Monthly Archives: April 2013

Produk Gerbang Pertanian


PRODUK GERBANG PERTANIAN

 

NO

NAMA PRODUK

KEMASAN

HARGA (RP)

MINIMAL ORDER

KETERANGAN PRODUK

1

AlatUjiKesuburan Tanah

1  set

70.000

1 set

Klikdisini

2

GA3 Tablet

5 gram

16.000

5 tablet

Klikdisini

3

BenihPadiUnggul B3

5 kg

75.000

1 pack

Klikdisini

4

Corine Bacterium

600 ml

12.500

4 botol

Klikdisini

5

PGPR

600 ml

10.000

4 botol

Klikdisini

6

NF.HAHA

100 gr

28.000

2 pack

Klikdisini

7

NF.Durian

50 ml

160.000

1 botol

Klikdisini

8

ZptOrganik

500 gr

40.000

1 pack

Klikdisini

9

Solbii Agro

30 ml

90.000

1 botol

Klikdisini

10

Providor 30 wp

100 gr

30.000

2 pack

Klikdisini

 

-       Untukmengetahuicarapengirimanprodukdanongkoskirimnyasilahkanklik menu  PENGIRIMAN

-       UntukmelakukanpembeliansilahkanlihatdulutatacarapembelianprodukGerbangPertanianpada menu BELANJA

 

 

 

CARA SEDERHANA MEMBUAT PEREKAT PESTISIDA


MEMBUAT PEREKAT

Salam Pertanian !! Sebelum maspary membahas tentang cara mudah membuat perekat pestisida, sebaiknya rekan-rekan  Gerbang Pertanian mengetahui dulu apa sebenarnya fungsi penambahan perekat pestisida pada larutan pestisida atau pupuk daun yang akan kita aplikasikan ke tanaman. Sebenarnya beberapa waktu lalu hal tersebut telah maspary tulis di blog Gerbang Pertanian, tetapi nggak ada salahnya kalau kita ulas lagi.

Secara umum fungsi dari perekat pestisida adalah untuk membantu menyebarkan, menempelkan dan meratakan larutan pestisida yang kita aplikasi pada tanaman. Tetapi fungsi dari perekat secara lebih rinci atau spesifik dapat dilihat dibawah ini :

Fungsi perekat pestisida yang utama menurut maspary adalah:

  1. Untuk meningkatkan kinerja pestisida ataupun pupuk daun pada tanaman yang memiliki daun berbulu seperti tanaman padi dan jagung. Adanya bulu-bulu yang terdapat pada daun akan menghalangi menempelnya butir-butir larutan pestisida pada permukaan daun. Tentu hal tersebut akan menghambat penyerapan pestisida sistemik dan pupuk daun. Demikian juga dalam aplikasi herbisida, pemberian perekat juga sangat membantu menempelkan herbisida tersebut pada rumput sehingga akan meningkatkan kinerja herbisida tersebut.
  2. Untuk meningkatkan kinerja pestisida ataupun pupuk daun yang kita semprotkan pada tanaman yang memiliki daun berlilin seperti daun talas dan daun pisang. Daun-daun yang memiliki lapisan lilin akan sangat sulit diaplikasi pestisida karena air tidak mau menempel dan larutan langsung menggelinding jatuh. Hal tersebut juga terjadi pada saat kita aplikasi pestisida pada hama yang pada kulitnya dilapisi lilin.
  3. Untuk meningkatkan kinerja pestisida pada hama yang dilapisi lilin dan hama berbulu seperti kutu kebul dan ulat bulu. Secara alamiah memang setiap mahkluk hidup diberi oleh Allah perlindungan diri dari ancaman alam. Lapisan lilin dan bulu pada hama sebenarnya adalah alat perlindungan alami dari serangan musuh. Tapi hal tersebut pula yang kadang kala membuat kita kelabakan karena hama tersebut tidak mempan pestisida. Inilah fungsi yang disebut sebagai penembus oleh para penjual pestisida.
  4. Untuk meningkatkan kinerja pestisida pada hama yang mempunyai pelindung keras seperti kepik dan belalang besar dan golongan lembing. Jika pada penyemprotan kita menggunakan perekat tentu pestisida akan lebih lama menempel pada  daun. Hal ini akan membantu penetrasi pestisida melalui abdomem atau perut serangga yang biasanya lebih lemah daripada punggung. Dengan pestisida menempel pada daun akan lebih meningkatkan efikasi jika diaplikasi bersamaan dengan pestisida racun lambung karena akan mudah termakan bersama daun.
  5. Untuk meningkatkan kinerja pestisida dan pupuk daun ketika hari akan hujan. Pestisida dan pupuk daun yang diaplikasi kemudian selang 1 – 2 jam turun hujan pastinya akan sia-sia karena pestisida dan pupuk daun tersebut akan tercuci oleh air hujan. Dengan perekat pestisida dan pupuk daun tersebut akan cepat terserap oleh daun sehingga walaupun setelah itu hujan akan tetap berfungsi. Dan larutan yang sudah menempel ke daun tentunya akan lebih sulit tercuci oleh air hujan.
  6. Untuk meningkatkan kinerja pestisida dan pupuk daun ketika hari panas. Seringkali kita mengaplikasi pestisida disaat siang hari diatas jam 10 sehingga matahari sudah terik dan angin sudah kencang. Hal tersebut akan mempercepat penguapan larutan pestisida yang kita aplikasi pada tanaman.  Dengan perekat pestisida ketika kita mengaplikasi pupuk daun dan pestisida sistemik akan lebih cepat terserap oleh daun sebelum larutan tersebut kering.
  7. Untuk meningkatkan emulsi (kelarutan/ pencampuran) pada larutan pestisida yang akan kita aplikasikan pada tanaman. Dengan penambahan perekat pada larutan pestisida atau pupuk daun akan membantu meningkatkan homogenitas larutan tersebut, sehingga akan menghambat pengendapan larutan pestisida dalam tangki sprayer atau dalam drum pengoplosan.

Setelah kita ketahui manfaat dari perekat pestisida tersebut tentunya kita sadari betapa pentingnya penambahan perekat pada larutan Insektisida, Fungisida, Bakterisida, Herbisida atau pupuk daun yang akan kita aplikasi. Kendalanya adalah tidak di semua daerah pertanian ada yang jual perekat pestisida selain itu kita juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli perekat tersebut.  Kendala lainnya adalah tidak sedikit para produsen pestisida yang membandrol perekat mereka dengan harga yang tidak murah.

Oleh karena itu maspary di blog Gerbang Pertanian  ini akan membagikan tips sederhana cara mudah membuat perekat pestisida.

Bahan utama pembuatan perekat pestisida :

  1. 1 Kg bahan Aktif (bahan utama) bisa kita beli di toko kimia dengan harga yang murah.
  2. 10 Liter bahan pencampur bisa kita dapatkan dengan mudah dan gatis disekitar rumah kita
  3. 1 Kg bahan penguat bisa kita beli di warung kelontong/ sayuran dengan harga yang sangat murah.

 

Cara Membuat Perekat Pestisida:

  1. Campurkan 1 Kg bahan aktif dengan 10 liter bahan pencampur hingga benar-benar larut. Proses pencampuran ini butuh pengadukan secara kontinyu selama kurang lebih 1 jam. Tanda-tanda pencampuran berhasil adalah sudah tidak ada gumpalan dalam campuran tersebut, semua telah menjadi larutan bening yang agak kental (seperti minyak goreng).
  2. Setelah tercampur merata lalu masukkan 1 Kg bahan penguat  pada larutan tersebut.
  3. Aduk-aduk terus larutan tersebut sampai benar-benar rata. Dalam pencampuran kali ini butuh waktu sekitar 1 jam untuk benar-benar homogen. Jika larutan tersebut sudah tercampur sempurna akan membentuk larutan kental berwarna putih.
  4. Diamkan selama 24 jam (satu hari satu malam) agar perekat tersebut siap digunakan. Setelah didiamkan selama 24 jam larutan kental yang berwarna putih akan berubah menjadi larutan kental yang bening.
  5. Perekat tersebut siap diaplikasi dengan konsentrasi 0,75 ml/ liter – 1,25 ml/ liter. Pengalaman dari maspary dengan konsentrasi tersebut biasanya sudah mampu melekatkan larutan pestisida pada daun talas. Kalau di daun talas sudah bisa menempel berarti pada daun yang lain akan lebih mudah menempelnya.
Daun talas yang disemprot tanpa perekat, airnya menggelinding tidak bisa menempel sama sekali Daun talas yang disemprot memakai perekat, terlihat mengkilap dan basah

Maaf,……  maspary belum sempat menuliskan nama masing-masing bahannya ya ?

Jadi begini,

Maspary saat ini sedang membutuhkan donatur untuk mensuport Gerbang Pertanian, jika anda bersedia menjadi donatur maka kami  akan meng SMS kan nama ketiga bahan perekat pestisida tersebut ke HP anda. Biasanya maspary memberikan segala informasi tentang pertanian secara cuma-cuma alias gratis, bahkan SMS pun kami balas walau terkadang agak lama. Tetapi mohon maaf yang sebesar-besarnya kali ini maspary tidak bisa memberikan nama masing-masing bahan tersebut secara gratis. Jika anda mengetahui bahan-bahan perekat pestisida tersebut, maka anda dengan mudah akan bisa membuat perekat pestisida dengan harga yang sangat murah. Menghemat biaya usaha tani anda selamanya.Bahkan kalau anda mempunyai jiwa bisnis anda juga bisa menjual lagi perekat hasil karya anda tersebut dengan harga murah ke teman-teman petani.

Cara Menjadi Donatur/ Mendapatkan Nama Bahan Perekat Pestisida :

  1. Silahkan transfer pulsa ke HP maspary (0812 2630 297) nggak usah banyak-banyak minimal Rp.20.000 aja, tetapi kalau rekan-rekan merasa ilmu tersebut sangat penting  (mahal harganya) dan sekalian ingin beramal dan memutuskan untuk transfer pulsa Rp50.000 atau  Rp.100.000 maspary mengucapkan banyak terimakasih. Pulsa tersebut akan maspary gunakan untuk membalas ratusan SMS  pertanyaan dari rekan-rekan Gerbang Pertanian dan maspary gunakan untuk koneksi internet dalam mengelola Gerbang Pertanian.
  2. Setelah itu konfirmasi via SMS ke nomor maspary tersebut (0812 2630 297) bahwa anda telah transfer pulsa sejumlah ……… untuk mendapatkan informasi nama bahan-bahan dalam pembuatan perekat pestisida. Contoh : Maspary tolong kasih informasi bahan pembuat perekat pestisida, saya telah transfer pulsa Rp.50.000.
  3. Setelah pulsa masuk dan anda memberi konfirmasi, maka maspary sesegera mungkin akan mengirimkan nama ke 3 bahan perekat pestisida tersebut melalui SMS.

Bagi rekan-rekan Gerbang Pertanian yang merasa malas untuk membuat perekat pestisida tersebut maspary juga menyediakan perekat yang siap pakai dengan harga yang murah  Rp.10.000/ 600 ml.

Jika minat silahkan SMS ke 0812 2630 297, minimal pembelian 4 botol.

Ingin beli curah/ mau dijual lagi juga bisa cuma 10.000/ liter.

Minimal pembelian 25 liter

AGERATUM sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik


AGERATUM

sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik

Bila kita perhatikan dengan teliti tanaman Ageratum seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy di mana Ageratum mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman liar lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 – 922), 2004; penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% gulma pada tanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi.

Selain itu penggunaan daun Ageratum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi sampai 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani.

Apabila diperhatikan dengan teliti lebih dari 30% tanaman Ageratum menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus (Gambar 1). Sejak kapan Ageratum terserang virus, tak ada catatan sejarah yang pasti. Namun gejala virus tersebut dalam berbagai tulisan telah ditemukan sejak lama dan diduga sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas, cabai, tomat, jarak pagar, dan lain-lain. Pada tahun 1995, Tan dkk berhasil mengidentifikasi virus dari Ageratum di Singapura sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviridae, dan dinamakan Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516).

Meluasnya serangan geminivirus khususnya dari spesies Begomovirus pada beberapa tanaman yang dibudidayakan juga memerlukan perhatian untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk Ageratum yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa spesies Begomovirus telah teridentifikasi dari Ageratum di Cina (Ageratum yellow vein China virus-[Hn2]; AYVCNV-[Hn2], AJ495813), Taiwan Ageratum yellow vein Taiwan virus; AYVTWV, AF30786), dan Sri Lanka Ageratum yellow vein Sri Lanka virus; AYVSLV, AF314144).

Di Indonesia keberadaan virus pada Ageratum sudah diketahui sejak lama, namun keberadaan tentang jenis virus tersebut masih kurang diperhatikan. Hasil identifikasi Gemini virus pada Ageratum asal Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Malang telah terdaftar di Gene Bank (http://www.ddbj.nig.ac.jp/Wel come-e.html)(AgPur-2, AB189851; AgBadI-1, AB189852; AgMal-4, AB18953; AgMag-2, AB189854; AgBadII-2, AB189913).

Penelitian geminivirus pada tanaman tomat asal Indonesia yang dilakukan oleh peneliti dari universitas Tohoku Jepang yang dipimpin oleh Prof. Ikegami Masato ternyata spesies geminivirus yang sama pada Ageratum ditemukan juga pada tanaman tomat (Journal of Phytopathology 2005, 153 : 562 – 566. Lebih lanjut Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang berasal dari tanaman cabai juga ditemukan pada tanaman Ageratum (Plant Disease. Volume 91 No. 9. 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman Ageratum yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan geminivirus.

Melihat manfaatnya yang begitu banyak akan tanaman Ageratum tidak ada salahnya jika tanaman ini dilestarikan agar tak punah bahkan mungkin membudidayakannya. Namun apabila tanaman ini menunjukkan gejala daun lurik menguning kemungkinan akan menjadi sumber virus yang akan menyerang tanaman yang diusahakan.

(Sumber; Sukamto , Warta Puslitbangbun Vol.13 No.3,Desember 2007).

Ada 3 resep yang sudah disajikan yaitu Gus Bensol 11, Alur G 12 dan Hervit Top 13. Nama-nama itu dibuat oleh penulis agar mudah diingat, karena susunan hurufnya adalah singkatan dari unsur – unsur bahan pembuatan racun rumput hasil rekayasa petaninya. Gus Bensol 11, disebut demikian karena bahan untuk meramu racun rumput ini terdiridari : G (garam, U (Urea), S (Sabun Colek), Ben (Bensin) dan Sol (Solar). Kemudian angka 11, artinya semua bahan dengan
perbandingan 1 (Kg) : 1 (Kg) : 1 (Wadah) : 1 (Liter) : 1 (Liter).
Racun rumput yang bersifat kontak ini dibuat petani jika sudah kepepet karena tidak punya uang cukup untuk membeli herbisida atau pada saat stok herbisida kosong tetapi rumput sudah tiba saatnya harus dibasmi. Penulis mendapatkan resep ini dari Pak Mo di Jalan Sungai Lemo Sedadap Nunukan Selatan. Alur G 12, terbuat dari Al (Air Laut) 12 liter, Ur (Urea) 2 kg dan
G (salah satu nama Herbisida kontak) sebanyak 1 liter. Semua bahan dicampur dan kemudian dimasak hingga mendidih. Resep ini sebenarnya untuk menghemat herbisida yang harganya sangat mahal, untuk diperbanyak dari liter menjadi 12 liter agar biaya dalam pembasmian rumput ini menjadi murah bagi petaninya. Sebenarnya resep ini diperoleh dan dipraktekkan oleh PakMustafa, petani Jagung di Sei Jepun Nunukan Selatan, pada saat bekerja di kebun Kelapa Sawit di Lahat Dato Sabah Malaysia. Sepulangnya dari ‘makan gaji’ di Malaysia Pak Mustafa selalu mempraktekkannya untuk lahan Jagungnya di Sei Jepun seluas sekitar 4 hektar. Hervit Top 13, berbahan Her (herbisida) 1 liter, Vit (Vitsin) 250 gram atau satu kantong dan Top (Toak Pahit) sebanyak 3 liter. Semua bahan dicampur dan bisa digunakan langsungsebagaimana biasanya. Resep ini dicatat dari temuan Pak Asri Aziz seorang PPL Sebatik Barat dari beberapa petani binaannya yang sudah terbiasa digunakan petani. Menurut petani sebenarnya dulu resepnya hanya menggunakan Vitsin dan Toak Pahit saja, namun kemudian petani ingin lebih menguatkan efeknya dengan menambahkan herbisida. Pada saat penulis mengikuti Pekan Daerah KTNA di KotaTenggarong, sempat bertemu beberapa petani dari Bengalon Kutai Timur Kalimantan Timur, yaitu Pak Saifuddin, Pak Gioto dan Pak Ismail. Dari Bengalon Kutai Timur ini sudah biasa menggunakan resep untuk memperbanyak racun rumput, khususnya yang bersifat sistemik (yaitu R..). Resep dari Bengalon ini berbahan Ragi, Urea, Air Hujan dan Herbisida dengan
perbandingan Ragi Tape (1 kantong), Urea (1 kg), Herbisida (R) 1 liter dan Air Hujan sampai dengan 5 liter. Semua bahan dicampur dan diaduk sampai
merata kemudian diperam dalam wadah yang kedap sinar dan disimpan selama 1 minggu. Racun rumput ini agar mudah mengingat bahan pembuatnya maka disebut sebagai Heragur AH5, maksudnya Her (herbisida), Rag (Ragi Tape), Ur (Urea) dan AH (Air Hujan) serta 5 maksudnya menjadi 5 liter. Hikmah berkumpul dengan petani peserta Peda dan Rembug KTNA yang lain lagi adalah pengalaman petani dari Sebatik, yaitu Pak H. Alimuddin Ketua Kelompok Tani Sinar 2000. Adaresep racun rumput yang berbahan Air Fermentasi Kakao atau sering disebut Air Kakao, Sabun Colek, Urea dan Herbisida kontak (seperti G..). Cara dan resepnya yaitu, memasak air biasa yang dicampur sabun colek (setengah kg) sambil terus diaduk sampai rata atau larut dan mendidih. Setelah itu dicampurkan bahan-bahan lain seperi Urea ( 1 kg), Herbisida (5 liter) dan Air Kakao (15 liter) dan diaduk hingga merata. Penggunaan racun rumput oplosan ini adalah sebanyak 200 ml untuk satu tangki Sprayer 16 literan. Biasa digunakan sebagai racun rumput kontak untuk sawah. Kelemahan racun rumput ini adalah jika digunakan dengan Sprayer berbahan logam akan mudah korosi atau berkarat. Agar memudahkan mengingat maka penulis member nama resep ini dengan Arkosur H 515, maksudnya Arko (Air Kakao), S (Sabun Colek), Ur (Urea), H (Herbisida) dan 515 (5 liter herbisida dibandingkan 15
liter air kakao).Resep-resep ini adalah karya dari petani yang cukup kreatif untuk mengatasi keterbatasannya tetapi terus berusaha tani dengan biaya yang lebih hemat . Ini adalah bukti dari kearifan local para petani menghadapi keadaan semakin mahal dan langkanya racun rumput di pasaran. Harapannya agar resep-resep ini dapat menjadi referensi bagi petani yang lain. Meskipun ini
bukan anjuran teknologi yang paten dan diakui oleh Pemerintah, tetapi silakan saja dicoba untuk kalangan petani sendiri dan kalau perlu dikembangkan dengan resep- resep yang lainnya.

CARA SEDERHANA MEMBUAT FUNGISIDA ORGANIK


CARA SEDERHANA MEMBUAT FUNGISIDA ORGANIK

 

Fungsida organik ini lebih bersifat mencegah bukan mengobati karena fungisida organik tersebut cenderung bersifat kontak cara kerjanya. Namun dari berbagai pengalaman petani fungisida organik tersebut lumayan ampuh untuk mengendalikan penyakit pada berbagai tanaman seperti padi, cabai, tomat, terong dan sayuran lainnya.

 

Nggak usah panjang lebar langsung saja kita praktek membuatnya:

Alat dan bahan fungisida organik:

  1. Blender bumbu, atau lumpang atau alat penghalus lainnya
  2. Saringan yang lembut
  3. Kunir   : 1 bagian
  4. Jahe     : 1 bagian
  5. Laos    : 1 bagian

 

Cara membuat dan cara aplikasi:

Semua bahan diblender sampai halus à peras dan ambil airnya à siap digunakan 2cc/ltr sore hari (kalau perlu tambahkan detergent satu atau dua sendok)

 

MEMBUAT FUNGISIDA SENDIRI

 

Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) :

  1. Bawang putih
  2. Temu ireng
  3. Temu lawak
  4. Umbi gadung
  5. Kencur
  6. Kalau mau lebih mantap, bisa ditambahkan kunir putih

Cara membuat dan aplikasi :

Semua bahan dicuci à dihaluskan à direndam dalam air 5 liter à simpan anaerob 3-4hari à siap digunakan dg dosis 1 ltr/5 ltr air disemprotkan atau dikocorkan.
Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). Sumber : http: aliefardi.wordpress.com

NB:

Aplikasi dilombok masing2 bahan 1-2 kg.

Kalo untuk jamur banyakin bawang putih, dan kencur.

Kalo untuk bakteri banyakin temu ireng/temu lawak, kunir.

Untuk penyakit bercak putih pada daun cabe, jamur jelaga hitam pada cabe/kacang panjang, antraknose ringan pada cabe atau bahkan layu bakteri pseudomonas sp bisa dicoba. Tapi obat organic sifatnya lebih ke pencegahan sehingga aplikasi sebaiknya rutin.
Semoga sukses mas…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS


TEHNOLOGI SEDERHANA

MENGEMBANGKAN BACILLUS THURINGIENSIS

Untuk petani yang tinggal di daerah dataran tinggi (pegunungan) khususnya yang membudidayakan kubis siapa yang tidak kenal dengan Dipel, Xentari, Turex atau nama dagang yang lain. Insektisida tersebut sangat ampuh mengendalikan hama ulat kubis baik Crocidolomia binotalis atau Plutella xylostella. Bioinsektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut keampuhannya bisa mengalahkan insektisida kimia berbahan aktif golongan piretroid sintetik, karbamat maupun organophospat. Kali ini akan kami sajikan tips tentang Teknologi Sederhana Mengembangkan Dipel yang berbahan aktif Bacillus Thuringiensis

Kenapa harus Dipel ?

Karena Dipel adalah bioinsektisida yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis subsp. kurtaki yang secara alami mampu membunuh ulat serangga pengganggu dan pemakan daun namun aman bagi serangga lain, burung, ikan atau hewan berdarah panas. Karena berbahan aktif mikroorganisme maka bioinsektisida tersebut bisa dikembangkan tanpa mengurangi kekuatan daya kendalinya (efikasinya). Dipel merupakan insektisida biologis yang bekerja sebagai racun lambung, sehingga jika dimakan oleh ulat Bacillus thuringiensis akan bekerja menjadi racun perut si ulat tersebut.

Bahan dan alat untuk mengembangkan Bacillus thuringiensis    :

  1. Starter Bacillus thuringiensis   : à menggunakan Bioinsektisida Dipel 10 gram
  2. Limbah cair tahu                      : 10 liter
  3. Onggok tapioka                       : 5 kg
  4. Kapur                                       : 1 sendok makan
  5. Air steril                                   : 1 liter
  6. Ember
  7. Pengaduk

 

Cara Pembuatan :

  1. Campurkan bahan no 2, 3, 4 à rebus hingga mendidih dan diamkan sampai dingin (sebagai media).
  2. Larutkan 10 gram bubuk  Dipel dalam 1 liter air steril (sebagai starter) à campurkan dengan media yang telah dingin tadi à simpan anaerob selama 3 x 24 jam
  3. Rebus semua bahan tersebut dengan panas maksimal 50°C hingga menjadi bubuk.

 

Cara penggunaan biakan Dipel :

  1. Larutkan 1 gram bubuk biakan Dipel / 1 liter air à semprotkan pada sore hari.
  2. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya dicampur dengan perekat.
  3. Menurut informasi biakan Bacillus thuringiensis tersebut kekuatan toksisitasnya bisa 27 kali dibanding Dipel produk komersial.

Tidak ada salahnya kalau maspary mengajak rekan-rekan petani untuk mencoba menghemat pengeluaran usaha tani kita dengan mengembangkan Bacillus thuringiensis (Dipel), karena biakan tersebut secara alami mampu mengontrol ulat dan serangga pengganggu, mempunyai daya toksisitas terhadap serangga sasaran lebih tinggi 27 kali dari produk komersial,  bahan baku mudah dan murah, proses pembuatan yang sederhana, ramah lingkungan dan tidak mengandung unsur kimiawi. Cuma sayang dilapangan bioinsektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis tersebut belum berkembang didataran rendah. Apa mungkin ada pengaruh suhu terhadap efektifitas BT (Bacillus thuringiensis ) atau mungkin alasan yang lain, kurang tahu juga. Jika ada pembaca yang ada informasi silahkan tulis di kolom komentar.

download file-nya di sini


FUNGISIDA dan BAKTERISIDA ORGANIK

By Timbul Sunarno

Beberapa formula pengendalian jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman tersebut adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Pengendalian dengan Tetumbuhan
  2. Cara 1. Dengan empon-empon

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Jahe           : 1 kg

-    Lengkuas   : 1 kg

-    Kunyit       : 1 kg

-    Labu siam : 1 kg

Semua bahan dihaluskan à diperas dan diambil airnya à siap digunakan dengan dosis 20cc/ltr (k/p tambahkan 2 butir telur ayam untuk bahan perekat dan sekaligus protein bagi tanaman)
  1. Cara 2. Bunga kertas atau Bougenville

Bunga kertas atau bougenville dapat juga digunakan sebagai bahan pestisida alami.

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Daun kertas  : 1 kg

-    Susu sapi      : 1 ltr

Masukkan daun bunga kertas kedalam air mendidih selama 24 jam à tambahkan susu sapi rebus à saring à siap dipakai digunakan dg dosis 100 cc/ltr.
  1. Cara 3. Kenikir (marigold)

Kenikir selain daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran, kenikir yang warna bunganya berlainan dapat digunakan sebagai bahan pestisida alami.

Bahan

Cara membuat dan Aplikasi

-    Bunga kenikir 1kg

-    Bisa ditambahkan bahan lain

Masukkan bunga kenikir dalam air mendidih sebanyak 10 ltr selama 24 jam à saring à siap pada  tanaman yang terkena nematoda
  1. Cara 4. Daun Sirih dll

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Daun Sirih  : 6 g’gam

-    Belerang     : ¼ kg

-    Labu Siam  : 2 kg

-    Jinten          : ¼ kg

Semua bahan dihaluskan à simpan 1 minggu à saring à siap digunakan dg dosis 100cc/ltr
  1. Cara 5. Tembakau

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

Daun tembakau 200 kg (sebaiknya limbahnya) Bahan dirajang menjadi serpihan kecil à Benamkan di sekitar perakaran tanaman atau bersama pupuk/ha luasan
  1. Cara 6. Biji Mimba

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Biji mimba    : 20 gr

atau

-    Daun mimba : 50 gr

-    Sabun colek  : 1 gr

-    Air                : 1 liter

Haluskan biji atau daun mimba à campurkan dalam 1 liter air à tambahkan 1 cc deterjen cair/sabun colek à simpan 24 jam à disaring à siap digunakan dg dosis ?
  1. Cara 7. Daun Cengkih

Ramuan untuk mengendalikan jamur Fusarium oxysporum penyebab penyakit busuk batang pada tanaman panili

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

Daun cengkih 50-100 gr Bahan dihaluskan à taburkan/benamkan ke dalam tanah di sekitar perakaran sebanyak 50-100 gr/tanaman
  1. Cara 8

Mengatasi busuk batang dan layu pada tomat

Bahan

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Daun bambu muda

-    Kunir

-    Bengle

-    Daun bambu dihaluskan à rendam dalam 10 liter air ≥ 6 jam

-    Rendam kunir dalam 2 liter air

-    Rendam bengle dalam 2 liter air

-    Campurkan semua bahan à tambahkan 10-20 lt air à siramkan pada tanaman dan media tanahnya

  1. 2.      Pengendalian dengan Jamur Antagonis  (Jamur Trichoderma)
  2. Pembiakan cara 1.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Bekatul

-    Stater  Trichoderma

-    Alat pengukus

-    Plastik

-    Tampah

Katul diperciki air sampai macak-macak/tidak basah betul/pero à kukus sampai matang à di ler pada tampah yang bersih setinggi 10 cm sampai dingin à Inokulasikan biakan jamur kemudian tutup rapat dengan plastic à simpan pada suhu kamar
  1. Pembiakan cara 2.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Sekam/bekatul

-    Gula

-    Soblok/kukusan

-    Kompor

-    Kantong plastik

Sekam/bekatul dikukus sampai mendidih à angkat dan kering anginkan sampai dingin à masukkan ke dalam plastik dan berikan jamur Tricoderma bersama larutan gula 0,1 % à simpan dalam suhu kamar selama 3 hari à bila muncul spora warna putih berarti pembuatan jadi

Jamur Tricoderma yang sudah tua/jadi berwarna hijau kehitaman

Fungisida dan Bakterisida Organik Sederhana

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Daun rondo noleh, daun mindi, daun suren, daun tikusan, daun klereside, daun batang blekokan, kliko semboja, kliko pule, buah bawangan, daun kinang, jahe, laos, kunir masing-masing 1 kg

-    Air 7 liter

Semua bahan ditumbuk halus à dicampur air à saring à siap digunakan dg dosis 20 cc/ltr

 

Teh Kompos lawan Penyakit tanaman

-          Teh kompos atau air ekstrak kompos ternyata dapat dipakai untuk melindungi tanaman dari penyakit/ patogen daun. Juga sebagai inokulan guna memperbaiki dan meningkatkan mikroflora tanah. Penelitian di mancanegara menunjukkan, ekstrak kompos efektif mengendalikan penyakit tanaman. Antara lain Phytophora infestants di kentang dan tomat,Botrytis cinerea di stroberi, Fusarium oxysporum, plasmopara viticola (embun tepung) di anggur, dan Sphaerotheca fuliginea (embun tepung) di mentimun.

-          Komponen aktif dalam ekstrak kompos yang telah dikenali termasuk bakteri (Bacillus), kapang (Sporobolmyces, dan Cryptococcus), serta jamur. Juga bahan kimia bersifat antagonis seperti phenol dan asam amino. Melalui sterilisasi, dan penyaringan nonaktif, ditunjukkan kemanjuran ekstrak kompos karena peran organisme hidup yang ada dalam larutan itu.

Bahan dan alat

 

Cara membuat dan Aplikasi

-    Kompos  : 1 kg

-    Air          : 5 ltr

Bahan dicampur à diaduk merata 2 – 3 minggu à saring à siap digunakan

 

Selamat Mencoba
SALAM PETANI

download file-nya di sini

 

HAMA, PENYAKIT DAN HARA PADA PADI


HAMA, PENYAKIT DAN HARA

PADA PADI

Cetakan ketiga 2007

 

 

 

 

Kerja sama

Puslitbang Tanaman Pangan

Balai Pengkajian Tehnologi Pertanian (BPTP) Sumut, Riau, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, Sulteng, Kalbar

International Rice Research Institute (IRRI)

 

 

 

 

Ucapan terima kasih disampaikan kepada:

Ir. Hendarsih, MSc., Dr. I. N. Widiarta,

Ir. Rochman, Dr. Sarlan Abdurachman,

Dr. Sudarmaji, dan Dr. A. Karim Makarim

Atas koreksi dan saran sampai diterbitkannya buku ini

Cetakan pertama 2003

Cetakan kedua 2005

Cetakan ketiga 2007

Tim Penyusun:

Mahyuddin Syam

Suparyono

Hermanto

Diah Wuryandari S.

 

 

  1. A.  HAMA

 

  1. 1.        PENGGEREK BATANG (STEM BORER)

Nama lain:

  • Bila serangan terjadi pada fase pembibitan sampai vegetatif disebut “SUNDEP”
  • Bila serangan terjadi pada fase generatif disebut “BELUK”

 

Penyebab (ulat):

  • Scirpophaga incertulas (Penggerek batang kuning) (Gb 1)
  • Scirpophaga innotata (Penggerek batang putih) (Gb. 2)
  • Chilo suppressalis (Penggerek batang bergaris) (Gb. 3)                   

Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang, hindari penanaman pada bulan-bulan Desember – Januari karena suhu, kelembaban, dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang sementara tanaman padi yang baru ditanam sangat sensitif terhadap hama ini. Hama ini dapat merusak tanaman pada semua fase baik saat di pembibitan, anakan, maupun fase berbunga

 

Gejala:

Di lapang keberadaan hama ini ditandai oleh kehadiran ngengat / kupu-kupu (Gb. 1, 2, dan 3), kematian tunas-tunas padi / sundep / dead heart (Gb. 4), kematian malai / beluk / white head (Gb. 5), dan ulat / larva penggerek batang (Gb. 6).

 

Gambar 1

Scirpophaga incertulas

(Ngengat penggerek batang kuning)

Gambar 2

Scirpophaga innotata

(Ngengat penggerek batang putih)

Gambar 3

Chilo suppressalis

(Ngengat penggerek batang bergaris)

 

Gambar 4

Gejala Sundep

Gambar 5

Gejala Beluk

Gambar 6

Larva penggerek batang bergaris

 

Pengendalian:

  • Jika rumpun memperlihatkan gejala sundep atau beluk > 10% harus segera dilakukan tindakan
  • Insektisida yang berbahan aktif: Karbofuran, Bensultap, Karbosulfan, Dimenhipo, Amitraz, dan Fipronil.
  • Sebelum menggunakan suatu produk pestisida baca dan pahami informasi yang tertera pada label. Kecuali untuk kupu-kupu yang banyak beterbangan jangan memakai pestisida semprot untuk sundep dan beluk

 

 

  1. 2.        WERENG
    1. a.    WERENG COKLAT (BROWN PLANTHOPPER-BPH)

Penyebab à Nilaparvata lugens (Stal)

WCk juga merupakan vektor penyakit virus “kerdil rumput” dan “kerdil hampa”.

Sejak pertengahan tahun 1970an wereng coklat (WCk) (Gb. 7) menjadi salah satu hama utama tanaman padi di Indonesia. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem intensifikasi padi (varietas unggul, pemupukan N dosis tinggi, penerapan IP>200 dsb). Penggunaan pestisida yang melanggar kaidah – kaidah PHT (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu aplikasi) turut memicu ledakan wereng coklat. Tergantung pada tingkat kerusakan serangan wereng coklat dapat meningkatkan kerugian hasil padi dari hanya beberapa kwintal gabah sampai puso. Selain itu, Dengan menghisap cairan dari dalam jaringan pengangkutan tanaman padi WCk dapat menimbulkan kerusakan ringan sampai berat pada hampir semua fase tumbuh

Gejala:

  • Daun menguning kemudian tanaman mengering dengan cepat seperti terbakar (hopperburn)
  • Dalam suatu hamparan gejala hopperburn terlihat sebagai bentuk lingkaran (Gb. 8) yang menunjukkan pola penyebaran WCk yang dimulai dari satu titik kemudian meyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian populasi WCk biasanya sudah sangat tinggi

 

Gb.7. Wereng coklat

Gb.8. Gejala hopperburn serangan wereng coklat

 

Pengendalian:

  • Varietas tahan.

Tergantung pada biotipe yang berkembang di suatu ekosistem.

ü Daerah endemik WCk biotipe1 dapat menanam antara lain: Memberamo, Widas dan Cimelati

ü Untuk biotipe 2 dan 3, Memberamo, Cigeulis dan Ciapus (lihat Daftar Varietas

ü Unggul Padi pada CD ROM Bank Informasi Teknolog Padi)

  • Penanaman padi dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat
  • Pergiliran varietas
  • Insektisida

Berbagai insektisida yang berbahan aktif:: Amitraz, Bupofresin, Beauveria Bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml, BPMC, Fipronil, Amidakloprid, Karbofuran, Karbosulfan, Metolkarb, MIPCI, Propoksur,  Tiametoksan.

 

  1. b.   WERENG HIJAU (GREEN LEAFHOPPER)

Penyebab:

  • Nephottetix virescens
  • Nephottetix nigropictus
  • Nephottetix cinticeps
  • Nephottetix malayanus

Peran wereng hijau (WH) (Gb. 9) merupakan vektor penyakit “tungro” yang merupakan salah satu penyakit virus terpenting di Indonesia. Kemampuan WH sebagai penghambat dalam system pertanian padi sangat tergantung pada penyakit virus tungro. WH banyak ditemukan pada sistem sawah irigasi teknis, ekosistem tadah hujan, tetapi tidak lazim pada ekosistem padi gogo. Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi sangat memicu perkembangan WH

Gejala:

  • WH menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir tidak menyukai pelepah atau daun bagian tengah
  • WH menyebabkan daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye
  • Penurunan jumlah anakan dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek)

 

Gb. 9. Wereng hijau

 

Pengendalian:

  • Umumnya dikendalikan dalam satu paket dengan pengendalian tungro.
  • Menanam varietas tahan tungro seperti: Tukad Petanu, Kalimas, dan Bondoyudo
  • Insektisida berbahan aktif BPMC, Bufrezin, Imidkloprid, Karbofuran, MIPC, Tiametoksam

 

  1. 3.        KEPINDING TANAH (BLACK BUG)

Penyebab à Scotinophara coarctata

Pada ekosistem padi di Asia terdapat dua spesies kepinding tanah yaitu kepinding tanah Malaya Scotinophara (=Podops) coarctata (Gb. 10) dan kepinding tanah Jepang Scotinophara (=Podops) lurida. Banyak lagi spesies yang mirip kedua kepinding tanah tersebut tetapi keberadaannya jarang mencapai jumlah yang melimpah. Kedua jenis kepinding tanah ini sering mencapai jumlah berlimpah dan karena pengendalian dengan pestisida sulit dilakukan, hama ini sering menimbulkan kerugian besar. Pada siang hari kepinding tua yang hitam coklat mengkilat bergerombol di pangkal batang padi persis di batas genangan air Pada malam hari mereka naik batang padi dan mengisap cairan dari dalam jaringan tanaman. Selama musim kemarau kepinding tanah menghabiskan waktunya di belahan tanah yang ditumbuhi rumput. Kepinding tanah dapat terbang ke pertanaman padi dan berkembang biak dalam beberapa generasi. Mereka kembali ke fase dormannya setelah padi dipanen. Kepinding dewasa dapat menempuh jarak yang jauh. Kepinding dewasa tertarik pada sinar dengan intensitas yang kuat dan penangkapan tertinggi diperoleh pada saat bulan purnama

 

Gejala:

  • Pengisapan cairan oleh kepinding tanah menyebabkan warna tanaman berubah menjadi coklat kemerahan atau kuning
  • Buku pada batang merupakan tempat isapan yang disukai karena menyimpan bayak cairan.
  • Pengisapan oleh Kepinding tanah. menyebabkan jumlah anakan berkurang dan pertumbuhan terhambat (kerdil).
  • Apabila serangan terjadi setelah fase bunting tanaman menghasilkan malai yang kerdil eksersi malai yang tidak lengkap dan gabah hampa.
  • Dalam kondisi populasi kepinding tinggi tanaman yang dihisap dapat mati atau mengalami “bugburn” seperti “hopperburn” oleh wereng coklat

 

Gambar 10. Kepinding Tanah

 

Pengendalian:

  • Membersihkan lahan dari berbagai gulma agar sinar matahari dapat mencapai dasar kanopi tanaman padi
  • Menanam varietas padi berumur genjah, untuk menghambat peningkatan populasi kepinding tanah.

 

  1. 4.        WALANG SANGIT (RICE BUG)

 

Penyebab à Leptocorisa oratorius (Fabricius)

Walang sangit (Gb. 11) merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Selain sebagai mekanisme pertahanan diri bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama

Gejala:

  • Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu
  • Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur serta gabah menjadi hampa (Gb. 12).

 

Gb. 11

Walang sangit.

Gb. 12

Beras mengalami perubahan warna dan mengapur akibat serangan walang sangit

 

Pengendalian:

  • Mengenendalikan gulma, baik yang ada disawah maupun yang ada di sekitar pertanaman
  • Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam
  • Menangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan;
  • Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam
  • Insektisida yang berbahan aktif: BPMC, Fipronil, Metolkarb, MIPC, Propoksur

 

  1. 5.        TIKUS (RAT)

Penyebab à Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)

Tikus (Gb. 13) merusak tanaman padi pada semua fase tumbuh dari semai hingga panen bahkan sampai penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang hari tikus bersembunyi dalam sarangnya ditanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan didaerah perkampungan dekat sawah. Pada periode bera sebagian besar tikus bermigrasi kedaerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/faeces, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus sangat cepat berkembang biak dan hanya terjadi pada periode padi generatif. Dalam satu musim tanam satu ekor tikus betina dapat melahirkan 80 ekor anak.

 

Gejala:

Pada serangan berat tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak meluas ke arah pinggir dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan (Gb. 14A).

 

Gb. 13. Tikus sawah (R argentiventer)

A

B

C

Gb. 14. Ciri khas petak sawah diserang tikus (A), kerusakan padi fase vegetatif (B) & generatif (C)

 

Gb. 15. TBS pada habitat batas kampung (A). Bubu perangkap (B)

Pengendalian:

Melalui pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu), yaitu pengendalian yang didasarkan pada biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara bersama oleh petani sejak dini (sejak sebelum tanam), intensif dan terus-menerus memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang tersedia, dan dalam wilayah sasaran pengendalian skala luas

Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb:

 

Stadia padi / kondisi lingkungan sawah

Cara

Pengendalian

Matang

Bunting

Bertunas

Tanam

Semai

Olah Tanah

Bera

+

+

Tanam serempak

+

+

+ +

Sanitasi habitat

+

+ +

+

Gropyok massal

+ +

+ +

Fumigasi

+

+

+ +

LTBS

+ +

TBS

+

Rodentisida K/P

Keterangan: 

+       = dilakukan                                   

++    = difokuskan

 

Pada awal musim, pengendalian tikus ditekankan untuk menekan populasi awal tikus, yang dilakukan melalui gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS (Trap Barrier System) dan LTBS, pemasangan bubu perangkap pada pesemaian (Gb.15). TBS merupakan pertanaman padi yang ditanam 3 minggu lebih awal, berukuran minimal (20×20) m, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, memiliki bubu perangkap pada setiap sisi pagar plastik dengan lubang menghadap keluar, dan dilengkapi dengan tanggul sempit sebagai jalan masuk tikus. TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu tergenang air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah disekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman. LTBS (Gb. 16) merupakan bentangan pagar plastik sepanjang > 100 m, dilengkapi bubu membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. perangkap pada kedua sisinya secara berselangseling agar mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan didekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.

  • Fumigasi (Gb. 17) paling efektif dilakukan pada fase generatif, saat sebagian besar tikus berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode ini efektifmembunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya
  • Rodentisida sebaiknya hanya digunakan saat populasi tikus sangat tinggi, dan hanya efektif pada periode bera dan fase awal vegetatif

 

Gb. 16. LTBS pada habitat tanggul irigasi

Gb. 17. Fumigasi

  1. 6.        GANJUR (GaALL MIDGE)

Penyebab à Orseolia oryzae (Wood-Mason)

Ganjur umumnya bukan merupakan hama utama padi di Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya terjadi pada musim-musim tertentu. Namun demikian serangan ganjur dapat terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase primordia. Serangga dewasa Orseolia oryzae menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang (Gb. 19), sehingga penyebaran sangat terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik pada cahaya

 

Gejala:

  • Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk seperti pentil atau daun bawang dengan panjang bervariasi 15-20 cm (Gb. 18).
  • Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai

 

Gb. 18

 Gejala kerusakan: daun menggulung seperti daun bawang

Gb. 19

Serangga dewasa ganjur seperti nyamuk kecil

 

Pengendalian:

  • Atur waktu tanam agar puncak curah hujan tidak bersamaan dengan stadia vegetatif.
  • Bajak ratun/tunggul yang berasal dari tanaman sebelumnya dan buang/bersihkan semua tanaman inang alternatif seperti padi liar (Oryza rufipogon) selama masa bera.
  • Tanam varietas tahan seperti Ciliwung dan Asahan (lihat Daftar VarietasUnggul pada pada CD ROM Bank Informasi Teknologi Padi)
  • Hama ganjur dewasa sangat tertarik terhadap cahaya, oleh karena itu lampu perangkap dapat digunakan untuk menangkap hama ganjur dewasa.
  • Insektisida Sistemik granular yang berbahan aktif Karbofuran

 

  1. 7.        HAMA PUTIH PALSU (LEAFFOLDER)

Penyebab à Cnaphalocrocis medinalis (Guenée)

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai >50%. Siklus hidup hama ini 30- 60 hari

Gejala:

  • Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki 3 buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan.
  • Pada saat beristirahat ngengat berbentuk segi tiga (Gb. 22).
  • Kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman (Gb. 20).
  • Larva (Gb. 21) makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih.

Gb. 20

Daun berwarna putih dan terlipat

Gb. 21

Larva hama putih palsu.

Gb. 22

Ngengat hama putih palsu pada saat istirahat.

 

Pengendalian:

Upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam

Insektisida berbahan aktif Fipronil atau Karbofuran

Jangan menggunakan insektisida sampai tanaman berumur 30 hari setelah tanam pindah atau 40 hari sesudah sebar benih

Tanaman padi yang terserang pada fase ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.

 

  1. 8.        HAMA PUTIH (CASEWORM)

Penyebab à Nymphula depunctalis (Guenée)

Hama putih jarang menjadi hama utama pada padi. Tanda adanya hama ini dilapang adalah dari ngengat kecil (Gb. 23) dan larva. Serangan oleh hama ini dapat terjadi pada pembibitan sampai fase anakan. Fase hama yang merusak adalah fase larva

    

Gejala:

Kerusakan pada daun yang khas yaitu daun terpotong seperti digunting (Gb. 24)

Daun yang terpotong tersebut berubah menyerupai tabung yang digunakan larva untuk membungkus dirinya dan larva aman dengan benang-benang sutranya. Larva bernafas dari dalam tabung dan memerlukan air di sawah

Gulungan daun yang berisi larva dapat mengapung di atas permukaan air pada siang hari dan makan pada malam hari

Larva akan memanjat batang padi membawa gulungan daunnya yang berisi air untuk pernafasannya (Gb. 25)

Gb. 23

Ngengat hama putih

Gb. 24

Gulungan daun yang berisi larva hama putih mengapung di atas permukaan air

Gb. 25

Gejala kerusakan yaitu daun terpotong seperti digunting

 

Pengendalian:

  • Perlu dilakukan kalau tingkat serangan mencapai >25% daun rusak atau 10 daun rusak per rumpun.
  • Insektisida yang berbahan aktif Fipronil atau Karbofuran

 

 

  1. 9.        ULAT TENTARA/GRAYAK (ARMYWORM)

Penyebab (ulat):

  • Spodoptera mauritia acronyctoides (Guenée)
  • Mythimna separata (Walker)
  • Spodoptera exempta (Walker)
  • Spodoptera litura (Fabricius) (jarang merusak padi)

Ngengat dewasa aktif pada malam hari makan, berkopulasi, dan bermigrasi,

Sedangkan pada siang hari beristirahat di dasar tanaman. Ngengat sangat tertarik terhadap cahaya. Kerusakan terjadi karena larva (Gb. 26) makan bagian atas tanaman pada malam hari dan cuaca yang berawan

 

Gejala:

  • Larva mulai makan dari tepi daun sampai hanya meninggalkan tulang daun dan batang (Gb. 27).
  • Larva sangat rakus dan serangan terjadi pada semua fase tumbuh tanaman padi mulai dari pembibitan khususnya pembibitan kering sampai fase pengisian.
  • Mythimna separata dapat memotong malai pada pangkalnya dan dikenal sebagai ulat pemotong leher malai (Gb. 28).

Gb. 26

Larva dan pupa ulat Tentara

Gb. 27

Gejala kerusakan pada daun yang dimakan mulai dari tepi daun dan hanya meninggalkan tulang daun dan batang

Gb. 28

Malai yang terpotong akibat serangan larva ulat tentara

 

Pengendalian:

Insektisida yang berbahan aktif BPMC atau Karbofuran.

 

  1. 10.    ULAT TANDUK HIJAU (GREEN HORNED CATERPILLAR)

Penyebab à Melanitis leda ismene Cramer

Ngengat tidak tertarik pada cahaya. Ngengat berupa kupu-kupu yang berukuran besar yang sangat mudah dikenali karena pada sayapnya terdapat bercak berbentuk seperti mata (Gb. 29). Larva (Gb. 30) memiliki 2 pasang tanduk satu pasang di bagian ujung kepala dan satu pasang lainnya ada di bagian ujung abdomen. Selain tanaman padi serangga ini memiliki inang lain seperti rumput-rumputan, tebu, sorgum, Anastrophus sp, Imperata sp, dan Panicum spp.

 

Gejala:

  • Larva penyebab kerusakan pada tanaman makan daun mulai dari pinggiran dan ujung daun.
  • Fase pertumbuhan tanaman yang diserang adalah dari fase anakan sampai pembentukan malai.

Gb. 29

Ngengat berukuran besar, pada sayapnya terdapat bercak berbentuk mata

Gb. 30

Larva ulat tanduk hijau memiliki 2 pasang tanduk, satu pasang dibagian ujung kepala dan yang satu lagi dibagian ujung abdomen

 

Pengendalian:

  • Memanfaatkan musuh alami seperti parasit telur Trichogrammatidae.
  • Pengendalian dengan insektisida tidak dianjurkan pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam pindah atau 40 hari setelah sebar benih.
  1. 11.    ULAT JENGKAL PALSU HIJAU (GREEN SEMILOOPER)

Penyebab à Naranga aenescens (Moore)

Populasi tinggi dari hama ini dapat terjadi sejak di persemaian hingga anakan maksimum. Tanaman padi yang diberi pupuk dengan takaran tinggi sangat disukai hama ini. Populasinya meningkat selama musim hujan. Ngengat aktif pada malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dasar tanaman atau di rumput-rumputan. Hama ini jarang menyebabkan kehilangan hasil karena tanaman yang terserang dapat sembuh kembali.

 

Gejala:

  • Larva muda memarut jaringan epidermis tanaman meninggalkan lapisan bawah daun yang berwarna putih (Gb. 31)
  • Larva yang sudah tua makan dari pinggiran daun (Gb. 32)
  • Larva bergerak seperti ulat Jengkal

Gb. 31

Larva muda memarut jaringan epidermis tanaman meninggalkan lapisan bawah daun yang berwarna putih

Gb. 32

Larva tua ulat jengkal-palsu hijau makan dari pinggiran daun

 

Pengendalian:

  • Memanfaatkan musuh alami seperti parasit telur Trichogrammatidae; parasit larva dan pupa seperti Ichneumonidae, Braconidae, Eulophidae, Chalcidae; dan laba-laba pemangsa ngengat
  • Musuh alami dapat menekan populasi hama ini

 

  1. 12.    ORONG – ORONG (MOLE CRICKET)

Penyebab à Gryllotalpa orientalis Burmeister

Orong-orong jarang menjadi masalah di sawah, tetapi sering ditemukan di lahan pasang surut dan biasanya hanya terdapat di sawah yang kering yang kekurangan air. Penggenangan tanaman menyebabkan orong-orong pindah ke pematang. Hama ini memiliki tungkai depan yang besar (Gb. 33). Siklus hidupnya 6 bulan

 

Gejala:

Hama ini dapat merusak tanaman pada semua fase tumbuh

Benih yang disebar di pembibitan juga dapat dimakannya

Hama ini memotong tanaman pada pangkal batang dan orang sering keliru dengan gejala kerusakan yang disebabkan oleh penggerek batang (sundep)

Orong-orong merusak akar muda dan bagian pangkal tanaman yang berada di bawah tanah (Gb. 34)

Pertanaman padi muda yang diserangnya mati sehingga terlihat adanya spotspot kosong di sawah

Gb. 33

Orong-orong

Gb. 34

Pangkal tanaman yang rusak akibat serangan orong – orong

 

  1. 13.    LALAT BIBIT (RICE WHORL MAGGOT)

Penyebab à Hydrellia philippina Ferino

Lalat bibit merupakan hama penting pada daerah yang kondisi airnya sulit diatur. Dalam serangan yang tinggi hama ini dapat menyebabkan petani harus melakukan tanam ulang karena lebih dari 50% tanaman baru mereka mati oleh lalat bibit (Gb. 35). Lalat bibit (Gb. 36) umumnya menyerang pertanaman yang baru dipindah di sawah yang tergenang

 

Gejala:

Gejala serangan berupa bercak kuning disepanjang tepi daun

Daun yang terserang menjadi berubah bentuk dan daun menggulung (Gb. 37)

Telur serangga ini diletakkan di permukaan atas daun berwarna keputih-putihan berbentuk lonjong menyerupai buah pisang (Gb. 38)

Bila daun yang menggulung dibuka dengan mudah dapat dijumpai larva yang berwarna kuning kehijauan yang tembus cahaya (Gb. 39)

Larva juga dapat bergerak ke bagian tengah tanaman sampai mencapai titik tumbuh

Gb. 35

Serangan lalat Bibit

Gb. 36

Lalat bibit.

Gb. 37

Gejala serangan larva lalat bibit mengakibatkan daun berubah bentuk dan terlihat ada bercak kuning disepanjang tepian daun

Gb. 38

Telur lalat bibit berbentuk lonjong seperti pisang

Gb. 39

Larva lalat bibit

Pengendalian:

  • Mengeringkan sawah.
  • Pengendalian yang tepat adalah melalui pencegahan karena ketika gejala kerusakan terlihat di lapang, lalat bibit sudah tidak ada di pertanaman.
  • Insektisida yang berbahan aktif: Bensultap, BPMC, atau Karbofuran

 

  1. 14.    KEONG MAS (GOLDEN APPLE SNAIL)

Penyebab à Pomacea canaliculata (Lamarck)

Keong mas merupakan salah satu hama penting yang menyerang padi muda terutama di sawah yang ditanam dengan sistem tabela. Waktu kritis untuk mengendalikan keong mas adalah pada umur 10 HST pindah atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar dari pada laju kerusakan oleh keong Mas

 

Gb. 40

Keong mas

Gb. 41

Serangan keong Mas

Gb. 42

Telur keong mas berwarna merah muda

Gb. 43

Telur keong mas dihancurkan

 

 

Gejala:

  • Keberadaannya di lapang ditandai oleh adanya telur berwarna merah muda (Gb. 42) dan keong mas dengan berbagai ukuran dan warna.
  • Keong mas (Gb. 40) merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya menyebabkan adanya bibit yang hilang dipertanaman
  • Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang (Gb. 41)

 

 

 

Pengendalian:

  • Secara fisik gunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada tempat air masuk dipematang untuk meminimalkan masuknya keong mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan.
  • Secara mekanis pungut keong dan hancurkan (Gb. 43)
  • Bila di suatu lokasi sudah diketahui bahwa keong mas adalah hama utama sebaiknya tanam bibit umur > 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun
  • Bila terjadi invasi keong mas sawah perlu segera dikeringkan karena keong mas menyenangi tempat yang menggenang.
  • Jika petani menanam dengan sistem tanam pindah maka pada 15 hari setelah tanam pindah sawah dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood = intermitten irrigation).
  • Bila padi ditanam dengan sebar langsung selama 21 hari setelah sebar sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi lagi secara bergantian.
  • Bila diperlukan gunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponin. Aplikasi pestisida dilakukan di sawah yang tergenang, di caren, atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.

 

  1. 15.    BURUNG (BIRD)

Penyebab à Lonchura spp. Ploceus sp.

Burung (Gb. 44) menyerang tanaman padi pada fase matang susu sampai pemasakan biji (sebelum panen)

 

Gejala:

Serangan mengakibatkan biji hampa

Adanya gejala seperti beluk

Biji banyak yang hilang

Gb. 44. Burung

 

Pengendalian:

Penjaga burung mulai dari jam 06.00 -10.00 dan jam 14.00 – 18.00 karena waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang kritis

Gunakan jaring untuk mengisolasi sawah dari serangan burung luas sawah yang diisolasi kurang dari 0,25 hektar.

Bila tanam tabela:

ü Benih yang sudah disebar di sawah ditutup dengan tanah;

ü Benih yang digunakan harus lebih banyak

ü Gunakan orang-orangan atau tali yang diberi plastik untuk menakut-nakuti burung;

ü Pekerjakan penjaga burung

ü Tanam serentak dengan sekitarnya jangan menanam atau memanen di luar musim agar tidak dijadikan sebagai satu-satunya sumber makanan

Kendalikan habitat/sarang burung.

 

 

 

  1. B.  PENYAKIT

 

  1. 1.    PENYAKIT KARENA BAKTERI Xanthomonas
  2. a.    HAWAR DAUN BAKTERI (Bacterial Leaf Blight – BLB)

Penyebab (Bakteri) à Xanthomonas campestris pv. Oryzae

Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit terjadi pada musim hujan atau musim kemarau yang basah terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang dan dipupuk N tinggi (> 250 kg urea /ha)

Gejala ada 2:

1)   Kresek

Adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari (persemaian atau yang baru dipindah (Gb. 45). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh)

2)   Hawar

Merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan (Gb. 46).

Gejala diawali dengan timbulnya bercak abu abu (kekuningan) umumnya pada tepi daun (Gb. 47). Dalam perkembangannya gejala akan meluas membentuk hawar (blight), dan akhirnya daun mengering. Dalam keadaan lembab (terutama dipagi hari), kelompok bakteri berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah ditemukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar (Gb. 48). Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit HDB.

Gb. 45.            Kresek yang terjadi pada tanaman berumur < 30 hari
Gb. 46. Gejala hawar pada pertanaman yang telah mencapai fase anakan sampai fase pemasakan.

Gb. 47

Bercak abu-abu kekuningan pada bagian tepi daun

Gb. 48

Butiran kuning keemasan yang merupakan massa bakteri mudah ditemukan pada daun yang menunjukkan gejala hawar.

 

Pengendalian:

Varietas tahan seperti Code dan Angke

Pemupukan lengkap (NPK dalam dosis yang tepat)

Pengaturan air (hindari penggenangan yang terus-menerus, mis. 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan)

  1. b.   BAKTERI DAUN BERGARIS (Bacterial Leaf Streak – BLS)

Penyebab (Bakteri) à Xanthomonas campestris pv. oryzicola

Penyakit ini biasanya terjadi hanya pada helaian daun saja. Bakteri memasuki

tanaman melalui kerusakan mekanik atau melalui terbukanya sel secara alami. Butir – butir embun yang mengandung bakteri akan muncul pada permukaan daun. Hujan dan angina membantu penyebaran penyakit ini. Penyakit umumnya terjadi pada fase anakan sampai stadia pematangan. Dalam keadaan parah kehilangan hasil dapat mencapai 30%.

 

Gejala:

Timbul bercak sempit berwarna hijau gelap yang lama kelamaan membesar berwarna kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun (Gb. 49)

Sejalan dengan berkembangnya penyakit bercak membesar berubah menjadi berwarna coklat (Gb. 50) dan berkembang menyamping melampaui pembuluh daun yang besar

Seluruh daun varietas yang rentan bisa berubah warna menjadi coklat dan mati

Pada keadaan ideal untuk infeksi seluruh pertanaman menjadi berwarna oranye kekuningan (Gb. 51).

Gb. 49

Gejala bercak kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun.

Gb. 50

Bercak lama-kelamaan membesar berwarna coklat.

Gb. 51

Akibat infeksi bakteri daun bergaris, seluruh pertanaman menjadi berwarna oranye kekuning -  kuningan

 

Pengendalian:

  • Buang atau hancurkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi/sakit
  • Pastikan jerami dari tanaman sakit sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam pindah
  • Gunakan benih atau bibit yang bebas dari penyakit bakteri daun bergaris
  • Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran
  • Atur jarak tanam tidak terlalu rapat
  • Berakan tanah sesudah panen

 

  1. 2.    PENYAKIT KARENA FUNGI
  2. a.    BLAS (BLAST)

Penyebab (Fungi)à Pyricularia grisea

Semula penyakit ini dikenal sebagai salah satu kendala utama pada padi gogo

tetapi sejak akhir1980an penyakit ini juga sudah terdapat pada padi sawah beirigasi.

Penyakit ini mampu menurunkan hasil yang sangat besar

Gejala khas ada 2:

1)   Blas daun

Berupa bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih (Gb. 52).

2)   Blas leher

Berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah (Gb. 53).

 

Gb. 52

Gejala blas pada daun, bercak berbentuk belah ketupat.

Gb. 53

Blas leher

 

Pengendalian:

  • Kemampuan patogen membentuk strain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit.
  • Tanam varietas tahan secara bergantian untuk mengantisipasi perubahan ras blas yang sangat cepat
  • Pemupukan NPK yang tepat.
  • Penanaman dalam waktu yang tepat serta perlakuan benih
  • Fungisida yang berbahan aktif Metil tiofanat, Fosdifen, atau Kasugamisin.

 

  1. b.   HAWAR PELEPAH (SHEATH BLIGHT)

Penyebab (Fungi) à Rhizoctonia solani Kuhn (Thanatephorus cucumeris [FR] Donk)

Merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penyakit ini merusak

pelepah sehingga untuk menemukan dan mengenali penyakit perlu dibuka

kanopi pertanaman. Penyakit ini menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah,

makin awal terjadi kerebahan makin besar kehilangan yang diakibatkannya.

Penyakit ini menyebabkan gabah kurang terisi penuh atau bahkan hampa.

Hawar pelepah terjadi umumnya saat tanaman mulai membentuk anakan

sampai menjelang panen. Namun demikian penyakit ini juga dapat terjadi pada

tanaman muda (Gb. 54).

 

Gejala:

Awal berupa bercak oval/bulat berwarna putih pucat pada pelepah (Gb. 55)

Dalam keadaan yang menguntungkan (lembab) penyakit dapat mencapai daun bendera.

Patogen bertahan hidup dan menyebar dengan bantuan struktur lahan yang disebut sklerotium.

Gb. 54

Hawar pelepah terjada pada tanaman muda

Gb. 55

Gejala hawar pelepah daun yaitu bercak keabuabuan berbentuk oval memanjang/elips diantara permukaan air dan daun

Pengendalian:

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan karena pathogen bersifat poliphag (memiliki kisaran inang yang sangat luas).

Pemupukan tanaman dengan dosis 250 kg urea, 100 kg sp36, dan 100 kg kcl / ha dapat menekan perkembangan penyakit ini.

Atur pertanaman di lapang agar jangan terlalu rapat

Keringkan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum

Bajak yang dalam untuk mengubur sisa-sisa tanaman yang terinfeksi

Rotasi tanaman dengan kacang-kacangan untuk menurunkan serangan penyakit

Buang gulma dan tanaman yang sakit dari sawah

Fungisida yang berbahan aktif: Heksakonazol, Karbendazim, Tebukanazol, belerang, flutalonil, difenokonazol,  Propikonazol, Validamisin A.

  1. c.    BUSUK BATANG (STEM ROT)

Penyebab (Fungi):

Magnaporthe salvinii (Cattaneo) R.A. Krause & R.K. Webster (telemorph)

Helminthosporium sigmoideum var. irregular

Merupakan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman dalam kanopi dan menyebabkan tanaman menjadi mudah rebah. Untuk mengamati penyakit ini, kanopi pertanaman perlu dibuka. Perlu diwaspadai apabila terjadi kerebahan pada pertanaman tanpa sebelumnya terjadi hujan atau hujan dengan angin yang kencang.

 

Gejala:

Gejala awal berupa bercak berwarna kehitaman bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar (Gb. 56). Akhirnya cendawan menembus batang padi yang kemudian menjadi lemah anakan mati dan akibatnya tanaman rebah (Gb. 57).

Stadia tanaman yang paling rentan adalah pada fase anakan sampai stadia matang susu.

Kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 80%.

Gb. 56

Bercak kehitam-hitaman pada sisi luar pelepah daun akibat infeksi busuk batang

Gb. 57

Gejala busuk batang pada anakan mengakibatkan tanaman rebah.

 

Pengendalian:

Pemupukan dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl / ha dapat menekan perkembangan penyakit.

Untuk mengurangi penyebaran lebih luas lagi keringkan tanaman sampai saat panen tiba

Tunggul-tunggul padi sesudah panen dibakar atau didekomposisi

Keringkan petakan dan biarkan tanah sampai retak sebelum diari lagi

Gunakan pemupukan berimbang pupuk nitrogen sesuai anjuran dan pemupukan K cenderung dapat menurunkan infeksi penyaki

Fungisida yang berbahan aktif Belerang atau Difenokonazol.

 

  1. d.   BUSUK PELEPAH (SHEATH ROT)

Penyebab (Fungi) :

Sarocladium oryzae (Sawada) Gums

Hawksworth

Infeksi terjadi pada pelepah daun paling atas yang menutupi malai muda pada akhir fase bunting

 

Gejala:

Awal adanya noda berbentuk bulat memanjang hingga tidak teratur dengan panjang 0,5 – 1,5 cm warna abu-abu di tengahnya dan coklat atau coklat abu-abu di pinggirnya

Bercak membesar sering bersambung dan bisa menutupi seluruh pelepah daun.

Infeksi berat menyebabkan malai hanya muncul sebagian (tidak berkembang) (Gb. 58) dan mengerut sehingga hanya dapat menghasilkan sedikit bulir yang berisi (Gb. 59). Stadia tanaman yang paling rentan adalah saat keluar malai sampai matang susu.

Gb. 58. Busuk pelepah menyebabkan malai muncul sebagian

Gb. 59. Malai yang terserang menghasilkan sedikit bulir yang berisi.

Pengendalian

Bakar tunggul segera sesudah panen untuk mengurangi inokulum.

Atur jarak tanam agar tidak terlalu rapat

Beri pupuk K pada fase anakan.

Fungisida pada daun hanya dilakukan bila diperlukan yaitu pada fase bunting

Perlakuan benih dengan fungisida yang berbahan aktif Karbendazim atau Mankozeb untuk mengurangi infeksi penyakit.

Fungisida yang berbahan aktif Benomil juga efektif menekan infeksi penyakit.

 

  1. e.    BERCAK COKLAT (BROWN SPOT)

Penyebab (Fungi) à Helmintosporium oryzae

Bercak coklat dapat menyebabkan kematian tanaman muda dan menurunkan kualitas gabah. Seperti penyakit bercak cercospora penyakit ini merusak sekali pada pertanaman padi di lahan dengan sistem drainase buruk atau lahan yang kahat unsur hara, terutama yang unsur kalium. Penyakit jarang sekali terjadi di lahan subur.

 

Gejala:

Bercak berwarna coklat berbentuk oval sampai bulat berukuran sebesar biji wijen pada permukaan daun (GB. 61) pada pelepah atau pada gabah.

Patogen penyakit bersifat terbawa benih (seed borne) sehingga dalam keadaan yang cocok penyakit dapat berkembang pada tanaman yang masih sangat muda.

Gb. 60

Gejala penyakit bercak Coklat

Gb. 61

Gejala bercak berwarna coklat berbentuk oval sampai bulat

 

Pengendalian:

Penyakit dapat dikendalikan secara efektif dengan varietas tahan dan melalui pemupukan dengan 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl.

 

  1. f.     BERCAK CERCOSPORA (NARROW BROWN LEAF SPOT)

Penyebab (Fungi) : à Cercospora oryzae

Penyakit ini menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman di lahan yang kurang subur.

 

Gejala:

  • Penyakit menghasilkan gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera, pada fase tumbuh – pemasakan (Gb. 62)
  • Juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah.

 

Gb. 62.

Gejala lurus sempit berwarna coklat pada helaian daun bendera

 

Pengendalian:

  • Penyakit dikendalikan dengan pemupukan berimbang yang lengkap dengan dosis 250 kg urea,100 kg SP36 dan 100 kg KCl / ha.

 

  1. g.    HAWAR DAUN JINGGA (RED STRIPE)

Merupakan penyakit padi yang relatif  baru yang pertama kali ditemukan di Subang,

Jawa Barat tahun 1987. Penyakit ini umumnya terjadi pada daun dilahan sawah dengan kondisi Drainase buruk, dan pada tanaman yang telah mencapai fase tumbuh generatif. HDJ berkorelas negatif dengan tinggi tempat karena semakin tinggi tempat penyakit semakin ringan. Penyakit ini menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Sampai saat ini penyebab penyakit belum diidentifikasi secara pasti.

 

Penyebab à Belum diketahui

 

Gejala:

Penyakit diawali dengan titik kecil berwarna jingga (oranye) (Gb. 63) dihelaian daun.

Dari titik tersebut terbentuk garis lurus (stripe) berwarna jingga ke arah ujung daun.

Garis ini tidak pernah ke arah pangkal daun (Gb. 64).

Dalam perkembangannya gejala ini menjadi hawar (blight) mirip dengan gejala yang disebabkan oleh hawar daun bakteri (Gb. 65).

 

Gb. 63

Gejala awal hawar daun jingga berupa bercak hijau kuning terang yang berkembang menuju ujung daun

Gb. 64

Gejala berupa bercak berwarna hijau kuning terang pada stadia mulai berbungq

Gb. 65

Bercak yang bersatu menyerupai gejala hawar daun bakteri

 

Pengendalian:

Hawar daun jingga dikendalikan secara kultur teknis.

Pemberian pupuk dengan dosis 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl / ha dapat menekan perkembangan penyakit

Penyakit juga dapat ditekan dengan mengeringkan lahan dan membuka kanopi pertanaman untuk mengurangi kelembaban dan memperbaiki sirkulasi udara dalam kanopi

 

  1. 3.    PENYAKIT KARENA VIRUS
  2. a.    TUNGRO  (TUNGRO)

Penyebab (Virus) à Virus tungro

Tungro (Gb. 66) merupakan salah satu penyakit penting pada padi sangat merusak dan tersebar luas. Di Indonesia, semula penyakit ini hanya terbatas di Sulawesi Selatan, tetapi sejak awal tahun 1980an menyebar ke Bali, Jawa Timur, dan sekarang sudah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Bergantung pada saat tanaman terinfeksi.  Tungro dapat menyebabkan kehilangan hasil 5-70%. Makin awal tanaman terinfeksi tungro makin besar kehilangan hasil yang ditimbulkannya.

 

Gejala:

Yang menonjol adalah perubahan warna daun (Gb. 67) dan tanaman tumbuh kerdil. Warna daun tanaman sakit bervariasi dari sedikit menguning sampai jingga.

Tingkat kekerdilan tanaman juga bervariasi dari sedikit kerdil sampai sangat kerdil.

Gejala khas ini ditentukan oleh tingkat ketahanan varietas, kondisi lingkungan, dan fase tumbuh saat tanaman terinfeksi.

Gb. 66.

Tanaman yang terinfeksi tungro tumbuh kerdil.

Gb. 67

Daun mengalami perubahan warna menjadi kuning dimulai dari ujung daun-daun tua.

 

Pengendalian:

Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau dan dapat dikendalikan melalui pergiliran varietas tahan

Beberapa varietas tahan tugro antara lain: Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo

Pengaturan waktu tanam

Mengatur waktu tanam serempak minimal 20 ha luasan sawah

Sanitasi dengan menghilangkan sumber tanaman sakit

Penekanan populasi wereng hijau dengan insektisida

 

  1. b.   KERDIL RUMPUT (GRASSY STUNT)

Penyebab (Virus) :

Virus yang ditularkan oleh wereng coklat, dan tanaman inangnya hanya padi

 

Gejala:

Tanaman yang terinfeksi berat akan menjadi kerdil dengan anakan yang berlebihan sehingga tampak seperti rumput (Gambar 68).

Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek, kaku, berwarna hijau pucat sampai hijau dan kadang-kadang terdapat bercak karat (Gambar 69)

Tanaman yang terinfeksi biasanya dapat hidup sampai fase pemasakan tetapi tidak memproduksi malai.

Stadia pertumbuhan tanaman yang paling rentan adalah pada saat tanam pindah sampai bunting.

Gb. 68. Tanaman terinfeksi virus kerdil rumput.
Gb. 68. Daun tanaman padi menjadi sempit, pendek dan kaku berwarna hijau pucat.

 

Cara pengendalian:

Pengendalian dilakukan terhadap vektornya yaitu wereng coklat Nilaparvata lugens

 

  1. c.    KERDIL HAMPA (RAGGED STUNT)

Penyebab (Virus) :

Virus yang ditularkan oleh wereng coklat.

 

Gejala:

Malformasi pada daun seperti daun bergerigi (ragged) dan melintir (twisting) (Gambar70 dan 71).

Daun tanaman sakit berwarna hijau tua.

Malai dari tanaman yang sakit hanya keluar sebagian dan gabah yang dihasilkan hampa.

 

Gb. 70

Gejala awal adalah daun bergerigi pada fase awal tanaman muda.

Gb. 71

Gejala pada daun bendera pada fase bunting dicirikan oleh daun melintir, berubah bentuk, dan memendek.

 

Pengendalian:

Penyakit dikendalikan melalui pengendalian wereng coklat antara lain dengan penanaman varietas tahan.

  1. C.  HARA

 

  1. 1.        KAHAT NITROGEN (NITROGEN DEFICIENCY)

Gejala:

  • Pertumbuhan kerdil dan menguning
  • Daun lebih kecil dibandingkan daun tanaman sehat (Gb. 72)
  • Pada tanaman muda adalah seluruh tanaman menguning (Gb. 73)
  • Pada tanaman tua gejalanya terlihat nyata pada daun bagian bawah (tua) yang berwarna hijau kekuningan hingga kuning.
  • Anakan yang dihasilkan berkurang dan terlambat berbunga tetapi proses pemasakan lebih cepat sehingga kebernasan berkurang.
  • Gabah dari malai yang dihasilkan juga berkurang.

 

Gb. 72

Daun tanaman yang kahat nitrogen lebih kecil dibandingkan daun tanaman sehat.

Gb. 73

Gejala umum pada tanaman muda yang kahat nitrogen adalah seluruh tanaman menguning (tengah)

 

  1. 2.        KAHAT FOSFOR (PHOSPHORUS DEFICIENCY)

Secara umum P telah diidentifikasi sebagai unsur hara yang penting bagi kesehata

akar tanaman dan menambah ketahanan tanaman thd keracunan besi.

 

Gejala:

  • Pertumbuhan akar tanaman lambat, tanaman kerdil, daun berwarna hijau gelap dan tegak (Gb. 74), lama-kelamaan daun berwarna keunguan
  • Anakan sedikit (Gb. 75) waktu pembungaan terlambat atau tidak rata
  • Umur tanaman/panen lebih panjang dan gabah yang terbentuk berkurang.

 

Gb. 74

Tanaman yang kahat hara P tumbuh kerdil dan daun menjadi berwarna hijau gelap dan tegak lurus (kiri).

Gb. 75

Tanaman yang kahat hara P (sebelah kanan) menghasilkan sedikit anakan.

  1. 3.        KAHAT KALIUM (POTASSIUM DEFICIENCY)

Gejala:

Sebagian akarnya membusuk tanaman kerdil (Gb.76)

Daun layu/terkulai pinggiran dan ujung daun tua seperti terbakar (daun berubah warna menjadi kekuningan/orange sampai kecoklatan yang dimulai dari ujung daun terus menjalar ke pangkal daun (Gb. 77),

Anakan berkurang ukuran dan berat gabah berkurang.

Rentan serangan hama dan penyakit serta keracunan besi.

 

Gb.76

Tanaman yang kahat hara K tumbuh kerdil.

Gb.77

Gejala pada ujung daun tua seperti terbakar berubah warna menjadi kuning sampai kecoklatan

 

  1. 4.        KAHAT BELERANG (SULFUR DEFICIENCY)

Unsur hara S sebenarnya banyak hilang akibat pembakaran sisa-sisa tanaman. Oleh

karena itu jerami sebaiknya dikembalikan ke sawah. Umumnya terjadi pada tanah yang

kandungan bahan organiknya rendah, tanah reduktif dan atau pH tinggi

 

Gejala:

  • Khlorosis pada daun-daun muda (Gb. 78) diikuti dengan menguningnya daun tua dan seluruh tanaman
  • Pertumbuhan kerdil
  • Jumlah anakan berkurang
  • Malai berkurang (Gb. 79)

 

Gb. 78

Gejala khlorosis pada daun muda akibat kekurangan belerang (S).

Gb. 79

Pertumbuhan tanaman kahat S (kiri) terlihat kerdil jumlah anakan sedikit dan malai berkurang.

 

Penanganan:

  • Pemakaian 50-100 kg ZA / ha selang satu musim pertanaman sudah memadai untuk hasil tinggi (7-9 t/ha)

 

  1. 5.        KAHAT SENG (ZINC DEFICIENCY)

Gejala:

Daun hilang ketegarannya dan cenderung mengapung di atas air

Setengah dari tajuk bagian bawah daunnya berwarna hijau pucat 2-4 hari setelah digenangi kemudian khlorotik (Gb. 80) dan mulai mongering setelah 3-7 hari digenangi

Gejala khlorosis yang terberat umumnya terjadi pada saat air menggenang dalam.

Gejala mirip dengan “asem-aseman” oleh sebagian petani.

 

Gb. 80. Gejala khlorotik pada daun tanaman padi yang kahat Zn.

 

Penanganan:

Tanaman akan segera sembuh setelah sawah dikeringkan.

Jika ringan cukup diberikan 5 kg Zn/ha (ZnSO4)

Jika berat diberikan 20 kg Zn/ha (ZnSO4)

 

  1. 6.        KERACUNAN BESI (IRON TOXICITY)

Gejala:

Tanaman terlihat dari bercak-bercak kecil berwarna coklat pada daun-daun bawah

Bercak-bercak kecil tersebut berkembang dari pinggir daun kemudian menyebar ke pangkal (Gb. 81) dan berubah warna menjadi coklat, ungu, kuning atau oranye, lalu mati (Gb. 82).

Pertumbuhan dan pembentukan anakan terhambat sistem perakarannya jarang atau sedikit kasar dan berwarna coklat gelap atau membusuk.

 

Penanganan:

Gunakan varietas toleran seperti Banyuasin, Mendawak, dan Lambur dan atau pakai pupuk K secukupnya

Lakukan pengairan berselang (intermitten) dan tambahkan bahan organik

 

Gb. 81. Gejala keracunan besi berupa noda kecil berwarna coklat pada daun. Gb. 82. Gejala terlihat pertama kali pada daun tua

PEMUPUKAN PADI SAWAH

BERDASARKAN TINGKAT HASIL PANEN

 

Petunjuk berikut ini berlaku untuk padi sawah tanam pindah dengan target hasil panen 5, 6, 7 atau 8 t/ha GKG*

 

Gunakan pupuk N, P, K, dan S (bila diperlukan) pada stadia atau kisaran umur berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PESTISIDA

BERDASARKAN BAHAN AKTIF DAN NAMA DAGANG

NAMA DAGANG

NAMA BAHAN AKTIF

NO

Mitac

Bive As

Kumulus

Benlate

Bancol

Panzer, Spontan

Bassa, Kiltop, Baycarb

Klerat, Phyton

Petrolone

Applaud

Score

Dipho

Trebon

Regent

Storm

Monkat

Kasumiron

Anvil

Confidor

Bavistin

Curater, Dharmafur, Furadan

Marshal

Racumin

Dithane

Topsin

Rexal

Mipcin, Mikarb, Dharmacin

Bayluside

Tilt

Poksindo

Mesophide, Murata

Folicur

Actara

Validacin

Amitraz

Beauveria bassiana

Belerang

Benomil

Bensultap

Bisultap

BPMC

Brodifakum

Bromadiolon

Buprofezin

Difenokonazol

Dimehipo

Etofenproks

Fipronil

Flokumafen

Flutalonil

Fosdifen & kasugamisin

Heksakonazol

Imidakloprid

Karbendazim

Karbofuran

Karbosulfan

Kumatetralil

Mankozeb

Metil tiofanat

Metolkarb

Mipc

Niclos amida

Propikonazol

Propoksur

Seng fosfida

Tebukanazol

Tiametoksam

Validamisin A

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VARIETAS UNGGUL PADI YANG PALING LUAS DITANAM

DI INDONESIA SERTA KETAHANANNYA TERHADAP

HAMA DAN PENYAKIT 2005

NO

VARIETAS

LUAS TANAM/HA

TAHAN TERHADAP HAMA/PENYAKIT

1

IR 64

(1986 – 8 t/ha)

3.622.622

(31,4%)

WCk 1,2 dan kerdil rumput

2

Ciherang

(2000 – 8 t/ha)

2.517.140

(21,8%)

WCk 2,3 dan HDB strain III dan IV

3

Ciliwung

(1988 – 8 t/ha)

915.914

(8,0%)

WCk 1,2

4

Way Apo Buru

(1998—8 t/ha)

380.646

(3,3%)

WCk 2,3 dan HDB strain III dan IV

5

IR 42

(1980—7 t/ha)

281.764

(2,4%)

WCk 1,2; HDB; tungro dan kerdil rumput

6

Widas

(1999—8 t/ha)

204.007

(1,8%)

WCk 1,2,3 dan HDB strain III

7

Memberamo

(1995—8 t/ha)

189.211

(1,6%)

WCk 1,2,3; HDB strain III; tungro

8

Cisadane

( 1980—8 t/ha)

185.258

(1,6%)

WCk 1,2 dan HDB

9

IR 66

(1989—7 t/ha)

129.758

(1,1%)

WCk 1,2,3; wereng hijau, tungro, HDB

10

Cisokan

(1985—8 t/ha)

125.388

(1,1%)

WCk 1,2

11

Cibogo

(2003—8 t/ha)

121.900

(1,1%)

WCk 2

Keterangan:

Angka dalam kurung dalam kolom varietas adalah tahun dilepas dan potensi hasil

Angka dalam kurung dalam kolom luas tanam adalah persentase dari total luas tanam

Keterangan hama dan penyakit:

WCk 1,2,3       = Wereng Coklat Biotipe 1, 2, 3

HDB               = Hawar Daun Bakteri

 

Sumber:

Diolah dari Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan (2005).

Buku Penyebaran Varietas Padi MK 2004 dan MH 2004/2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAPATKAN SEGERA CD-ROM

BANK INFORMASI TEKNOLOGI PADI (BITP)

 

 

  • Memuat berbagai informasi teknologi budi daya padi yang secara berkala dimutakhirkan (update) mulai dari varietas unggul, pemupukan, hama/penyakit sampai pascapanen.
  • Bermanfaat bagi penyuluh, peneliti, petugas lapang, teknisi, dan petani.

Informasi lebih lanjut hubungi:

ü Balai Pengkajian Teknologi Pertanian atau Dinas Pertanian setempat atau langsung ke Puslitbang Pertanian Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor 16111. Telp.0251-334089. Fax.0251-312755. Email: crifc1@indo.net.id

ü Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya No. 9 Sukamandi Telp.0260-520157. Fax.0260-520158. Email: balitpa@telkom.net

ü Kantor Perwakilan IRRI. Jalan Merdeka 147 Bogor.Telp.0251-334391. Fax.0251-314354. Email: irribogor@cbn.net.id

 

 

 

 

MILIKI SEGERA !!!

INFORMASI PENTING BAGI PEMBUAT

KEBIJAKAN, PENELITI, PENYULUH, DAN TEKNISI LAPANG

 

 

  • Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu
  • Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi
  • Tanya Jawab Pengelolaan Tanaman Terpadu
  • Deskripsi varietas padi
  • Penelitian Padi Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Beras Nasional
  • Hubungi: Puslitbang Pertanian Tanaman Pangan Jalan Merdeka 147 Bogor 16111. Telp.0251-334089. Fax.0251-312755. Email: crifc1@indo.net.id
  • Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya No. 9 Sukamandi. Telp.0260-520157. Fax.0260-520158. Email: balitpa@telkom.net
  • Kantor Perwakilan International Rice Research Institute Jalan Merdeka 147 Bogor. Telp.0251-334391. Fax.0251-314354. Email: irribogor@cbn.net.id

 

Beras Merah vs Beras Putih


BERAS PUTIH vs BERAS MERAH

Beras Putih telah kehilangan 80% Vitamin dan Menyebabkan Diabetes

Dapatkah anda menebak, makanan apa yang dituding sebagai makanan utama penyebab penyakit diabetes dan jika tidak difortifikasi dengan vitamin oleh produsennya menyebabkan penyakit beri beri yang mematikan?

Betul, makanan tersebut adalah nasi putih. Mengapa nasi putih dituding sebagai penyebab utama diabetes? Hal ini disebabkan perkembangan diabetes terkait dengan konsumsi makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi.

Indeks glikemik (GI) merupakan skala angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa cepat dan seberapa tinggi suatu makanan tertentu dapat meningkatkan kadar glukosa darah.

Nasi putih memiliki nilai GI sebesar 70 – 87. Angka GI tersebut tergolong tinggi sehingga tidak cocok untuk penderita diabetes. Sehingga, nasi putih dapat diganti dengan Beras Merah. Beras Merah ini adalah beras yang hanya mengalami proses minimal penggilingan. Proses tersebut hanya menghilangkan lapisan padi paling luar sehingga penurunan nilai nutrisi dapat diminimalkan. Pun, nilai GI beras merah tergolong rendah, yakni 55.

Penggilingan Beras menjadi Putih merusak 80 % vitamin dalam beras

Proses penggilingan dan pemutihan yang menjadikan beras merah menjadi beras putih merusak 67% vitamin B3, 80% vitamin B1, 90% vitamin B6, 50% mangaan dan fosfor, 60% besi, serta semua serat dan asam lemak esensial.

Mengapa Produsen Memilih membuat Beras Putih daripada Beras Merah?

Jawabannya tentu karena bagi produsen, beras putih lebih tahan lama dalam penyimpanan. Sementara bagi konsumen ada anggapan bahwa beras merah hanya makanan kalangan miskin atau bahkan makanan hewan. Memang, lapisan bekatul yang kaya minyak membuat beras merah tidak tahan lama atau mudah tengik pada suhu ruang. Namun, jika kita menyimpan dengan cara yang benar, beras merah ini dapat tahan hingga 1 tahun.

Cara menyimpan beras merah yang benar adalah diletakkan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dalam kulkas. Ya, jaman dulu hanya sedikit orang mengenal kulkas, tapi sekarang hampir tiap rumah memiliki kulkas, jadi tunggu apa lagi?

Mengapa Harus Beras Organik?

Hal ini untuk mencegah adanya kandungan senyawa toksik arsenik yang umumnya terkandung dalam beras yang dibudidayakan secara anorganik. Kadar rendah arsenik memang tidak akan menimbulkan penyakit akut, tetapi beresiko menimbulkan kanker dalam jangka panjang.

Manfaat mengkonsumsi Beras Merah.

Mengkonsumsi beras merah dalam jangka panjang, umumnya dapat membantu mengatasi beragam gangguan kesehatan dan dapat meningkatkan kebugaran tubuh serta dapat meningkatkan corak kulit. Efek menguntungkan lainnya sebagai berikut :

- Menurunkan kadar kolesterol jahat
- Mencegah penyakit jantung koroner
- Membantu menyehatkan jantung, terutama bagi wanita pasca – menopause
- Mengurangi resiko sindrom metabolik
- Mencegah kanker
- Membantu mencegah batu kemih
- Melindungi terjangkitinya asma pada anak anak
- Mengendalikan stress dan membantu tidur agar lebih nyenyak
- Meningkatkan “qi” dan stamina
- Mengurangi frekuensi buang air kecil pada malam hari
- Meningkatkan napsu makan
- Meningkatkan pencernaa dan mengatasi perut kembung
- Menghilangkan konstipasi
- Melancarkan sirkulasi darah
- Menghilangkan pegal pegal dan rematik
- Mengurangi perut gendut
- Meningkatkan corak kulit
- Mengingkatkan laju detoksifikasi
- Mengurangi sakit kepala dan migrain
- Meningkatkan pengaturan tekanan darah
- Menurunkan risiko diabetes dan meningkatkan kondisi diabetes

Cara memasak beras merah dengan rice cooker :

1. Cuci beras merah dengan air mengalir dan bersihkan kotoran yang bercampur di dalam-nya
2. Masukkan beras merah ke dalam rice cooker dan tambahkan air bersih dengan perbandingan air dan beras = 3:1 atau 2:1 (tergantung rice cooker anda).
3. Biarkan campuran tersebut di dalam rice cooker selama 30 menit sebelum memasaknya.
4. Nyalakan rice cooker, biarkan hingga matang. Sebelum dihidangkan, aduk nasi.

Sumber Tulisan : Buku real Food True Health halaman 23 – 29. Tulisan Dr. Ir. Muhammad Ahkam Subroto, M. App. Sc.

MANFAAT BERAS MERAH


Jenis – jenis beras dan manfaatnya


BERAS

 

Ada 3 jenis beras yang ada di dunia ini:

  1. Beras Putih

Umum ditanam oleh petani kita dan nasinya sudah biasa kita makan sehari-hari

  1. Beras Merah atau brown rice

Yang saat ini umum dijual di pasaran dan yang biasa dimasak diwarung – warung sego abang

  1. Beras Hitam

Yang hanya tumbuh dan dibudidayakan di daerah tertentu saja. Beras Hitam hingga kini masih sering disebut sebagai “Forbidden Rice” karena jaman dulu beras ini khusus di konsumsi keluarga bangsawan dan kerajaan saja dan masyarakan umum dilarang mengkonsumsi beras ini. Namun yang jelas, beras hitam ini memiliki keistimewaan-keistimewaan diantaranya selain rasanya yang enak, pulen dan wangi juga memiliki kandungan mineral atau antosianin atau yang lainnya yang sangat baik untuk kesehatan.

 

Beras Hitam

  • Merupakan varietas lokal yang memiliki rasa dan aroma yang baik dengan penampilan yang spesifik dan unik.
  • Bila dimasak warnanya menjadi pekat dengan rasa dan aroma yang menggugah selera makan.
  • Penelitian sejak tahun 2003 menunjukkan dari persilangan BP140F x Silugonggo yang warna berasnya merah salah satu galurnya menghasilkan butir beras berwarna ungu kehitaman walaupun jumlahnya sedikit (±10%). Hasil persilangan ini berumur genjah (90-100 hari), tinggi tanaman 90-100 cm dengan penampilan mirip tetuanya Silugonggo.
  • Beras hitam yang oleh masyarakat Indonesia kadang disebut sebagai beras wulung, beras jlitheng atau beras gadog bukanlah ketan hitam.
  • Beras hitam memiliki khasiat yang lebih baik dibanding beras merah atau beras lainnya.
  • Anda yang mengkomsumsi nasi hitam akan merasa kenyang lebih lama
  • Di Bogor ada rumah makan yang menyediakan nasi beras hitam.

 

Beras hitam adalah legenda.

  • Beras hitam dahulu hanya boleh dimakan oleh kalangan tertentu. Sultan, Bangsawan, Ningrat, Tetua Adat.
  • Bahkan di beberapa daerah hanya boleh dimakan pada ritual-ritual tertentu saja dan tentunya hanya orang-orang tertentu yang boleh menanamnya.
  • Sultan Jogja dan Sultan Cirebon masih mengonsumsi nasi hitam sebagai menu utama sehari-hari hingga saat ini.
  • Dimasa Cina kuno beras yang kaya nutrisi ini hanya boleh dikomsumsi oleh kalangan istana saja.
  • Suku Baduy, Sasak dan Toraja memiliki adat dan ketentuan yang ketat terkait dengan penanaman dan penggunaan beras hitam.
  • Di Indramayu petani sepuh masih tidak berani menanamnya karena Pamali.
  • Di Korea beras hitam menjadi bagian penting dalam pemeliharaan kesehatan karena kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan

 

Apa bedanya dengan beras biasanya?

Memang warnanya hitam keunguan tapi bukan itu intinya, khasiat yang terkandung di balik pigmen warna hitam yang pekat itulah yang membuat tanaman ini begitu istimewa karena kandungan Antioksidan, flavonoid, asam amino dan berbagai macam kandungannya sangat baik bagi kesehatan.

 

Bagaimana rasanya ?

Kebanyakan suplemen atau herbal memiliki rasa yang kurang enak dan kadang pahit. Beras hitam justru sangat wangi dan lebih pulen dibandingkan beras biasa. Kaisar Cina tidak salah memilihnya sebagai beras upeti, demikian pula kaum bangsawan di negeri kita. Selain khasiat, rasanya juga super.

Merasa pola makan atau pola hidup Anda kurang sehat?

Hati-hati! Tidak sakit bukan berarti sehat, karena kebanyakan penyakit gaya hidup bersifat laten dan diam-diam membangun kekuatan. Tanda hanya muncul ketika segalanya sudah terlambat. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

 

Herbal yang ideal?

Hidup sehat dengan makanan yang sehat sepertinya semakin berat di zaman yang serba cepat dan instan ini. Maka kami berjuang untuk membuat produk sehat, ramah lingkungan, namun mudah dikonsumsi dan disukai masyarakat dan tentunya harga yang terjangkau! Beras hitam dapat juga dimakan bersama lauk-pauk seperti nasi biasa. Namun sebelum menanak harus direndam selama 2 jam karena lebih keras dan agak lengket. Aroma nasi hitam yang tajam dan kuat mungkin kurang cocok bagi sebagian orang yang belum terbiasa.

 

Anda sedang beruntung!

Anda tidak perlu menjadi bangsawan/ningrat untuk rutin mengkonsumsi beras hitam, juga tidak perlu menguras kocek untuk mendapatkannya, apalagi repot menanak beras hitam yang harus direndam dahulu. Malah Anda termasuk orang yang lebih dahulu mengetahui khasiat sang Legenda

 

Veritas Beras Hitam:

ü  Beras gadog subang

ü  Beras jowo melik

ü  Beras cempo ireng

ü  Beras hitam Rantepao (paling cepat terasa khasiatnya)

ü  Beras hitam lainnya

 

Kelebihan, khasiat dan kandungan Beras Hitam:

  • Beras hitam mengandung zat besi tinggi yaitu 15,52 ppm, jauh lebih tinggi dibanding beras dari varietas IR64, Ciherang, Cisadane, Sintanur, Pandanwangi, dan Batang Gadis yang kandungan besinya berkisar antara 2,9-4,4 ppm. Zat besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan sel darah merah untuk mengatasi anemia
  • Menurut penelitian di Cina kadar Vitamin, Mikroelemen dan Asam Amino pada beras hitam lebih tinggi dari semua jenis beras.
  • Warna yang kurang menarik ini justru menunjukkan bahwa pigmen beras hitam ini tinggi. Pigmen ini mengandung aleron dan endospermia yang menghasilkan antosianin zat turunan polifenol yang berguna sebagai zat antikarsinogenik, meningkatkan kadar trombosit dan antioksidan tinggi. Kandungan zat flavonoid lima kali lipat lebih tinggi dari beras biasa yang bisa mencegah pengerasan pembuluh nadi dan asam urat.
  • Khasiat beras hitam dibuktikan oleh ilmuwan memiliki kadar antioksidan berupa antosianin (anthocyanin) yang berfungsi melindungi sel-sel tubuh dengan mengikat radikal bebas yang bisa merusak sel tubuh.
  • Dalam ilmu pengobatan Tradisional Cina beras hitam memiliki khasiat pengobatan dan kesehatan bagi fungsi ginjal.
  • Berbagai studi iptek modern belakangan ini menunjukan bahwa beras hitam kaya serat, asam-asam amino, mineral, vitamin, antioksidan dan nutrisi lainya.
  • Beras hitam ini juga memiliki kadar karbohidrat yang lebih rendah dari beras biasa dengan kandungan zat besinya yang cukup tinggi.
  • Melalui proses fermentasi Inkubasi kandungan yang ada dalam beras hitam ini bisa ditingkatkan sehingga menghasilkan daya kerja yang lebih optimal. Hal ini terbukti dalam hasil tes laboratorium produk Bioactiva, dimana salah satu bahan bakunya adalah beras hitam.  Kandungan lainnya yang terdapat dalam produk Bioactiva antara lain: Asam Amino, Mineral, Antioksidan, Enzym yang berguna untuk membantu proses metabolisme lemak dan karbohidrat untuk menghasilkan energi sehingga kadar gula dalam darah terkontrol
  • Beras hitam ini juga dapat memperlambat proses penuaan (antiaging), mengendalikan berat badan karena kandungan karbohidratnya hanya 74,81%, lebih kecil dibandingkan beras putih yang 78,9%
  • Hasil penelitian Jung Yun Kim, Min Hee Do, Sang Sun Lee menunjukkan bahwa beras hitam memiliki efek cardioprotektif. (Annals of Nutrition and Metabolism 2006;50:347-353). Antosianin juga dikatakan mempunyai sifat antikarsinogenik, memberi perlindungan kepada kardiovaskular, menjaga kadar gula dalam darah, khususnya bagi penderita kencing manis, mencegah penyakit saluran kencing dan menghambat serangan bakteria Helicobacter pylori yang menyebabkan masalah lambung, kanker perut dan radang usus.
  • Selain aspek kesehatan antosianin digunakan secara luas untuk menjaga kesehatan kulit dan mencegah penuaan dini dengan membentuk kolagen baru karena pada saat yang sama ia juga mampu meningkatkan efek vitamin C dan E untuk mengembalikan keremajaan kulit.(Harian Metro Online Jumat, 08 Jun 2007)
  • Menurut para ilmuwan, lebih dari 10.000 radikal bebas menyerang sel – sel badan kita setiap hari. Radikal bebas dapat mempercepat proses penuaan dan meningkatkan resiko penyakit seperti jantung, stroke, kencing manis, arthritis dan kanker. Untuk mencegah kerusakan tubuh akibat serangan radikal bebas diperlukan senyawa yang disebut antioksidan. Anti oksidan adalah senyawa yang mampu mendonorkan elektronnya untuk menetralkan sifat merusak dari radikal bebas.(Harian Metro Online Jumat, 08 Jun 2007)

Sumber radikal bebas antara lain :

-    Makanan tidak sehat

-    Makanan berlemak, digoreng dan hangus (seperti kepingan hitam pada sate atau ikan bakar)

-    Minuman beralkohol

-    Rokok

-    Bahan kimia toksik (seperti racun serangga)

-    Sinar UV

  • Beras hitam sangat ahli dalam mengerjakan tugas seperti:

-       Membersihkan racun dan toksin dari dalam tubuh (detoksifikasi)

-       Membantu memelihara ketahanan tubuh (imunitas)

-       Membantu memelihara keseimbangan sistem organ dan hormon

 

Mungkin Anda sudah sering mendengar kalau beras merah mempunyai manfaat baik untuk kesehatan kita. Tapi kini kita bisa menemui beras hitam yang bisa mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit seperti:

-    Leukemia -    Asma -    Masalah kewanitaan
-    Diabetes -    Ginjal -    Mengurangi peradangan
-    Kegemukan -    Hepatitis -    Memperbaiki kerusakan sel hati
-    Kanker -    Anemia -    Meningkatkan daya tahan tubuh
-    Kolesterol -    Masalah pencernaan -    Memperlambat proses penuaan
-    Maag -    Alergi -    Sebagai antioksidan
-    Mengeluarkan racun (detoksifikasi) -    Mencegah turunnya kadar trombosit -    Mencegah pengerasan pembuluh darah nadi
-    Mencegah asam urat -  

 

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI!

BUKTIKAN SENDIRI LEGENDANYA!

Telah terbukti dan dipercaya oleh Sultan, Kaisar, kaum bangsawan dan Tetua Adat selama

ribuan tahun, dan tetap dipertahankan hingga kini!

 

ANALISIS PROXIMAT DARI BERBAGAI JENIS BERAS

NO

NAMA BAHAN

ENERGI (KKAL)

PROTEIN (GRAM)

KARBOHIDRAT (GRAM)

LEMAK (GRAM)

SERAT (GRAM)

1

Beras hitam

351

8

1,3

76,9

20,1

2

Beras merah

352

7,3

0,9

76,2

0,8

3

Beras putih

357

8,4

1,7

77,1

0,2

5

Ketan hitam

360

8

2,3

74,5

1

4

Ketan putih

361

7,4

0,8

78,4

0,4

             
             
             
             
             
             
             
             
             
             
             
             

Dari tabel diatas terlihat bahwa kandungan serat beras hitam sangatlah tinggi jika dibandingkan dengan beras putih. Serat sangat berpengaruh dalam pengaturan kadar gula darah bagi penderita diabetes mellitus.

 

Deskripsi Padi Hitam Purwokerto:

  1. Tinggi tanaman 130 – 140 cm
  2. Umur tanaman120 hst
  3. Warna kulit gabah hitam
  4. Bisa ditanam di dataran rendah – tinggi
  5. Jumlah bulir per malai 120 – 150
  6. Tahan terhadap hama dan penyakit
  7. Potensi hasil 5 – 6 ton/ ha
  8. Nasi agak bulat, pulen dan kenyal
  9. Beraroma wangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana cara kita melestarikannya?

Kita mulai dari diri kita sendiri yaitu dengan mulai membudayakan dan  mengkonsumsi beras hitam. Dengan demikian kebutuhan atau permintaan akan beras hitam meningkat dan pada akhirnya akan memotivasi petani untuk menanamnya sehingga lestarilah beras hitam warisan nenek moyang. Karena sekali punah maka plasma nutfah beras hitam tersebut tidak akan bisa kembali.

 

1 pack Benih padi hitam dari Purwokerto berisi 2 Kg, dengan harga Rp.75.000/pack

Jika anda minat bisa langsung SMS maspary di 0812 2630 297

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.822 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: