HAMA, PENYAKIT DAN HARA PADA PADI

HAMA, PENYAKIT DAN HARA

PADA PADI

Cetakan ketiga 2007

 

 

 

 

Kerja sama

Puslitbang Tanaman Pangan

Balai Pengkajian Tehnologi Pertanian (BPTP) Sumut, Riau, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, Sulteng, Kalbar

International Rice Research Institute (IRRI)

 

 

 

 

Ucapan terima kasih disampaikan kepada:

Ir. Hendarsih, MSc., Dr. I. N. Widiarta,

Ir. Rochman, Dr. Sarlan Abdurachman,

Dr. Sudarmaji, dan Dr. A. Karim Makarim

Atas koreksi dan saran sampai diterbitkannya buku ini

Cetakan pertama 2003

Cetakan kedua 2005

Cetakan ketiga 2007

Tim Penyusun:

Mahyuddin Syam

Suparyono

Hermanto

Diah Wuryandari S.

 

 

  1. A.  HAMA

 

  1. 1.        PENGGEREK BATANG (STEM BORER)

Nama lain:

  • Bila serangan terjadi pada fase pembibitan sampai vegetatif disebut “SUNDEP”
  • Bila serangan terjadi pada fase generatif disebut “BELUK”

 

Penyebab (ulat):

  • Scirpophaga incertulas (Penggerek batang kuning) (Gb 1)
  • Scirpophaga innotata (Penggerek batang putih) (Gb. 2)
  • Chilo suppressalis (Penggerek batang bergaris) (Gb. 3)                   

Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang, hindari penanaman pada bulan-bulan Desember – Januari karena suhu, kelembaban, dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang sementara tanaman padi yang baru ditanam sangat sensitif terhadap hama ini. Hama ini dapat merusak tanaman pada semua fase baik saat di pembibitan, anakan, maupun fase berbunga

 

Gejala:

Di lapang keberadaan hama ini ditandai oleh kehadiran ngengat / kupu-kupu (Gb. 1, 2, dan 3), kematian tunas-tunas padi / sundep / dead heart (Gb. 4), kematian malai / beluk / white head (Gb. 5), dan ulat / larva penggerek batang (Gb. 6).

 

Gambar 1

Scirpophaga incertulas

(Ngengat penggerek batang kuning)

Gambar 2

Scirpophaga innotata

(Ngengat penggerek batang putih)

Gambar 3

Chilo suppressalis

(Ngengat penggerek batang bergaris)

 

Gambar 4

Gejala Sundep

Gambar 5

Gejala Beluk

Gambar 6

Larva penggerek batang bergaris

 

Pengendalian:

  • Jika rumpun memperlihatkan gejala sundep atau beluk > 10% harus segera dilakukan tindakan
  • Insektisida yang berbahan aktif: Karbofuran, Bensultap, Karbosulfan, Dimenhipo, Amitraz, dan Fipronil.
  • Sebelum menggunakan suatu produk pestisida baca dan pahami informasi yang tertera pada label. Kecuali untuk kupu-kupu yang banyak beterbangan jangan memakai pestisida semprot untuk sundep dan beluk

 

 

  1. 2.        WERENG
    1. a.    WERENG COKLAT (BROWN PLANTHOPPER-BPH)

Penyebab à Nilaparvata lugens (Stal)

WCk juga merupakan vektor penyakit virus “kerdil rumput” dan “kerdil hampa”.

Sejak pertengahan tahun 1970an wereng coklat (WCk) (Gb. 7) menjadi salah satu hama utama tanaman padi di Indonesia. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP>200 dsb). Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah – kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Tergantung pada tingkat kerusakan serangan wereng coklat dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso. Selain itu, Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkutan tanaman padi WCk dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh

Gejala:

  • Daun menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat seperti terbakar (hopperburn)
  • Dalam suatu hamparan gejala hopperburn terlihat sebagai bentuk lingkaran (Gb. 8) yang menunjukkan pola penyebaran WCk yang dimulai dari satu titik kemudian meyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian populasi WCk biasanya sudah sangat tinggi

 

Gb.7. Wereng coklat

Gb.8. Gejala hopperburn serangan wereng coklat

 

Pengendalian:

  • Varietas tahan.

Tergantung pada biotipe yang berkembang di suatu ekosistem.

ü Daerah endemik WCk biotipe1 dapat menanam antara lain: Memberamo, Widas dan Cimelati

ü Untuk biotipe 2 dan 3, Memberamo, Cigeulis dan Ciapus (lihat Daftar Varietas

ü Unggul Padi pada CD ROM Bank Informasi Teknolog Padi)

  • Penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat
  • Pergiliran varietas
  • Insektisida

Berbagai insektisida yang berbahan aktif:: Amitraz, Bupofresin, Beauveria Bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml, BPMC, Fipronil, Amidakloprid, Karbofuran, Karbosulfan, Metolkarb, MIPCI, Propoksur,  Tiametoksan.

 

  1. b.   WERENG HIJAU (GREEN LEAFHOPPER)

Penyebab:

  • Nephottetix virescens
  • Nephottetix nigropictus
  • Nephottetix cinticeps
  • Nephottetix malayanus

Peran wereng hijau (WH) (Gb. 9) merupakan vektor penyakit “tungro” yang merupakan salah satu penyakit virus terpenting di Indonesia. Kemampuan WH sebagai penghambat dalam system pertanian padi sangat tergantung pada penyakit virus tungro. WH banyak ditemukan pada sistem sawah irigasi teknis, ekosistem tadah hujan, tetapi tidak lazim pada ekosistem padi gogo. Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi sangat memicu perkembangan WH

Gejala:

  • WH menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir tidak menyukai pelepah atau daun bagian tengah
  • WH menyebabkan daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye
  • Penurunan jumlah anakan dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek)

 

Gb. 9. Wereng hijau

 

Pengendalian:

  • Umumnya dikendalikan dalam satu paket dengan pengendalian tungro.
  • Menanam varietas tahan tungro seperti: Tukad Petanu, Kalimas, dan Bondoyudo
  • Insektisida berbahan aktif BPMC, Bufrezin, Imidkloprid, Karbofuran, MIPC, Tiametoksam

 

  1. 3.        KEPINDING TANAH (BLACK BUG)

Penyebab à Scotinophara coarctata

Pada ekosistem padi di Asia terdapat dua spesies kepinding tanah yaitu kepinding tanah Malaya Scotinophara (=Podops) coarctata (Gb. 10) dan kepinding tanah Jepang Scotinophara (=Podops) lurida. Banyak lagi spesies yang mirip kedua kepinding tanah tersebut tetapi keberadaannya jarang mencapai jumlah yang melimpah. Kedua jenis kepinding tanah ini sering mencapai jumlah berlimpah dan karena pengendalian dengan pestisida sulit dilakukan, hama ini sering menimbulkan kerugian besar. Pada siang hari kepinding tua yang hitam coklat mengkilat bergerombol di pangkal batang padi persis di batas genangan air Pada malam hari mereka naik batang padi dan mengisap cairan dari dalam jaringan tanaman. Selama musim kemarau kepinding tanah menghabiskan waktunya di belahan tanah yang ditumbuhi rumput. Kepinding tanah dapat terbang ke pertanaman padi dan berkembang biak dalam beberapa generasi. Mereka kembali ke fase dormannya setelah padi dipanen. Kepinding dewasa dapat menempuh jarak yang jauh. Kepinding dewasa tertarik pada sinar dengan intensitas yang kuat dan penangkapan tertinggi diperoleh pada saat bulan purnama

 

Gejala:

  • Pengisapan cairan oleh kepinding tanah menyebabkan warna tanaman berubah menjadi coklat kemerahan atau kuning
  • Buku pada batang merupakan tempat isapan yang disukai karena menyimpan bayak cairan.
  • Pengisapan oleh Kepinding tanah. menyebabkan jumlah anakan berkurang dan pertumbuhan terhambat (kerdil).
  • Apabila serangan terjadi setelah fase bunting tanaman menghasilkan malai yang kerdil eksersi malai yang tidak lengkap dan gabah hampa.
  • Dalam kondisi populasi kepinding tinggi tanaman yang dihisap dapat mati atau mengalami “bugburn” seperti “hopperburn” oleh wereng coklat

 

Gambar 10. Kepinding Tanah

 

Pengendalian:

  • Membersihkan lahan dari berbagai gulma agar sinar matahari dapat mencapai dasar kanopi tanaman padi
  • Menanam varietas padi berumur genjah, untuk menghambat peningkatan populasi kepinding tanah.

 

  1. 4.        WALANG SANGIT (RICE BUG)

 

Penyebab à Leptocorisa oratorius (Fabricius)

Walang sangit (Gb. 11) merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Selain sebagai mekanisme pertahanan diri bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama

Gejala:

  • Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu
  • Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur serta gabah menjadi hampa (Gb. 12).

 

Gb. 11

Walang sangit.

Gb. 12

Beras mengalami perubahan warna dan mengapur akibat serangan walang sangit

 

Pengendalian:

  • Mengenendalikan gulma, baik yang ada disawah maupun yang ada di sekitar pertanaman
  • Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam
  • Menangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan;
  • Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam
  • Insektisida yang berbahan aktif: BPMC, Fipronil, Metolkarb, MIPC, Propoksur

 

  1. 5.        TIKUS (RAT)

Penyebab à Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)

Tikus (Gb. 13) merusak tanaman padi pada semua fase tumbuh dari semai hingga panen bahkan sampai penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari tikus bersembunyi dalam sarangnya ditanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan didaerah perkampungan dekat sawah. Pada periode bera sebagian besar tikus bermigrasi kedaerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/faeces, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus sangat cepat berkembang biak dan hanya terjadi pada periode padi generatif. Dalam satu musim tanam satu ekor tikus betina dapat melahirkan 80 ekor anak.

 

Gejala:

Pada serangan berat tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak meluas ke arah pinggir dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan (Gb. 14A).

 

Gb. 13. Tikus sawah (R argentiventer)

A

B

C

Gb. 14. Ciri khas petak sawah diserang tikus (A), kerusakan padi fase vegetatif (B) & generatif (C)

 

Gb. 15. TBS pada habitat batas kampung (A). Bubu perangkap (B)

Pengendalian:

Melalui pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu), yaitu pengendalian yang didasarkan pada biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara bersama oleh petani sejak dini (sejak sebelum tanam), intensif dan terus-menerus memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang tersedia, dan dalam wilayah sasaran pengendalian skala luas

Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb:

 

Stadia padi / kondisi lingkungan sawah

Cara

Pengendalian

Matang

Bunting

Bertunas

Tanam

Semai

Olah Tanah

Bera

+

+

Tanam serempak

+

+

+ +

Sanitasi habitat

+

+ +

+

Gropyok massal

+ +

+ +

Fumigasi

+

+

+ +

LTBS

+ +

TBS

+

Rodentisida K/P

Keterangan: 

+       = dilakukan                                   

++    = difokuskan

 

Pada awal musim, pengendalian tikus ditekankan untuk menekan populasi awal tikus, yang dilakukan melalui gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS (Trap Barrier System) dan LTBS, pemasangan bubu perangkap pada pesemaian (Gb.15). TBS merupakan pertanaman padi yang ditanam 3 minggu lebih awal, berukuran minimal (20×20) m, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, memiliki bubu perangkap pada setiap sisi pagar plastik dengan lubang menghadap keluar, dan dilengkapi dengan tanggul sempit sebagai jalan masuk tikus. TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu tergenang air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah disekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman. LTBS (Gb. 16) merupakan bentangan pagar plastik sepanjang > 100 m, dilengkapi bubu membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. perangkap pada kedua sisinya secara berselangseling agar mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan didekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.

  • Fumigasi (Gb. 17) paling efektif dilakukan pada fase generatif, saat sebagian besar tikus berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode ini efektifmembunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya
  • Rodentisida sebaiknya hanya digunakan saat populasi tikus sangat tinggi, dan hanya efektif pada periode bera dan fase awal vegetatif

 

Gb. 16. LTBS pada habitat tanggul irigasi

Gb. 17. Fumigasi

  1. 6.        GANJUR (GaALL MIDGE)

Penyebab à Orseolia oryzae (Wood-Mason)

Ganjur umumnya bukan merupakan hama utama padi di Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya terjadi pada musim-musim tertentu. Namun demikian serangan ganjur dapat terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase primordia. Serangga dewasa Orseolia oryzae menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang (Gb. 19), sehingga penyebaran sangat terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik pada cahaya

 

Gejala:

  • Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk seperti pentil atau daun bawang dengan panjang bervariasi 15-20 cm (Gb. 18).
  • Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai

 

Gb. 18

 Gejala kerusakan: daun menggulung seperti daun bawang

Gb. 19

Serangga dewasa ganjur seperti nyamuk kecil

 

Pengendalian:

  • Atur waktu tanam agar puncak curah hujan tidak bersamaan dengan stadia vegetatif.
  • Bajak ratun/tunggul yang berasal dari tanaman sebelumnya dan buang/bersihkan semua tanaman inang alternatif seperti padi liar (Oryza rufipogon) selama masa bera.
  • Tanam varietas tahan seperti Ciliwung dan Asahan (lihat Daftar VarietasUnggul pada pada CD ROM Bank Informasi Teknologi Padi)
  • Hama ganjur dewasa sangat tertarik terhadap cahaya, oleh karena itu lampu perangkap dapat digunakan untuk menangkap hama ganjur dewasa.
  • Insektisida Sistemik granular yang berbahan aktif Karbofuran

 

  1. 7.        HAMA PUTIH PALSU (LEAFFOLDER)

Penyebab à Cnaphalocrocis medinalis (Guenée)

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai >50%. Siklus hidup hama ini 30- 60 hari

Gejala:

  • Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki 3 buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan.
  • Pada saat beristirahat ngengat berbentuk segi tiga (Gb. 22).
  • Kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman (Gb. 20).
  • Larva (Gb. 21) makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih.

Gb. 20

Daun berwarna putih dan terlipat

Gb. 21

Larva hama putih palsu.

Gb. 22

Ngengat hama putih palsu pada saat istirahat.

 

Pengendalian:

Upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam

Insektisida berbahan aktif Fipronil atau Karbofuran

Jangan menggunakan insektisida sampai tanaman berumur 30 hari setelah tanam pindah atau 40 hari sesudah sebar benih

Tanaman padi yang terserang pada fase ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.

 

  1. 8.        HAMA PUTIH (CASEWORM)

Penyebab à Nymphula depunctalis (Guenée)

Hama putih jarang menjadi hama utama pada padi. Tanda adanya hama ini dilapang adalah dari ngengat kecil (Gb. 23) dan larva. Serangan oleh hama ini dapat terjadi pada pembibitan sampai fase anakan. Fase hama yang merusak adalah fase larva

    

Gejala:

Kerusakan pada daun yang khas yaitu daun terpotong seperti digunting (Gb. 24)

Daun yang terpotong tersebut berubah menyerupai tabung yang digunakan larva untuk membungkus dirinya dan larva aman dengan benang-benang sutranya. Larva bernafas dari dalam tabung dan memerlukan air di sawah

Gulungan daun yang berisi larva dapat mengapung di atas permukaan air pada siang hari dan makan pada malam hari

Larva akan memanjat batang padi membawa gulungan daunnya yang berisi air untuk pernafasannya (Gb. 25)

Gb. 23

Ngengat hama putih

Gb. 24

Gulungan daun yang berisi larva hama putih mengapung di atas permukaan air

Gb. 25

Gejala kerusakan yaitu daun terpotong seperti digunting

 

Pengendalian:

  • Perlu dilakukan kalau tingkat serangan mencapai >25% daun rusak atau 10 daun rusak per rumpun.
  • Insektisida yang berbahan aktif Fipronil atau Karbofuran

 

 

  1. 9.        ULAT TENTARA/GRAYAK (ARMYWORM)

Penyebab (ulat):

  • Spodoptera mauritia acronyctoides (Guenée)
  • Mythimna separata (Walker)
  • Spodoptera exempta (Walker)
  • Spodoptera litura (Fabricius) (jarang merusak padi)

Ngengat dewasa aktif pada malam hari makan, berkopulasi, dan bermigrasi,

Sedangkan pada siang hari beristirahat di dasar tanaman. Ngengat sangat tertarik terhadap cahaya. Kerusakan terjadi karena larva (Gb. 26) makan bagian atas tanaman pada malam hari dan cuaca yang berawan

 

Gejala:

  • Larva mulai makan dari tepi daun sampai hanya meninggalkan tulang daun dan batang (Gb. 27).
  • Larva sangat rakus dan serangan terjadi pada semua fase tumbuh tanaman padi mulai dari pembibitan khususnya pembibitan kering sampai fase pengisian.
  • Mythimna separata dapat memotong malai pada pangkalnya dan dikenal sebagai ulat pemotong leher malai (Gb. 28).

Gb. 26

Larva dan pupa ulat Tentara

Gb. 27

Gejala kerusakan pada daun yang dimakan mulai dari tepi daun dan hanya meninggalkan tulang daun dan batang

Gb. 28

Malai yang terpotong akibat serangan larva ulat tentara

 

Pengendalian:

Insektisida yang berbahan aktif BPMC atau Karbofuran.

 

  1. 10.    ULAT TANDUK HIJAU (GREEN HORNED CATERPILLAR)

Penyebab à Melanitis leda ismene Cramer

Ngengat tidak tertarik pada cahaya. Ngengat berupa kupu-kupu yang berukuran besar yang sangat mudah dikenali karena pada sayapnya terdapat bercak berbentuk seperti mata (Gb. 29). Larva (Gb. 30) memiliki 2 pasang tanduk satu pasang di bagian ujung kepala dan satu pasang lainnya ada di bagian ujung abdomen. Selain tanaman padi serangga ini memiliki inang lain seperti rumput-rumputan, tebu, sorgum, Anastrophus sp, Imperata sp, dan Panicum spp.

 

Gejala:

  • Larva penyebab kerusakan pada tanaman makan daun mulai dari pinggiran dan ujung daun.
  • Fase pertumbuhan tanaman yang diserang adalah dari fase anakan sampai pembentukan malai.

Gb. 29

Ngengat berukuran besar, pada sayapnya terdapat bercak berbentuk mata

Gb. 30

Larva ulat tanduk hijau memiliki 2 pasang tanduk, satu pasang dibagian ujung kepala dan yang satu lagi dibagian ujung abdomen

 

Pengendalian:

  • Memanfaatkan musuh alami seperti parasit telur Trichogrammatidae.
  • Pengendalian dengan insektisida tidak dianjurkan pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam pindah atau 40 hari setelah sebar benih.
  1. 11.    ULAT JENGKAL PALSU HIJAU (GREEN SEMILOOPER)

Penyebab à Naranga aenescens (Moore)

Populasi tinggi dari hama ini dapat terjadi sejak di persemaian hingga anakan maksimum. Tanaman padi yang diberi pupuk dengan takaran tinggi sangat disukai hama ini. Populasinya meningkat selama musim hujan. Ngengat aktif pada malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dasar tanaman atau di rumput-rumputan. Hama ini jarang menyebabkan kehilangan hasil karena tanaman yang terserang dapat sembuh kembali.

 

Gejala:

  • Larva muda memarut jaringan epidermis tanaman meninggalkan lapisan bawah daun yang berwarna putih (Gb. 31)
  • Larva yang sudah tua makan dari pinggiran daun (Gb. 32)
  • Larva bergerak seperti ulat Jengkal

Gb. 31

Larva muda memarut jaringan epidermis tanaman meninggalkan lapisan bawah daun yang berwarna putih

Gb. 32

Larva tua ulat jengkal-palsu hijau makan dari pinggiran daun

 

Pengendalian:

  • Memanfaatkan musuh alami seperti parasit telur Trichogrammatidae; parasit larva dan pupa seperti Ichneumonidae, Braconidae, Eulophidae, Chalcidae; dan laba-laba pemangsa ngengat
  • Musuh alami dapat menekan populasi hama ini

 

  1. 12.    ORONG – ORONG (MOLE CRICKET)

Penyebab à Gryllotalpa orientalis Burmeister

Orong-orong jarang menjadi masalah di sawah, tetapi sering ditemukan di lahan pasang surut dan biasanya hanya terdapat di sawah yang kering yang kekurangan air. Penggenangan tanaman menyebabkan orong-orong pindah ke pematang. Hama ini memiliki tungkai depan yang besar (Gb. 33). Siklus hidupnya 6 bulan

 

Gejala:

Hama ini dapat merusak tanaman pada semua fase tumbuh

Benih yang disebar di pembibitan juga dapat dimakannya

Hama ini memotong tanaman pada pangkal batang dan orang sering keliru dengan gejala kerusakan yang disebabkan oleh penggerek batang (sundep)

Orong-orong merusak akar muda dan bagian pangkal tanaman yang berada di bawah tanah (Gb. 34)

Pertanaman padi muda yang diserangnya mati sehingga terlihat adanya spotspot kosong di sawah

Gb. 33

Orong-orong

Gb. 34

Pangkal tanaman yang rusak akibat serangan orong – orong

 

  1. 13.    LALAT BIBIT (RICE WHORL MAGGOT)

Penyebab à Hydrellia philippina Ferino

Lalat bibit merupakan hama penting pada daerah yang kondisi airnya sulit diatur. Dalam serangan yang tinggi hama ini dapat menyebabkan petani harus melakukan tanam ulang karena lebih dari 50% tanaman baru mereka mati oleh lalat bibit (Gb. 35). Lalat bibit (Gb. 36) umumnya menyerang pertanaman yang baru dipindah di sawah yang tergenang

 

Gejala:

Gejala serangan berupa bercak kuning disepanjang tepi daun

Daun yang terserang menjadi berubah bentuk dan daun menggulung (Gb. 37)

Telur serangga ini diletakkan di permukaan atas daun berwarna keputih-putihan berbentuk lonjong menyerupai buah pisang (Gb. 38)

Bila daun yang menggulung dibuka dengan mudah dapat dijumpai larva yang berwarna kuning kehijauan yang tembus cahaya (Gb. 39)

Larva juga dapat bergerak ke bagian tengah tanaman sampai mencapai titik tumbuh

Gb. 35

Serangan lalat Bibit

Gb. 36

Lalat bibit.

Gb. 37

Gejala serangan larva lalat bibit mengakibatkan daun berubah bentuk dan terlihat ada bercak kuning disepanjang tepian daun

Gb. 38

Telur lalat bibit berbentuk lonjong seperti pisang

Gb. 39

Larva lalat bibit

Pengendalian:

  • Mengeringkan sawah.
  • Pengendalian yang tepat adalah melalui pencegahan karena ketika gejala kerusakan terlihat di lapang, lalat bibit sudah tidak ada di pertanaman.
  • Insektisida yang berbahan aktif: Bensultap, BPMC, atau Karbofuran

 

  1. 14.    KEONG MAS (GOLDEN APPLE SNAIL)

Penyebab à Pomacea canaliculata (Lamarck)

Keong mas merupakan salah satu hama penting yang menyerang padi muda terutama di sawah yang ditanam dengan sistem tabela. Waktu kritis untuk mengendalikan keong mas adalah pada umur 10 HST pindah atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar dari pada laju kerusakan oleh keong Mas

 

Gb. 40

Keong mas

Gb. 41

Serangan keong Mas

Gb. 42

Telur keong mas berwarna merah muda

Gb. 43

Telur keong mas dihancurkan

 

 

Gejala:

  • Keberadaannya di lapang ditandai oleh adanya telur berwarna merah muda (Gb. 42) dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna.
  • Keong mas (Gb. 40) merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya menyebabkan adanya bibit yang hilang dipertanaman
  • Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang (Gb. 41)

 

 

 

Pengendalian:

  • Secara fisik gunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada tempat air masuk dipematang untuk meminimalkan masuknya keong mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan.
  • Secara mekanis pungut keong dan hancurkan (Gb. 43)
  • Bila di suatu lokasi sudah diketahui bahwa keong mas adalah hama utama sebaiknya tanam bibit umur > 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun
  • Bila terjadi invasi keong mas sawah perlu segera dikeringkan karena keong mas menyenangi tempat yang menggenang.
  • Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah maka pada 15 hari setelah tanam pindah sawah dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitten irrigation).
  • Bila padi ditanam dengan sebar langsung selama 21 hari setelah sebar sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian.
  • Bila diperlukan gunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponin. Aplikasi pestisida dilakukan di sawah yang tergenang, di caren, atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.

 

  1. 15.    BURUNG (BIRD)

Penyebab à Lonchura spp. Ploceus sp.

Burung (Gb. 44) menyerang tanaman padi pada fase matang susu sampai pemasakan biji (sebelum panen)

 

Gejala:

Serangan mengakibatkan biji hampa

Adanya gejala seperti beluk

Biji banyak yang hilang

Gb. 44. Burung

 

Pengendalian:

Penjaga burung mulai dari jam 06.00 -10.00 dan jam 14.00 – 18.00 karena waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang kritis

Gunakan jaring untuk mengisolasi sawah dari serangan burung luas sawah yang diisolasi kurang dari 0,25 hektar.

Bila tanam tabela:

ü Benih yang sudah disebar di sawah ditutup dengan tanah;

ü Benih yang digunakan harus lebih banyak

ü Gunakan orang-orangan atau tali yang diberi plastik untuk menakut-nakuti burung;

ü Pekerjakan penjaga burung

ü Tanam serentak dengan sekitarnya jangan menanam atau memanen di luar musim agar tidak dijadikan sebagai satu-satunya sumber makanan

Kendalikan habitat/sarang burung.

 

 

 

  1. B.  PENYAKIT

 

  1. 1.    PENYAKIT KARENA BAKTERI Xanthomonas
  2. a.    HAWAR DAUN BAKTERI (Bacterial Leaf Blight – BLB)

Penyebab (Bakteri) à Xanthomonas campestris pv. Oryzae

Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit terjadi pada musim hujan atau musim kemarau yang basah terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang dan dipupuk N tinggi (> 250 kg urea /ha)

Gejala ada 2:

1)   Kresek

Adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari (persemaian atau yang baru dipindah (Gb. 45). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh)

2)   Hawar

Merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan (Gb. 46).

Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu abu (kekuningan) umumnya pada tepi daun (Gb. 47). Dalam perkembangannya gejala akan meluas membentuk hawar (blight), dan akhirnya daun mengering. Dalam keadaan lembab (terutama dipagi hari), kelompok bakteri berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar (Gb. 48). Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit HDB.

Gb. 45.            Kresek yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari
Gb. 46. Gejala hawar pada pertanaman yang telah mencapai fase anakan sampai fase pemasakan.

Gb. 47

Bercak abu-abu kekuningan pada bagian tepi daun

Gb. 48

Butiran kuning keemasan yang merupakan massa bakteri mudah ditemukan pada daun yang menunjukkan gejala hawar.

 

Pengendalian:

Varietas tahan seperti Code dan Angke

Pemupukan lengkap (NPK dalam dosis yang tepat)

Pengaturan air (hindari penggenangan yang terus-menerus, mis. 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan)

  1. b.   BAKTERI DAUN BERGARIS (Bacterial Leaf Streak – BLS)

Penyebab (Bakteri) à Xanthomonas campestris pv. oryzicola

Penyakit ini biasanya terjadi hanya pada helaian daun saja. Bakteri memasuki

tanaman melalui kerusakan mekanik atau melalui terbukanya sel secara alami. Butir – butir embun yang mengandung bakteri akan muncul pada permukaan daun. Hujan dan angina membantu penyebaran penyakit ini. Penyakit umumnya terjadi pada fase anakan sampai stadia pematangan. Dalam keadaan parah kehilangan hasil dapat mencapai 30%.

 

Gejala:

Timbul bercak sempit berwarna hijau gelap yang lama kelamaan membesar berwarna kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun (Gb. 49)

Sejalan dengan berkembangnya penyakit bercak membesar berubah menjadi berwarna coklat (Gb. 50) dan berkembang menyamping melampaui pembuluh daun yang besar

Seluruh daun varietas yang rentan bisa berubah warna menjadi coklat dan mati

Pada keadaan ideal untuk infeksi seluruh pertanaman menjadi berwarna oranye kekuningan (Gb. 51).

Gb. 49

Gejala bercak kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun.

Gb. 50

Bercak lama-kelamaan membesar berwarna coklat.

Gb. 51

Akibat infeksi bakteri daun bergaris, seluruh pertanaman menjadi berwarna oranye kekuning –  kuningan

 

Pengendalian:

  • Buang atau hancurkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi/sakit
  • Pastikan jerami dari tanaman sakit sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam pindah
  • Gunakan benih atau bibit yang bebas dari penyakit bakteri daun bergaris
  • Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran
  • Atur jarak tanam tidak terlalu rapat
  • Berakan tanah sesudah panen

 

  1. 2.    PENYAKIT KARENA FUNGI
  2. a.    BLAS (BLAST)

Penyebab (Fungi)à Pyricularia grisea

Semula penyakit ini dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo

tetapi sejak akhir1980an penyakit ini juga sudah terdapat pada padi sawah beirigasi.

Penyakit ini mampu menurunkan hasil yang sangat besar

Gejala khas ada 2:

1)   Blas daun

Berupa bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih (Gb. 52).

2)   Blas leher

Berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah (Gb. 53).

 

Gb. 52

Gejala blas pada daun, bercak berbentuk belah ketupat.

Gb. 53

Blas leher

 

Pengendalian:

  • Kemampuan patogen membentuk strain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit.
  • Tanam varietas tahan secara bergantian untuk mengantisipasi perubahan ras blas yang sangat cepat
  • Pemupukan NPK yang tepat.
  • Penanaman dalam waktu yang tepat serta perlakuan benih
  • Fungisida yang berbahan aktif Metil tiofanat, Fosdifen, atau Kasugamisin.

 

  1. b.   HAWAR PELEPAH (SHEATH BLIGHT)

Penyebab (Fungi) à Rhizoctonia solani Kuhn (Thanatephorus cucumeris [FR] Donk)

Merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penyakit ini merusak

pelepah sehingga untuk menemukan dan mengenali penyakit perlu dibuka

kanopi pertanaman. Penyakit ini menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah,

makin awal terjadi kerebahan makin besar kehilangan yang diakibatkannya.

Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa.

Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan

sampai menjelang panen. Namun demikian penyakit ini juga dapat terjadi pada

tanaman muda (Gb. 54).

 

Gejala:

Awal berupa bercak oval/bulat berwarna putih pucat pada pelepah (Gb. 55)

Dalam keadaan yang menguntungkan (lembab) penyakit dapat mencapai daun bendera.

Patogen bertahan hidup dan menyebar dengan bantuan struktur lahan yang disebut sklerotium.

Gb. 54

Hawar pelepah terjada pada tanaman muda

Gb. 55

Gejala hawar pelepah daun yaitu bercak keabuabuan berbentuk oval memanjang/elips diantara permukaan air dan daun

Pengendalian:

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan karena pathogen bersifat poliphag (memiliki kisaran inang yang sangat luas).

Pemupukan tanaman dengan dosis 250 kg urea, 100 kg sp36, dan 100 kg kcl / ha dapat menekan perkembangan penyakit ini.

Atur pertanaman di lapang agar jangan terlalu rapat

Keringkan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum

Bajak yang dalam untuk mengubur sisa-sisa tanaman yang terinfeksi

Rotasi tanaman dengan kacang-kacangan untuk menurunkan serangan penyakit

Buang gulma dan tanaman yang sakit dari sawah

Fungisida yang berbahan aktif: Heksakonazol, Karbendazim, Tebukanazol, belerang, flutalonil, difenokonazol,  Propikonazol, Validamisin A.

  1. c.    BUSUK BATANG (STEM ROT)

Penyebab (Fungi):

Magnaporthe salvinii (Cattaneo) R.A. Krause & R.K. Webster (telemorph)

Helminthosporium sigmoideum var. irregular

Merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman tanpa sebelumnya terjadi hujan atau hujan dengan angin yang kencang.

 

Gejala:

Gejala awal berupa bercak berwarna kehitaman bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar (Gb. 56). Akhirnya cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah anakan mati dan akibatnya tanaman rebah (Gb. 57).

Stadia tanaman yang paling rentan adalah pada fase anakan sampai stadia matang susu.

Kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 80%.

Gb. 56

Bercak kehitam-hitaman pada sisi luar pelepah daun akibat infeksi busuk batang

Gb. 57

Gejala busuk batang pada anakan mengakibatkan tanaman rebah.

 

Pengendalian:

Pemupukan dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl / ha dapat menekan perkembangan penyakit.

Untuk mengurangi penyebaran lebih luas lagi keringkan tanaman sampai saat panen tiba

Tunggul-tunggul padi sesudah panen dibakar atau didekomposisi

Keringkan petakan dan biarkan tanah sampai retak sebelum diari lagi

Gunakan pemupukan berimbang pupuk nitrogen sesuai anjuran dan pemupukan K cenderung dapat menurunkan infeksi penyaki

Fungisida yang berbahan aktif Belerang atau Difenokonazol.

 

  1. d.   BUSUK PELEPAH (SHEATH ROT)

Penyebab (Fungi) :

Sarocladium oryzae (Sawada) Gums

Hawksworth

Infeksi terjadi pada pelepah daun paling atas yang menutupi malai muda pada akhir fase bunting

 

Gejala:

Awal adanya noda berbentuk bulat memanjang hingga tidak teratur dengan panjang 0,5 – 1,5 cm warna abu-abu di tengahnya dan coklat atau coklat abu-abu di pinggirnya

Bercak membesar sering bersambung dan bisa menutupi seluruh pelepah daun.

Infeksi berat menyebabkan malai hanya muncul sebagian (tidak berkembang) (Gb. 58) dan mengerut sehingga hanya dapat menghasilkan sedikit bulir yang berisi (Gb. 59). Stadia tanaman yang paling rentan adalah saat keluar malai sampai matang susu.

Gb. 58. Busuk pelepah menyebabkan malai muncul sebagian

Gb. 59. Malai yang terserang menghasilkan sedikit bulir yang berisi.

Pengendalian

Bakar tunggul segera sesudah panen untuk mengurangi inokulum.

Atur jarak tanam agar tidak terlalu rapat

Beri pupuk K pada fase anakan.

Fungisida pada daun hanya dilakukan bila diperlukan yaitu pada fase bunting

Perlakuan benih dengan fungisida yang berbahan aktif Karbendazim atau Mankozeb untuk mengurangi infeksi penyakit.

Fungisida yang berbahan aktif Benomil juga efektif menekan infeksi penyakit.

 

  1. e.    BERCAK COKLAT (BROWN SPOT)

Penyebab (Fungi) à Helmintosporium oryzae

Bercak coklat dapat menyebabkan kematian tanaman muda dan menurunkan kualitas gabah. Seperti penyakit bercak cercospora penyakit ini merusak sekali pada pertanaman padi di lahan dengan sistem drainase buruk atau lahan yang kahat unsur hara, terutama yang unsur kalium. Penyakit jarang sekali terjadi di lahan subur.

 

Gejala:

Bercak berwarna coklat berbentuk oval sampai bulat berukuran sebesar biji wijen pada permukaan daun (GB. 61) pada pelepah atau pada gabah.

Patogen penyakit bersifat terbawa benih (seed borne) sehingga dalam keadaan yang cocok penyakit dapat berkembang pada tanaman yang masih sangat muda.

Gb. 60

Gejala penyakit bercak Coklat

Gb. 61

Gejala bercak berwarna coklat berbentuk oval sampai bulat

 

Pengendalian:

Penyakit dapat dikendalikan secara efektif dengan varietas tahan dan melalui pemupukan dengan 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl.

 

  1. f.     BERCAK CERCOSPORA (NARROW BROWN LEAF SPOT)

Penyebab (Fungi) : à Cercospora oryzae

Penyakit ini menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman di lahan yang kurang subur.

 

Gejala:

  • Penyakit menghasilkan gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera, pada fase tumbuh – pemasakan (Gb. 62)
  • Juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah.

 

Gb. 62.

Gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera

 

Pengendalian:

  • Penyakit dikendalikan dengan pemupukan berimbang yang lengkap dengan dosis 250 kg urea,100 kg SP36 dan 100 kg KCl / ha.

 

  1. g.    HAWAR DAUN JINGGA (RED STRIPE)

Merupakan penyakit padi yang relatif  baru yang pertama kali ditemukan di Subang,

Jawa Barat tahun 1987. Penyakit ini umumnya terjadi pada daun dilahan sawah dengan kondisi Drainase buruk, dan pada tanaman yang telah mencapai fase tumbuh generatif. HDJ berkorelas negatif dengan tinggi tempat karena semakin tinggi tempat penyakit semakin ringan. Penyakit ini menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Sampai saat ini penyebab penyakit belum diidentifikasi secara pasti.

 

Penyebab à Belum diketahui

 

Gejala:

Penyakit diawali dengan titik kecil berwarna jingga (oranye) (Gb. 63) dihelaian daun.

Dari titik tersebut terbentuk garis lurus (stripe) berwarna jingga ke arah ujung daun.

Garis ini tidak pernah ke arah pangkal daun (Gb. 64).

Dalam perkembangannya gejala ini menjadi hawar (blight) mirip dengan gejala yang disebabkan oleh hawar daun bakteri (Gb. 65).

 

Gb. 63

Gejala awal hawar daun jingga berupa bercak hijau kuning terang yang berkembang menuju ujung daun

Gb. 64

Gejala berupa bercak berwarna hijau kuning terang pada stadia mulai berbungq

Gb. 65

Bercak yang bersatu menyerupai gejala hawar daun bakteri

 

Pengendalian:

Hawar daun jingga dikendalikan secara kultur teknis.

Pemberian pupuk dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl / ha dapat menekan perkembangan penyakit

Penyakit juga dapat ditekan dengan mengeringkan lahan dan membuka kanopi pertanaman untuk mengurangi kelembaban dan memperbaiki sirkulasi udara dalam kanopi

 

  1. 3.    PENYAKIT KARENA VIRUS
  2. a.    TUNGRO  (TUNGRO)

Penyebab (Virus) à Virus tungro

Tungro (Gb. 66) merupakan salah satu penyakit penting pada padi sangat merusak dan tersebar luas. Di Indonesia, semula penyakit ini hanya terbatas di Sulawesi Selatan, tetapi sejak awal tahun 1980an menyebar ke Bali, Jawa Timur, dan sekarang sudah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Bergantung pada saat tanaman terinfeksi.  Tungro dapat menyebabkan kehilangan hasil 5-70%. Makin awal tanaman terinfeksi tungro makin besar kehilangan hasil yang ditimbulkannya.

 

Gejala:

Yang menonjol adalah perubahan warna daun (Gb. 67) dan tanaman tumbuh kerdil. Warna daun tanaman sakit bervariasi dari sedikit menguning sampai jingga.

Tingkat kekerdilan tanaman juga bervariasi dari sedikit kerdil sampai sangat kerdil.

Gejala khas ini ditentukan oleh tingkat ketahanan varietas, kondisi lingkungan, dan fase tumbuh saat tanaman terinfeksi.

Gb. 66.

Tanaman yang terinfeksi tungro tumbuh kerdil.

Gb. 67

Daun mengalami perubahan warna menjadi kuning dimulai dari ujung daun-daun tua.

 

Pengendalian:

Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau dan dapat dikendalikan melalui pergiliran varietas tahan

Beberapa varietas tahan tugro antara lain: Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo

Pengaturan waktu tanam

Mengatur waktu tanam serempak minimal 20 ha luasan sawah

Sanitasi dengan menghilangkan sumber tanaman sakit

Penekanan populasi wereng hijau dengan insektisida

 

  1. b.   KERDIL RUMPUT (GRASSY STUNT)

Penyebab (Virus) :

Virus yang ditularkan oleh wereng coklat, dan tanaman inangnya hanya padi

 

Gejala:

Tanaman yang terinfeksi berat akan menjadi kerdil dengan anakan yang berlebihan sehingga tampak seperti rumput (Gambar 68).

Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek, kaku, berwarna hijau pucat sampai hijau dan kadang-kadang terdapat bercak karat (Gambar 69)

Tanaman yang terinfeksi biasanya dapat hidup sampai fase pemasakan tetapi tidak memproduksi malai.

Stadia pertumbuhan tanaman yang paling rentan adalah pada saat tanam pindah sampai bunting.

Gb. 68. Tanaman terinfeksi virus kerdil rumput.
Gb. 68. Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek dan kaku berwarna hijau pucat.

 

Cara pengendalian:

Pengendalian dilakukan terhadap vektornya yaitu wereng coklat Nilaparvata lugens

 

  1. c.    KERDIL HAMPA (RAGGED STUNT)

Penyebab (Virus) :

Virus yang ditularkan oleh wereng coklat.

 

Gejala:

Malformasi pada daun seperti daun bergerigi (ragged) dan melintir (twisting) (Gambar70 dan 71).

Daun tanaman sakit berwarna hijau tua.

Malai dari tanaman yang sakit hanya keluar sebagian dan gabah yang dihasilkan hampa.

 

Gb. 70

Gejala awal adalah daun bergerigi pada fase awal tanaman muda.

Gb. 71

Gejala pada daun bendera pada fase bunting dicirikan oleh daun melintir, berubah bentuk, dan memendek.

 

Pengendalian:

Penyakit dikendalikan melalui pengendalian wereng coklat antara lain dengan penanaman varietas tahan.

  1. C.  HARA

 

  1. 1.        KAHAT NITROGEN (NITROGEN DEFICIENCY)

Gejala:

  • Pertumbuhan kerdil dan menguning
  • Daun lebih kecil dibandingkan daun tanaman sehat (Gb. 72)
  • Pada tanaman muda adalah seluruh tanaman menguning (Gb. 73)
  • Pada tanaman tua gejalanya terlihat nyata pada daun bagian bawah (tua) yang berwarna hijau kekuningan hingga kuning.
  • Anakan yang dihasilkan berkurang dan terlambat berbunga tetapi proses pemasakan lebih cepat sehingga kebernasan berkurang.
  • Gabah dari malai yang dihasilkan juga berkurang.

 

Gb. 72

Daun tanaman yang kahat nitrogen lebih kecil dibandingkan daun tanaman sehat.

Gb. 73

Gejala umum pada tanaman muda yang kahat nitrogen adalah seluruh tanaman menguning (tengah)

 

  1. 2.        KAHAT FOSFOR (PHOSPHORUS DEFICIENCY)

Secara umum P telah diidentifikasi sebagai unsur hara yang penting bagi kesehata

akar tanaman dan menambah ketahanan tanaman thd keracunan besi.

 

Gejala:

  • Pertumbuhan akar tanaman lambat, tanaman kerdil, daun berwarna hijau gelap dan tegak (Gb. 74), lama-kelamaan daun berwarna keunguan
  • Anakan sedikit (Gb. 75) waktu pembungaan terlambat atau tidak rata
  • Umur tanaman/panen lebih panjang dan gabah yang terbentuk berkurang.

 

Gb. 74

Tanaman yang kahat hara P tumbuh kerdil dan daun menjadi berwarna hijau gelap dan tegak lurus (kiri).

Gb. 75

Tanaman yang kahat hara P (sebelah kanan) menghasilkan sedikit anakan.

  1. 3.        KAHAT KALIUM (POTASSIUM DEFICIENCY)

Gejala:

Sebagian akarnya membusuk tanaman kerdil (Gb.76)

Daun layu/terkulai pinggiran dan ujung daun tua seperti terbakar (daun berubah warna menjadi kekuningan/orange sampai kecoklatan yang dimulai dari ujung daun terus menjalar ke pangkal daun (Gb. 77),

Anakan berkurang ukuran dan berat gabah berkurang.

Rentan serangan hama dan penyakit serta keracunan besi.

 

Gb.76

Tanaman yang kahat hara K tumbuh kerdil.

Gb.77

Gejala pada ujung daun tua seperti terbakar berubah warna menjadi kuning sampai kecoklatan

 

  1. 4.        KAHAT BELERANG (SULFUR DEFICIENCY)

Unsur hara S sebenarnya banyak hilang akibat pembakaran sisa-sisa tanaman. Oleh

karena itu jerami sebaiknya dikembalikan ke sawah. Umumnya terjadi pada tanah yang

kandungan bahan organiknya rendah, tanah reduktif dan atau pH tinggi

 

Gejala:

  • Khlorosis pada daun-daun muda (Gb. 78) diikuti dengan menguningnya daun tua dan seluruh tanaman
  • Pertumbuhan kerdil
  • Jumlah anakan berkurang
  • Malai berkurang (Gb. 79)

 

Gb. 78

Gejala khlorosis pada daun muda akibat kekurangan belerang (S).

Gb. 79

Pertumbuhan tanaman kahat S (kiri) terlihat kerdil jumlah anakan sedikit dan malai berkurang.

 

Penanganan:

  • Pemakaian 50-100 kg ZA / ha selang satu musim pertanaman sudah memadai untuk hasil tinggi (7-9 t/ha)

 

  1. 5.        KAHAT SENG (ZINC DEFICIENCY)

Gejala:

Daun hilang ketegarannya dan cenderung mengapung di atas air

Setengah dari tajuk bagian bawah daunnya berwarna hijau pucat 2-4 hari setelah digenangi kemudian khlorotik (Gb. 80) dan mulai mongering setelah 3-7 hari digenangi

Gejala khlorosis yang terberat umumnya terjadi pada saat air menggenang dalam.

Gejala mirip dengan “asem-aseman” oleh sebagian petani.

 

Gb. 80. Gejala khlorotik pada daun tanaman padi yang kahat Zn.

 

Penanganan:

Tanaman akan segera sembuh setelah sawah dikeringkan.

Jika ringan cukup diberikan 5 kg Zn/ha (ZnSO4)

Jika berat diberikan 20 kg Zn/ha (ZnSO4)

 

  1. 6.        KERACUNAN BESI (IRON TOXICITY)

Gejala:

Tanaman terlihat dari bercak-bercak kecil berwarna coklat pada daun-daun bawah

Bercak-bercak kecil tersebut berkembang dari pinggir daun kemudian menyebar ke pangkal (Gb. 81) dan berubah warna menjadi coklat, ungu, kuning atau oranye, lalu mati (Gb. 82).

Pertumbuhan dan pembentukan anakan terhambat sistem perakarannya jarang atau sedikit kasar dan berwarna coklat gelap atau membusuk.

 

Penanganan:

Gunakan varietas toleran seperti Banyuasin, Mendawak, dan Lambur dan atau pakai pupuk K secukupnya

Lakukan pengairan berselang (intermitten) dan tambahkan bahan organik

 

Gb. 81. Gejala keracunan besi berupa noda kecil berwarna coklat pada daun. Gb. 82. Gejala terlihat pertama kali pada daun tua

PEMUPUKAN PADI SAWAH

BERDASARKAN TINGKAT HASIL PANEN

 

Petunjuk berikut ini berlaku untuk padi sawah tanam pindah dengan target hasil panen 5, 6, 7 atau 8 t/ha GKG*

 

Gunakan pupuk N, P, K, dan S (bila diperlukan) pada stadia atau kisaran umur berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PESTISIDA

BERDASARKAN BAHAN AKTIF DAN NAMA DAGANG

NAMA DAGANG

NAMA BAHAN AKTIF

NO

Mitac

Bive As

Kumulus

Benlate

Bancol

Panzer, Spontan

Bassa, Kiltop, Baycarb

Klerat, Phyton

Petrolone

Applaud

Score

Dipho

Trebon

Regent

Storm

Monkat

Kasumiron

Anvil

Confidor

Bavistin

Curater, Dharmafur, Furadan

Marshal

Racumin

Dithane

Topsin

Rexal

Mipcin, Mikarb, Dharmacin

Bayluside

Tilt

Poksindo

Mesophide, Murata

Folicur

Actara

Validacin

Amitraz

Beauveria bassiana

Belerang

Benomil

Bensultap

Bisultap

BPMC

Brodifakum

Bromadiolon

Buprofezin

Difenokonazol

Dimehipo

Etofenproks

Fipronil

Flokumafen

Flutalonil

Fosdifen & kasugamisin

Heksakonazol

Imidakloprid

Karbendazim

Karbofuran

Karbosulfan

Kumatetralil

Mankozeb

Metil tiofanat

Metolkarb

Mipc

Niclos amida

Propikonazol

Propoksur

Seng fosfida

Tebukanazol

Tiametoksam

Validamisin A

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VARIETAS UNGGUL PADI YANG PALING LUAS DITANAM

DI INDONESIA SERTA KETAHANANNYA TERHADAP

HAMA DAN PENYAKIT 2005

NO

VARIETAS

LUAS TANAM/HA

TAHAN TERHADAP HAMA/PENYAKIT

1

IR 64

(1986 – 8 t/ha)

3.622.622

(31,4%)

WCk 1,2 dan kerdil rumput

2

Ciherang

(2000 – 8 t/ha)

2.517.140

(21,8%)

WCk 2,3 dan HDB strain III dan IV

3

Ciliwung

(1988 – 8 t/ha)

915.914

(8,0%)

WCk 1,2

4

Way Apo Buru

(1998—8 t/ha)

380.646

(3,3%)

WCk 2,3 dan HDB strain III dan IV

5

IR 42

(1980—7 t/ha)

281.764

(2,4%)

WCk 1,2; HDB; tungro dan kerdil rumput

6

Widas

(1999—8 t/ha)

204.007

(1,8%)

WCk 1,2,3 dan HDB strain III

7

Memberamo

(1995—8 t/ha)

189.211

(1,6%)

WCk 1,2,3; HDB strain III; tungro

8

Cisadane

( 1980—8 t/ha)

185.258

(1,6%)

WCk 1,2 dan HDB

9

IR 66

(1989—7 t/ha)

129.758

(1,1%)

WCk 1,2,3; wereng hijau, tungro, HDB

10

Cisokan

(1985—8 t/ha)

125.388

(1,1%)

WCk 1,2

11

Cibogo

(2003—8 t/ha)

121.900

(1,1%)

WCk 2

Keterangan:

Angka dalam kurung dalam kolom varietas adalah tahun dilepas dan potensi hasil

Angka dalam kurung dalam kolom luas tanam adalah persentase dari total luas tanam

Keterangan hama dan penyakit:

WCk 1,2,3       = Wereng Coklat Biotipe 1, 2, 3

HDB               = Hawar Daun Bakteri

 

Sumber:

Diolah dari Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan (2005).

Buku Penyebaran Varietas Padi MK 2004 dan MH 2004/2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAPATKAN SEGERA CD-ROM

BANK INFORMASI TEKNOLOGI PADI (BITP)

 

 

  • Memuat berbagai informasi teknologi budi daya padi yang secara berkala dimutakhirkan (update) mulai dari varietas unggul, pemupukan, hama/penyakit sampai pascapanen.
  • Bermanfaat bagi penyuluh, peneliti, petugas lapang, teknisi, dan petani.

Informasi lebih lanjut hubungi:

ü Balai Pengkajian Teknologi Pertanian atau Dinas Pertanian setempat atau langsung ke Puslitbang Pertanian Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor 16111. Telp.0251-334089. Fax.0251-312755. Email: crifc1@indo.net.id

ü Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya No. 9 Sukamandi Telp.0260-520157. Fax.0260-520158. Email: balitpa@telkom.net

ü Kantor Perwakilan IRRI. Jalan Merdeka 147 Bogor.Telp.0251-334391. Fax.0251-314354. Email: irribogor@cbn.net.id

 

 

 

 

MILIKI SEGERA !!!

INFORMASI PENTING BAGI PEMBUAT

KEBIJAKAN, PENELITI, PENYULUH, DAN TEKNISI LAPANG

 

 

  • Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu
  • Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi
  • Tanya Jawab Pengelolaan Tanaman Terpadu
  • Deskripsi varietas padi
  • Penelitian Padi Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Beras Nasional
  • Hubungi: Puslitbang Pertanian Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor 16111. Telp.0251-334089. Fax.0251-312755. Email: crifc1@indo.net.id
  • Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya No. 9 Sukamandi. Telp.0260-520157. Fax.0260-520158. Email: balitpa@telkom.net
  • Kantor Perwakilan International Rice Research Institute Jalan Merdeka 147 Bogor. Telp.0251-334391. Fax.0251-314354. Email: irribogor@cbn.net.id

 

About these ads

About Fajar Rizky Hogantara

I am the BIg Family of SH Terate

Posted on April 5, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: