahan berupa spora.

Usaha-usaha stressing yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Penghentian penyiraman

Menghentikan penyiraman pada bulan ke3, dalam kondisi seperti ini akar tanaman inang akan berusaha keras untuk mendapatkan air. Pada saat inilah simbiosis antara MVA dan akar tanaman inang berjalan optimal. Hifa-hifa MVA akan tumbuh memanjang untuk membantu akar tanaman inang mencari sumber air.

  1. Pemaparan sinar matahari

Dalam kondisi tanpa penyiraman dikombinasikan dengan melakukan pemaparan di bawah sinar matahari akan semakin menekan kondisi fisik tanaman inang.

  1. Topping

Dilakukan dengan hanya menyisakan batang bawah ± ¾ nya saja. Dalam kondisi ini perlahan-lahan tanaman inang akan mati. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan tersebut MVA akan membentuk struktur tahan berupa spora untuk mempertahankan hidupnya.

  1. Pemanenan
    1. Setelah tanaman inang mati (umur ± 3 bulan) à bongkar tanaman inang à campur dan aduk media inang à  potong2 akarnya ± 0,5 cm à campur dengan zeolite à siap diaplikasikan.
    2. Bila tidak langsung digunakan kemas dalam kantong plastik dan disimpan dalam lemari es.
    3. Mikoriza hasil perbanyakan dikatakan berkualitas jika dalam uji laboratorium mengandung ±10-20 spora/gr media.  Mikoriza dapat bertahan sampai 1 tahun, semakin lama akan terjadi penurunan kualitas.  Oleh karena itu sebaiknya segera diaplikasikan.
Gambar 9. Pembongkaran tanaman inang Gambar 10. Pemotongan akar tanaman inang yang telah terinfeksi mikoriza Gambar 11. Pencampuran potongan akar tanaman inang dengan zeolith
Gambar 12. Pengemasan mikoriza dalam media zeolith Gambar 13. Mikoriza siap digunakan
  1. Aplikasi di Lapang
    1. Saat pembibitan

Penggunaan MVA lebih efektif diaplikasikan pada saat pembibitan karena MVA akan segera menginfeksi jaringan akar yang relatif masih muda. Dengan demikian bibit yang akan dipindahkan ke lahan perakarannya telah terlindungi oleh MVA.

  1. Pada saat bibit dipindah ke lahan.

Caranya yaitu dengan membuat lubang tanam kemudian mengambil tanahnya dan mencampurnya dengan mikoriza. Dosis yang disarankan minimal 15 – 20 gram/bibit. Aplikasi sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari (pukul 16.00 – 17.00 WIB).

  1. B.        PEMBIAKAN DI BEDENGAN:
    1. Persiapan Lahan

–       Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur.

–       Buat media bedeng ukuran 25m x 2m untuk menghasilkan 4 ton tanah bermikoriza

  1. Sterilisasi lahan

–       Pada bedengan di atas disebarkan dazomet granular 50-60gr/m2 à diaduk merata lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.

–       Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan, selain untuk meratakan hasil juga untuk menguapkan sisa fumigasi.

–       Lima hari kemudian bedengan tersebut dapat digunakan.

  1. Inokulasi

–       Membuat lobang untuk tanaman inang (jagung, sorgum atau  pueraria).

–       Pada tiap lubang diberi starter mikoriza ½ – 1 gram

–       Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan  pra inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan.

  1. Multiplikasi

–       Perawatan tanaman inang perlu dilakukan selama di media bedeng pembiakan.

–       Setelah tanaman inang berbunga sebaiknya digunting u/ merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza.

  1. Panen Inokulum

–       Setelah tanaman inang mengering, tanah media bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum.

–       Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan sebatas lapisan yang telah dilakukan sebelumnya (20-25 cm).

  1. Pemakaian hasil

–       Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 gr/tanaman.

–       Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan.

 

 

 

 

Tabel perbandingan perlakuan dengan mikoriza dan tanpa mikoriza:

NO

WAKTU

MIKORIZA

KONTROL

Tinggi (cm)

Σ daun

Tinggi (cm)

Σ daun

1

21-Nov-10

7

7

5.7

6

2

22-Nov-10

8.5

8

7.4

9

3

23-Nov-10

10

9

9.8

9

4

24-Nov-10

13.5

9

12.9

9

5

25-Nov-10

19.5

12

17

12

6

26-Nov-10

20.5

12

18.4

12

7

27-Nov-10

22.2

12

19.2

12

8

29-Nov-10

22.4

13

20

12

9

30-Nov-10

23.2

11

21

11

10

3-Dec-10

27.5

10

23.5

10

11

4-Dec-10

28.9

9

25

10

12

5-Dec-10

29.1

9

25.2

10

13

6-Dec-10

30

11

26

10

14

7-Dec-10

30.9

11

27

10

Anda bisa memperoleh Mikoriza dan jenis-jenis produk Pertanian Organik lainnya melalui herdinbisnis.com

 

Cara Order:

SMS Nama, Alamat, Jenis dan Jumlah Produk kirim ke 081249412121

 

Anda mungkin juga meminati:

–       Tahukah Anda tentang Mikoriza ?

–       Bermanfaat lho untuk Tanah …

–       Manfaat Mikoriza bagi Tanaman

–       SEDIA MIKORIZA, Pupuk Hayati Perangsang Pertumbuhan Akar

–       Budidaya Jagung Organik versi Herdinbisnis Di Wilayah BPP Demung, Cara Tanam Jejer Legowo

LinkWithin

http://www.herdinbisnis.com

Pelatihan Pembuatan dan Perbanyakan Mikoriza di UGM

6 Juli 2012

Manfaat mikoriza bagi tanaman :

  1. Memperbaiki penyerapan air dan hara.

–       Peningkatan penyerapan unsur hara makro dan beberapa unsur hara mikro : N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Mn dan Zn.

–       Sinergis dengan mikroorganisme lain. Keberadaan mikoriza juga bersifat sinergis dengan mikroba potensial lainnya seperti bakteri penambat N dan bakteri pelarut fosfat. Akar tanaman yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan tidak tersedia untuk tanaman.

–       Jangkauan penyerapan akar tanaman yang diberi mikoriza menjadi 200 – 300 kali lebih luas dibandingkan tanaman tanpa diberi mikoriza.

  1. Memperbaiki pertumbuhan akar.
  2. Memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman.

–       Penyerapan air dan hara lebih baik.

–       Mikoriza memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh. Mikoriza dapat memberikan hormon seperti auksin, sitokinin, giberellin, juga vitamin kepada inagnya.

  1. Mengurangi guncangan (shock) saat pemindahan bibit.
  2. Mengurangi cekaman (stess) karena kekeringan.

–       Stress unsur hara

–       Stress kandungan garam

–       Stress nutrisi

–       Stress logam berat

  1. Tahan terhadap serangan patogen.

–       Berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya infeksi patogen akar.

–       Mikoriza dapat melepaskan antibiotik yang dapat menghambat perkembangan patogen.

  1. Lebih banyak bunga dan buah yang dihasilkan tanaman.
    Sebaiknya jika kita ingin hasil yang baik dari pemakaian pupuk hayati maka kita kombinasikan dengan Mikoriza. Mikoriza memiliki resistensi yang besar terhadap hama yang memakan daun/serangga, serta pathogen. Mikoriza tidak dapat tumbuh pada tempat yang tergenang dalam waktu lama sehingga drainase harus baik. Aplikasi Mikoriza tidak boleh bersamaan dengan mikroba anti fungi (misal : Trichoderma harzianum), serta tidak menggunakan pupuk anorganik yang berlebihan terutama Phospat dan tidak menggunakan fungisida yang berlebihan.

 

BAB I

PENDAHULUAN

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun
penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu
Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba.
Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N.
Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat
atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman.
Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas.
Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil
akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik
misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya
bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N
non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba
pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki
kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi
tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut
P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi
tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain:
Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba
yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi
dalam melarutkan K.

Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah:

Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza.
Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh
tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap
kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan
Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat
merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan
diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar.
Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain:
Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.

Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri.

Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur
(mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara
jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula
sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara
tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis
dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini
memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang
merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza
berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan
meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009)

Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan
berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah
juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah
kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama
unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk
hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik
cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini.
infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang
lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya
(karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997).

Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan
mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil
fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes,
famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora,
Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek
akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores
(Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat
bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan
pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan
produktivitas tanaman.

Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat
dikelompokkan ke dalam tiga tipe :
1. Ektomikoriza
2. Ektendomikoriza
3. Endomikoriza

Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar,
bercabang, rambut-rambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi
sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke
dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks
membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq.

Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas.

Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak
membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu
sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut
Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut
arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004).

Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul
Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon
rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family)
pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa
dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper
(jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenis-jenis Fagaceae), pinus,
beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum.

 

BAB II

ALAT DAN BAHAN

ALAT DAN BAHAN:

  1. Tabung ukur
  2. Neraca
  3. Magnenic stiner
  4. Ph stik
  5. Sendok zat
  6. Erlenmeyer
  7. Gelas kimia
  8. Botol semprot aquadest
  9. Plastik
  10. Tamtor
  11. Cetok
  12. Autoclave
  13. Tanah
  14. Pasir
  15. Ayakan tanah
  16. Kertas saring
  17. Baki
  18. Gelas aqua
  19. Polybag
  20. Ohouse

 

BAB III

CARA KERJA

PERSIAPAN

  1. Campurkan tanah dengan pasir dengan perbandingan 1 : 1.  Lalu masukkan dalam kantong plastik tahan panas.  Kemudian lakukan sterilisasi dengan autoclave dengan suhu 1200 dan tekanan 15lbs selama 1 jam.  Sterilisasi di ulang 3x berturut-turut dengan selang waktu 1 hari.

Cara menggunakan autoclave:

  • Periksa air autoclave kira – kira mencukupi penyeterilan
  • Masukkan kantong-kantong plastik tadi ke auto clave maksimal 20 bungkus
  • Tutuplah katup gas dan hidupkan atau nyalakan autoclave atau saklar yang paling bawah
  • Nyalakan kedua saklar
  • Putar pengaturan suhu 60 (timer)
  • Putar pengaturan Mpa maksimal
  • Tunggu sampai tekanan 0,15 kemudian matikan satu saklar ( P. S )
  • Putar pengaturan Mpa ( lampu kuning hidup dan tunggu sampai lampu merah hidup) alarm hidup.
  • Matikan P.S (power switch) autoclave
  1. Sediakan biji jagung masing-masing anak 5 biji dan direndam menggunakan HgCl2 0,1 % selama 10 menit.  Lalu bilas dengan air steril selama 3x dan masukkan pada cawan petri steril atau botol steril yang telah dilapisi kertas saring atau kapas basah.

Membuat larutan Jhonson

a.       Penimbangan unsure makro elemen dan pelarutan zat

         Cara menggunakan Ohouse

  Nyalakan timbangan ohouse, dimana sebelumnya telah disambungkan kealiran listrik

  Siapkan bahan yag ditimbang bawa keruangan penimbangan

  Nol kan angka yang tertera pada timbangan ( thare)

  Timbangan siap digunakan

         Pelarutan zat dengan menggunakan magnetic strirrer

Setelah zat ditimbang sesuai takaran kemudian masukkan dalam gelas campur dengan aquadest ± 45 ml.  Masukkan magnet kedalam gelas taruh dimesin penghangat (magnetic striker). Hidupkan tombol penghangat, dan hidupkan tombol pengaduk tunggu sampai lariutan benar –benar homogen, kemudian masukkan kedalam plastic.

Pemberian label pada plasti untuk membedakan jenis larutan yaitu: Nama zat, Dosis takaran (gram), tanggal pembuatan, dosis pengambilan (ml)

Unsur makro elemen Senyawa Konsentrsi larutan stok (gr/lt) Pembuatan larutan Volume larutan stok perliter Larutan final (ml)
N : K KNO3 101/20= 5,05 50 ml 6 ml
Ca3PO4 236/20= 11,8 400 ml 32 ml
P NH4H2PO4 115/20= 5,75 50 ml 2 ml

Cara membuat larutan jhonson

–          Larutkan Johnson tanpa fosfor ( NH4H2PO4 )

–          Membuat larutan fosfor ( P )

Cara : larutkan 2 ml NH4H2PO4 dalam 1 liter aquadest

–          Membuat larutan Johnson B

Cara: mencampurkan 300 ml larutan Johnson tanpa fosfor dengan 200 ml larutan fosfor dan 700 ml aquadest.

–          Membuat larutan Johnson C

Cara: mencampurkan 80 ml larutan Johnson tanpa fosfor ditambah dengan 200 ml larutan fosfor dan 300 ml aquadest.

B.   Perbanyakan Mikoriza pada akar tanaman Tebu

Untuk perbanyakannya dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:

1.      Pengambilan tanah yang terdapat miselium mikoriza didalam tanah disekitar perakaran tebu secukupnya.

2.      Keringkan tanah tersebut sampai benar – benar kering dengan sinar matahari.

3.      Cara penanaman mikoriza sebagai berikut:

  10 gram dari tanah yang mengandung mikoriza dibenamkan pada campuran tanah dan pasir yang sudah disterilkan dengan kedalaman sekitar 5 cm.

  Biji jagung uang sudah dikecambahkan ditanam di atas inokulum sedalam 3 cm.

  Tanaman jagung ini dipelihara dengan larutan Johnson sejak 2 mingggu setelah tanam hingga berumur 8 minggu.  Di samping itu tanaman disiram dengan aquadest 2x sehari.

Cara pemberian larutan Johnson pada jagung

  2 minggu setelah penanaman diberi 10 ml larutan Johnson tanpa P.

  2 minggu berikutnya diberi 20 ml larutan Johnson B

  2 minggu berikutnya diberi 40 ml larutan Johnson B

  2 minggu berikutnya diberi 60 ml larutan Johnson C

  Tanaman jagung dibiarkan selama 1 minggu tanpa penambahan air maupun larutan Johnson

  Bagian tanam yang ada di atas permukaan media dipotong dan bagian perakaran dibongkar untuk melihat pertumbuhan mikoriza

  Jumlah spora mikoriza dapat dihitung dengan cara mengambil 1 gram media yang sudah dibongkar kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah diberi air ±9 ml air.  Dikocok hingga homogen, campuran kemudian di buang ke dalam cawan petri, dilihat di bawah mikroskop stereo.

BAB IV

APLIKASI MIKORIZA

Cara penggunaanya bisa melalui badan buah cendawan dibelah dan dicampur air, sehingga sporanya terhambur dalam air.

Suspensi spora ini disiramkan pada akar tanaman. Selanjutnya, dengan masukan sedikit hara, spora berkecambah dan berkembang biak diarea peerakaran  tanaman. Hifa- hifa lalu membantu penyerapan hara dan seterusnya. Namun, kelebihan penggunaan pupuk jangan terlalu banyak. Kelebihan pupuk malah akan mengakibatkan tidak terbentuknya mikoriza. Hara fosfor yang berlebihan justru membentuk struktur vegetatif.

BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Praktikum perbanyakan mikoriza dilakukan pada tanggal 8 mei 2010 sampai tanggal 15 juli 2010, laporan praktikum ini dapat disimpulkan keadaan tanaman sampai perkembangan mikoriza. Laporan keadaan medium tanaman untk perbanyakan mikoriza yaitu :

a.       Tanaman tumbuh sampai panjang batang 60 – 70 cm dan dalam keadaan berbunga.

b.      Perkembangan misellium mikoriza merata keseluruh bagian aqua/media tanam dalam pollibag

c.       Hasil dari perbanyakan mikoriza :

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on March 31, 2013, in Agen Hayati. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: