“dengarkanlah kabar bahagia ini.

wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa”

inilah epilog dari novel karya Tere-Liye, Bidadari-Bidadari surga. sungguh, jika memang ada novel ter-waw khusus menceritakan pengorbanan seorang kakak, maka inilah buku yang akan ada di urutan wahid. tere-liye, yang bagi saya adalah “sang penguasa kata-kata” , benar-benar mampu membuat saya yang kurang lebih sok-tegar ini, dibuatnya menjadi cewek yang gampang terharu. mau bagaimana, tiap baca novelnya tere-liye (yang sejauh ini saya udah baca 3 novelnya) P-A-S-T-I saya tidak akan berhenti mengeluarkan bulir-bulir air hangat dari pelupuk mata, saat di bagian klimaks cerita bang tere, dan celakanya tiap cerita mengandung unsur klimaksnya pribadi😥

dan itu hebat membuat saya benar-benar, ya, kau tahu-lah, apa yang kita sebut dengan menangis, terisak,.

bang tere-liye, punya nama asli darwis (menurut beberapa sumber), tere-liye itu nama pena-nya. di sebuah blog yang saya lupa dimana (mohon maaf), tertulis hasil wawancaranya dengan bang tere, dan yang paling saya suka adalah statementnya beliau yang bilang kalau beliau sungkan untuk di publish di media, beliau lebih suka novel-novel-nya saja yang terkenal, cukuplah bagi bang tere jika bukunya dapat menginspirasi banyak orang. subhanallah, begitu rendah hatinya sang jenius kata-kata ini, bahkan sejatinya dia pasti bisa lebih terkenal dari bang andrea hirata atau bang a.fuadi, mau bagaimana, karena bang tere nyaris membuat 15 novel yang hebat mendidik, penuh pesan-pesan yang dapat membombardir semangatmu dan menyusunnya lagi menjadi mozaik-mozaik semangat baru yang ter-waw yang dapat kau miliki. sungguh, bagi siapa yang ingin tahu apa itu sejatinya novel yang bagus, bacalah novel-novel bang tere!! :)

back to topic, kan mau ngomongin Bidadari-bidadari surga nih yaa… jadi alkisah ada seorang gadis bernama laisa, tinggal di lembah lahambay bersama mamak-nya beserta ke-4 adik-adiknya yaitu dalimunte, ikanuri, wibisana, dan si bungsu yashinta (babak-nya telah meninggal diterkam harimau gunung kendeng). konsep ceritanya yaitu segala hal tentang pengorbanan laisa tehadap adik-adiknya, betapa laisa menyayangi adik-adiknya dengan tulus karena Allah SWT. mungkin sejenak anda akan menilainya sebagai novel biasa ya? eh, tunggu dulu, yang menjadi paradoks adalah fakta bahwa ternyata laisa sangat berbeda dengan keempat adiknya, laisa berbadan gemuk, gempal, berkulit hitam, pendek, dan berambut gimbal, sedangkan keempat adiknya tumbuh menjadi pria-pria tampan dan wanita cantik. apakah yang sesungguhnya terjadi? apakah laisa benar-benar saudara kandung dalimunte dan adik-adiknya?

maka jika kau telah membacanya, pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah omong kosong, tidak penting siapakah laisa di keluarga mamak lainuri. tetapi yang jelas, laisa tetaplah sulung dengan penuh pengorbanan. mau bagaimana, laisa berhenti sekolah demi adik-adiknya agar tetap bersekolah, laisa mengorbankan jiwanya demi keselamatan adik-adiknya, laisa menyembunyikan kesedihan dan kesakitannya agar tidak menyusahkan adik-adiknya.

“yang berhak menyusahkan itu adik-adik, bukan laisa…”

sungguh betapa laisa menyayangi adik-adiknya. dia mendidik keempat adiknya dengan segala budi baik dan nilai akhlak mulia. lihatlah, adik-adiknya tumbuh menjadi manusia-manusia sukses. lihatlah, adik-adiknya bisa lulus sarjana, bahkan dalimunte bisa mencapai gelar profesor, yashinta melanjutkan S2 nya di belanda. bahkan ‘kembar’ nakal, ikanuri dan wibisana, bisa lulus S1 (yang sebenernya mereka pun dapat melanjutkan kuliah, namun lebih mencintai dunia bisnis ketimbang omong kosong bangku kuliah) dengan nilai baik dan membuka pabrik spare part di ibukota.

kurang apa lagi? bahkan laisa dengan ikhlas menerima kenyataan bahwa dia ‘dilangkahi’ oleh keempat adiknya dalam urusan pernikahan. betapa tidak kurang, nyaris seluruh penduduk lembah lahambay berbisik membicarakannya yang tak urung menikah, dilangkahi adik-adiknya, pula. sungguh, laisa benar-benar rela atas takdirnya, menerima bahwa hidupnya memang sederhana, dan tak ada yang perlu disesali atas takdir Allah SWT. lihatlah, bahkan laisa telah mencukupi segala persyaratan sebagai istri yang sempurna, hanya satu kekurangannya: tampilan fisik. maka sesungguhnya sial-lah para lelaki yang dengan kasar menolak laisa hanya karena tampilan fisik. betapa laisa benar-benar menerima semua kenyataan itu.

laisa, memenuhi janjinya kepada babaknya, yang sebelum kematiannya berpesan agar menjaga adik-adiknya. anggukan mantap laisa bukanlah anggukan omong kosong biasa untuk ukuran anak berusia delapan tahun saat itu. janji laisa benar-benar ditepati! laisa sigap menjaga dan mendidik adik-adiknya dengan penuh cinta. dia rela mengorbankan apa saja demi adik-adiknya. bahkan saat terakhirnya, pun laisa hanya ingin benar melihat adik-adiknya bahagia.

sungguh, cerita ini akan menyadarkan kita, betapa pentingnya keluarga, pengorbanan, ketulusan dan kesabaran kita terhadap segala takdir Tuhan. betapa indah segala aspek novel ini, bang tere mengemasnya menjadi bingkisan terindah, kata-kata yang dibalut seribu makna. kita akan terhipnotis saat pertama kali membuka buku ini, menjejaki kata tiap kata, kita seakan disandera oleh alur cerita yang sungguh imajinatif, kreatif, mau bagaimana? tere-liye mengemasnya lewat alur maju-mundur yang sangat sempurna. tidak menggurui, tidak sok-bijak, tidak tidak apalah yang buruk-buruk. semuanya rapih.

bahkan, bagi beberapa orang yang merasa terganggu dengan beberapa bab yang menuliskan cerita tersirat bahwa ternyata tere-liye adalah saksi hidup, bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, bahwa sebenarnya bang tere adalah ‘bagian’ dari keluarga mamak lainuri, bagi saya, itu sah-sah saja. bahkan saya berpikir, pun bagian itu adalah ‘bumbu-bumbu’ agar pembaca semakin meng-apa2 terhadap buku ini. :D

yah, segitulah ringkasan cerita yang saya dapat dari buku BBS ini, saya berharap, bagi anda yang membaca, segeralah pergi ke toko buku (kecuali di apotek ada, datangilah) untuk membeli buku ini, bacalah, atau minimal anda bacalah dimana ada milik siapa yang mengisahkan bidadari-bidadari surga ini. sungguh, anda sangat layak untuk tahu, apa itu bidadari-bidadari surga yang sebenarnya, bahwa hey, sadarlah para lelaki (dan wanita) bahwa fisik bukanlah segalanya dalam hidupmu, bahwa ada yg lebih penting diatas itu semua. dan apapun yang kau bisa, lakukanlah yang terbaik untuk keluargamu. jadilah kakak yang memberi teladan, jadilah adik yang memberi hormat. jadilah manusia yang mencintai atas dasar Allah SWT, atas dasar akhlak siapa yang ingin kau cintai, bukan karena tampilan fisik, kedudukan, maupun hartanya. seperti lebah yang mendekati bunga dengan kelopak yang cantik-cantik dan ber-madu ruah saja, atau seperti rubah yang menyukai lawan jenis hanya dengan bau-nya saja, maka pun manusia jika berlaku seperti itu, sejatinya merekalah pemilik perangai binatang.

selamat membaca !

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on January 24, 2013, in Kumpulan Novel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: